
Hari Mona diperbolehkan pulang oleh dokter, tetapi sebelum dia pulang dia sangat ingin bertemu dengan Tasya. Tetapi saat dia dan Friska mencari keberadaan Tasya, anak kecil itu tidak ditemukan lagi dirumah sakit itu, Mona merasa sangat sedih.
"Kemana Tasya" tanya Mona pada Friska.
"Saya juga tidak tau nona" ucap Friska sedikit merasa bersalah.
"Tunggu ya nona" Friska berlari ke arah counter penjagaan perawat untuk masing-masing lorong rumah sakit.
"Suster, mau tanya anak kecil usia kira-kira 5 tahun atas nama Tasya penderita kanker darah kemana ya? Atau diruang mana?" Tanya Friska ke salah satu suster jaga.
"Bentar saya cek dulu" suster itu membolak balikkan buku pasiennya.
"Oh, Tasya sudah pindah rumah sakit, diluar negeri lagi bu" ucap suster tersebut.
"Ok, terima kasih atas informasinya!" Ucap Friska mengundurkan diri dari depan suster tersebut.
"Nona, Tasya sudah dibawa keluar negeri, tapi untuk tindakkan apa saya tidak tau!" Ucap Friska memberi laporan kepada bosnya.
"Oh, ya sudah kita pulang! Gavin tidak bisa menjemput hanya Dirgo saja yang datang!" Ucap Mona yang telah dikabarin oleh Gavin.
"Apa Dirgo, aduhhhh aku bagaimana ini" merasa canggung terhadap Dirgo karena entah perasaan apa yang dia miliki semenjak lebih akur dengan Dirgo.
"Kamu kenapa terlihat tegang?" Tanya Mona.
"Tidak kenapa-napa nona" ucap Friska, berharap agar Mona tidak bertanya banyak lagi.
__ADS_1
Tidak perlu menunggu lama, Dirgo pun telah sampai, langsung mengarahkan mereka ke mobilnya.
"Nona siap?" Tanya Dirgo.
"Siap" jawab Mona dengan senyum cantiknya.
Friska malah membuang mukanya, tidak ingin bertatap muka langsung dengan Dirgo.
"Hei, kenapa lagi cewek gila ini" batin Dirgo. Dan kemudian dia menjalankan mobilnya.
1 jam perjalanan mereka pun sampai lah di istana mewah Gavin.
Disana para pelayan telah berbaris lurus memyambut Mona.
Mona tentunya akan memberikan senyum tercantiknya, beda halnya dengan Rebeca atau mama Vany yang akan memberikan muka kesombongannya.
"Kamu membawa siapa lagi, anggota mu?"
"Ma" ucap Mona lembut.
"Ini asisten Friska, orang kepercayaan Mona!" Ucap Mona dengan suara lembut.
"Saya asisten Friska, nyonya" Friska dengan sopan memperkenalkan dirinya.
"Saya tidak butuh perkenalan diri mu" ucap mama Vany dengan kasar.
__ADS_1
"Aduh gila ini orang tua, sadis" batin Friska.
"Kasihan juga si cewek gila ini digitukan sama nyonya besar!" Batin Dirgo yang masih berada dibelakang mereka.
Setelah itu mama Vany segera pergi kekamarnya ketika sudah melihat Gavin yang berjalan masuk pintu besar.
"Sayang" sapa Gavin disamping istrinya yang masih terlihat kurang segar atau bisa dibilang masih lusuh.
"Dirgo, kau bawa Friska kekamar yang sudah disediakan pelayan" perintah Dirgo.
"Apa tuan, kenapa harus saya??" Sambil menunjuk dirinya, Dirgo sendiri sedang merasa harus menjaga jarak dari Friska, karena setiap melihat wajah Friska sepenuhnya dia merasa jantungnya berdebar sangat kuat.
"Iiihh, apaan si orang itu, aku juga enggak butuh dia" batin Friska.
"Kau menolak atau kau mau mengantar istri ku" tanya Gavin dengan muka nakal.
"Aku antar nona saja" ucap Dirgo dengan cepat.
"Berani kamu selangkah mengantar istriku tanpa perintah dari ku, maka kamu tau apa yang akan terjadi" ucap Gavin, dibumbuhi becanda dengan senyum jahat Gavin.
"Agh, maaf tuan! saya salah, saya antar Friska deh!" Ucap Dirgo dengan malasnya.
Mona dan Friska hanya terkekeh saja melihat mereka.
"Sayang ayo ke kamar" ucap Gavin dengan lembut kemudian memeluk pinggang Mona dengan eratnya, sesekali mencium pipi Mona.
__ADS_1
"Tuaaaannn! Kami jomblo merana melihat tuan begitu" batin Dirgo.
Friska melihat kemesraan Gavin juga sangat berharap suatu saat dapat suami yang begitu menyayanginnya.