
Pernyataan mama Vany soal anak membuat Mona kepikiran. Mereka juga sepakat tidak memberitahu mama Vany soal mereka yang 1 tahun belakangan.
Hanya saja kata-kata apakah Mona mandul membuatnya sakit hati, merasa sangat tidak berguna jika sampai itu terjadi.
"Mengapa mama begitu terhadap aku" ucap Mona lembut kepada Gavin yang sedang berada disampingnya diranjang yang sama.
"Sudah jangan dipikirkan, aku saja tidak memikirkan hal itu, bersama mu saja sudah membuat ku bahagia" ucap Gavin dengan lembut kemudian membelai rambut dikepala Mona.
"Tapi apa kamu mau menduakan aku atau meninggalkan aku, jika aku benar-benar tidak bisa memberimu anak" tanya Mona dengan serius.
"Tidak" tegas Gavin.
"Tentu tidak, dan tidak akan terjadi" ucap Gavin dengan tegas.
"Sungguh?" Tanya Mona.
"Apa kau meragukan cinta ku sayang?" Tanya Gavin.
"Aku tidak tau, kau begitu mempunyai segalanya, tentu wanita diluar sana mengantri untuk bisa bersama mu!"
"Aku saja bagaikan semut kecil buat kalian" ucap Mona dengan sedihnya.
"Tidak, jangan pernah berpikir begitu, kamu orang yang sangat aku butuhkan"
"Aku malah yang akan memohon pada mu untuk tidak meninggalkan aku!" Ucap Gavin dengan lembut.
"Aku enggak tau" ucap Mona.
__ADS_1
"Sudah lah kamu tidur saja jangan memikirkan itu semua!"
"Atau kamu mau" ucap Gavin dengan gaya nakal. Seperti ada niat tertentu.
"Aku mau tidur, hati aku lelah, rasanya ingin enggak punya hati saja dan pikiran" ucap Mona.
"Lalu kalau kamu enggak punya hati dan pikiran, siapa nanti yang mencintai aku dan memikirkan aku" tanya Gavin.
"Aku tidak tau" lalu Mona mengambil bantal dan menutup mukanya.
Mona merasa gelisah, dia sangat binggung harus bagaimana jika apa yang dikatakan mama mertuanya benar, padahal dia saja baru berhubungan layaknya suami istri beberapa minggu lalu dengan Gavin.
*****
Hari begitu cepat berlalu sekarang sudah pagi hari saja.
Mona sudah bangun terlebih dahulu dan meninggalkan Gavin yang masih tertidur nyenyak.
Tetapi didapur sudah ada Rebeca dan mama Vany sedang sarapan.
"Ma" sapa Mona.
Mama Vany hanya diam saja tidak menjawab sepatah kata pun. Padahal sebelum untuk kerumah mertuanya ini, Mona berharap dalam hatinya, jika mama mertuanya ini dapat menjadi mama yang baik untuk menganti mama dia yang telah tiada.
"Mau apa kau kesini" tanya Rebeca.
"Menganggu mood makan ku saja melihat mu" ucap Rebeca lagi.
__ADS_1
Mona malas berdebat dengan Rebeca dipagi hari dan disana ada mama mertuanya, dia tidak ingin menambah citra buruk dimata mama mertuanya.
"Aku mau masak buat Gavin" ucap Mona dengan santai.
"Ya tentu dia bisa masak, karena dia tidak kayak kita yang selalu dilayanin" sindir mama Vany.
"Mona suka ma, memasak sendiri" ucap Mona membela diri sekedarnya.
"Hei, kau sudah hamil belum?" Tanya Rebeca secara blak-blakkan.
Mona hanya memberikan senyum kecilnya.
"Sudah satu tahun lebih menikah, belum juga hamil, kemana rahim mu disimpan" ucap Rebeca dengan pedas, menusuk Mona.
"Jangan-jangan kau mandul" sindir Rebeca.
Mama Vany hanya cekikikkan melihat Mona diperlakukan begitu oleh Rebeca.
"Jika kau mandul, aku siap mengantikan mu untuk mengandung anak Gavin" ucap Rebeca dengan sombongnya.
Rasa didada Mona sudah memanas, ingin rasanya dia berteriak ke Rebeca untuk meluapkan emosinya, hanya saja dia masih bertahan dengan sedikit demi sedikit menahan emosinya itu.
"Aku hanya milik Mona dan kau atau pun orang lain dapat mengantikan Mona" ucap Gavin dari belakang tidak disadari oleh mereka semua.
Para pelayan yang didapur juga mendengar perdebatan itu, mereka merasa kasihan terhadap Mona.
"Ayo kita makan diluar hari ini sayang" ucap Gavin dengan menarik tangan Mona untuk Mona menjauh dari sana.
__ADS_1
Mona bersyukur Gavin datang tepat waktu.
"Aku harus lebih bersabar, menunjukkan aku tidak mandul" batin Mona.