
Tante Dewi benar-benar tidak bisa mengelak lagi karena semua bukti sudah tertuju padanya, tetapi raut wajah tante Dewi sangat lah santai seperti tidak ada rasa bersalah.
"Nona" semua berteriak ketika tiba-tiba saja Mona yang lagi berdiri, jatuh pingsan, ini karena Mona terlalu memendam emosinya.
Semuanya panik, kecuali tante Dewi dan Lukas. Mereka merasa masalah ini sudah selesai.
"Kenapa lagi itu anak" ucap tante Dewi.
"Paling hanya berpura-pura, dia sudah lelah melawan kita" ucap Lukas sambil tertawa ringan.
Gavin memerintahkan Dirgo untuk berjaga-jaga disekitaran rumah mewah Mona, menjaga agar tante Dewi dan Lukas tidak kabur dari rumah, karena peradilan diantara mereka belum selesai.
Gavin mengendong Mona ala bride style, kedalam kamar mereka.
Kemudian Gavin membaringkan Mona diranjang queen size tersebut.
Hari juga sudah menujukan tengah malam.
Friska meminta tante Dewi dan Lukas untuk beristirahat terlebih dahulu, jika sampai mereka berani kabur, Friska menjamin bahwa hidup tante Dewi dan Lukas akan dalam penjara untuk mempertanggung jawabkan itu semua.
Friska juga memberitahu bahwa disini pelindung Mona yang sangat kuat ada disini, tetapi bukan Mona yang terkuatnya.
Hanya satu kalimat saja dia keluarkan, maka kalian tidak ada apa-apanya begitu lah ucapan Friska.
Saat itu omongan Friska dianggap gila oleh tante Dewi dan Lukas, tetapi Friska lebih kuat mengancamnya, dan setidaknya membuatnya mematuhi sedikit.
*****
Dikamar Mona.
Gavin berjaga disaat Mona belum sadar, Gavin melihat raut wajah Mona berubah, seperti menahan tangis dan kekecewaannya.
"Papa, mama" teriak Mona ketika dia terbangun secara tiba-tiba.
"Sudah kamu tidur lagi, besok lagi kita bahas semuanya, tenang aku selalu bersamamu, tidak akan meninggalkan mu!" Ucap Gavin melihat wajah Mona, seakan tau apa yang dipikirkan Mona ketika Mona menatap wajahnya.
Mona pun kembali untuk posisi tidur, tetapi dia pun tidur masih dalam kondisi gelisah.
Gavin pun segera ikut tidur.
*****
Paginya, perang pun dimulai lagi.
__ADS_1
"Tante, Mona sudah ambil keputusan"
"Keputusan apa yang kamu ambil, apa akan memberikan perusahaan itu untuk tante" tanya tante Dewi dengan sinis, dia tidak berbaik-baik lagi dengan Mona.
Mereka semua berkumpul diruang tamu.
"Tante sudah menjadi orang yang sangat jahat, keji terhadap keluarga sendiri, bahkan sampai saat ini pun tidak ada sedikit penyesalan di wajah tante atau perkataan maaf!"
"Cih, untuk apa, harusnya kamu yang minta maaf karena sudah mengambil hak ku" jawab Tante Dewi dengan sadisnya.
"Hahahahaha, aku tidak perduli akan hal lain, iya kan sayang" jawab tante Dewi dengan bertanya juga ke Lukas.
"Iya sayang" jawab Lukas dengan gaya soknya.
"Tante sudah banyak menggunakan uang perusahaan, dan tante juga membayar orang-orang suruhan tante dengan uang itu kan" bentak Mona.
Dari jauh bik Surti dan Pak Parto melihat pertikaian ini.
"Jahat sekali nyonya Dewi, sungguh orang yang keji" bisik bik Surti.
"Iya, aku juga sangat tidak suka dengan nyonya Dewi" bisik pak Parto.
*****
"Tante terlalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang bukan hak tante" ucap Mona dengan nada tinggi.
"Aku sungguh sangat membenci tante" lirih Mona.
Gavin melihat Mona dengan sangat prihatin, sungguh Mona wanita yang baik, tetapi mengapa mempunyai tante yang begitu jahat.
"Sungguh anda sangat tidak tau diri, anda harusnya bersyukur saat ini kami tidak menyeret anda kepenjara" ucap Gavin yang tiba-tiba membuka suaranya.
"Hei kamu siapa berani ikut campur" ucap Lukas, dia merasa saat ini Dewi lah yang benar.
Brukkkk! Pipi Gavin ternyata ditonjok oleh Lukas. Lukas bak pahlawan membela Dewi.
"Kamu" ucap Dirgo dengan emosi karena melihat bosnya main dipukul.
"Tahan Dirgo" ucap Gavin dengan tangan menahan Dirgo.
"Siapa sebenarnya dia ini" batin Tante Dewi. Melihat Dirgo dari atas sampai bawah.
"Kau hanya supir dirumah ini, cukup kau diam saja, duduk disini" ucap tante Dewi yang juga kesal karena Gavin membuka suara.
__ADS_1
"Saya suami Mona, saya berhak membela istri saya!"
"Oh, sudah berani kamu!" Ucap tante Dewi.
Mona hanya duduk diam dengan airmata yang terus mengalir, disampingnya ada Friska yang membantu menenangkan Mona.
"Saya sudah muak melihat kalian begini, Mona! Saya ambil alih!" Gavin meminta izin Mona untuk mengurus ini.
Mona hanya menganggukkan kepalanya, memberi jawaban "iya".
"Beraninya kau" ucap tante Dewi.
Lukas pun semakin ingin memukulkan 1 pukulan lagi ke wajah ganteng Gavin.
"Tante belum tau, jika Gavin menyebutkan 1 kalimat perintah saja, tante dan om Lukas mungkin bisa tidak menghirup udara segar lagi!" Ucap Friska.
"Memang siapa dia?"
"Hanya orang rendah begini, punya kuasa apa dia??" Tante Dewi meremehkan Gavin.
"Dirgo" ucap Friska memanggil Dirgo.
"Katakan"
"Ini bos saya, Tuan Gavin Alvaro Vilar yang selama ini sangat jarang menampakkan dirinya kepada orang luar" ucap Dirgo yang mengerti apa yang Friska inginkan.
"Hahahhahaha, keluarga Vilar! Orang ini bermimpi? Mana mungkin keluarga Vilar ada disini?" Ucap Lukas dengan gayanya yang sok.
"Hei, sudah berikan Mona untuk jadi istri kedua ku saja!" Ucap Lukas dengan tidak sopannya.
"Dewi istri pertama ku, lumayan dapat 2 sekaligus"
"Iya kan sayang" ucap Lukas.
"Terserah kau" jawab Dewi yang ternyata terlalu mengikuti kemauan Lukas.
"Beraninya kau" ucap Gavin, dengan tangan sudah dikepal siap diarahkan kewajah Lukas.
Tetapi Gavin teringat untuk tidak menambah masalah, jadi dia menahan emosinya.
"Dia bilang apa tadi, dia tuan besar Vilar, hahaah, supir yang bermimpi ketinggian" ucap Tante Dewi.
Gavin masih saja menahan emosinya melihat Lukas dan Tante Dewi merendahkan dia.
__ADS_1