Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
42. Mona Cemburu


__ADS_3

Didalam perjalanan pulang dimana hari sudah menunjukkan siangnya. Mona terdiam didalam mobil tanpa bersuara menatap kedepan saja.


"Kamu kenapa kelihatan cemberut terus?" Tanya Gavin yang sama sekali enggak tau jika Mona begitu hanya karena Gavin berbicara dengan seorang wanita.


Friska yang mengetahuinya hanya cekikikan melihat kedua bosnya berbicara.


"Kamu jika kenapa Friska" tanya Gavin melihat kebelakang dengan kaca mobil tengahnya.


"Oh, tidak tuan" Friska langsung membenarkan beberapa buku dipangkuannya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Masih mau diam kah?" Tanya Gavin, Mona tidak bergeming dan diam saja.


"Mau makan siang, aku lapar!" Ucap Gavin sambil mencari sebuah tempat makan.


Mona hanya mengangguk saja.


Gavin menggaruk rambut dikepalanya dengan frustasi.


Friska pun semakin terkikikan didalam hatinya, dia tidak berani menampakkan langsung karena takut Gavin akan bertanya lagi, dia takut tidak bisa memberikan jawaban.


"Disini ya" ucap Gavin memarkirkan mobil disebuah kedai makanan sea food.


Mona dengan cepat membuka pintu mobilnya keluar sendiri dan disusuli oleh Friska.


Gavin mengambil tas dibelakang jok dia dan mengambil sehelai pakaian, dia mengantinya terlebih dahulu.


Kemudian dia segera berlari keluar mengejar Mona.


"Mau makan apa?"

__ADS_1


"Hei, kenapa diam terus?" Tanya Gavin.


"Saat ini aku tidak tau perut mu ingin melahap apa?" Ucap Gavin lagi membujuk Mona.


Gavin membolak balikkan buku menu.


"Ok, aku pesankan kamu ya" akhirnya Gavin yang memesan semua makanan siang ini.


Dan ketika makanan datang, Mona pun dengan begitu cepat mengambil makanan kesukaan dia, karena disana ada udang panggang.


Gavin benar dibuat heran dengan kelakuan ajaib Mona hari ini.


"Ada apa dengan Mona sebenarnya, kenapa dia begitu menyebalkan hari ini, mengunci mulutnya dengan rapat tidak mau bersuara!" Batin Gavin.


Setengah jam kemudian mereka pun selesai makan, lagi-lagi Mona dengan cepat berjalan menunjuk mobilnya ketika Gavin sudah menekan tombol remot untuk membuka kunci pintu mobil.


"Friska dari tadi saya ingin bertanya, bos kita ini kenapa?" Friska pun kaget, karena Gavin menanyakan hal itu padanya.


Mona menarik nafas dan membuangnya kasar.


"Hm" ucap Mona saja, karena dia tau jika Gavin sudah berubah ke aslinya dia akan lebih menyeramkan daripada Gavin si supir.


"Baiklah, Friska katakan" ucap Gavin tegas sebelum menyalakan mobilnya.


Friska pun dengan takut-takut membuka suaranya.


"Katakan saja Friska" ucap Mona dengan suara santainya tetapi tetap menatap kedepan.


Dengan perintah Mona, Friska pun lebih berani bersuara.

__ADS_1


"Begini tuan, tadi dihotel kami melihat tuan berbicara dan bercanda dengan seorang wanita" ucap Friska dengan takut-takut.


"Lalu?" Tanya Gavin.


"Ya itu gara-gara itu saja tuan!" Ucap Friska yang sudah menjelaskan yang sebenarnya.


Sejujurnya Mona juga tidak tau mengapa dia merasa begitu kesal melihat Gavin bersama wanita itu, apa lagi bercanda.


"Dia Nila, teman sekolah ku dulu" ucap Gavin ke Mona.


"Apa kamu marah hanya karena itu?" Tanya Gavin lebih lembut.


Mona masih saja diam, kemudian Gavin pun meraih jari jemari Mona, mengenggamnya, disaat itu entah mengapa perasaan Mona begitu tenang, begitu nyaman.


Hingga Mona pun menoleh kearah Gavin.


"Senyum" ucap Gavin.


"Ayo senyum" ucap Gavin sekali lagi.


"Senyum buat Friska, anggap aku Friska" ucap Gavin. Membuat Mona ingin menyemburkan ketawanya jika membayangkan dia itu Friska.


"Kog jadi aku" batin Friska. Padahal saat itu Friska saja sudah merasa menjadi obat nyamuk, dia rasanya ingin keluar dari mobil, hanya tidak berani jika tidak diperintahkan.


"Hihihi" Mona akhirnya tercekikikan.


Mona pun memberikan senyuman tercantiknya.


"Nah gitu donk, kan makin cantik" ucap Gavin, membuat muka Mona merona merah.

__ADS_1


Akhirnya suasana mereka kembali cair seperti biasa, Mona pun melupakan masalah dia tadi yang melihat Gavin dengan wanita lain.


__ADS_2