Menikahi Supir Billionaire

Menikahi Supir Billionaire
36. Tante Dewi Sangat Kejam


__ADS_3

"Mana buktinya tante mencelakai orang tua mu?" Tantang tante Dewi.


Mona sangat kecewa pada tantenya, tetapi dia belum bisa membuktikannya, apakah itu benar apa salah, atau ada yang menjebak keluarga mereka.


"Kamu jangan sembarangan menuduh tante, atas dasar apa kamu menuduh tante begitu?"


"Tante benar-benar kecewa sama kamu, ponaan tante yang tidak tau diri" ucap tante Dewi dengan emosi.


Pada saat sekarang malah Mona yang terdiam dan duduk disofa, Gavin segera memegang bahu Mona, berharap Mona sabar.


"Tante sudah tidak bisa mengelak!" Ucap seorang wanita yang berjalan masuk menuju tempat mereka sedang berdebat.


"Friska" ujar Mona.


"Ini nona, datanya dan semua akurat, benar!"


"Apa" Mona memegangnya dengan gemetaran, dia sungguh tidak percaya jika itu semua perbuatan tantenya.


"Apa yang kalian bicarakan, kalian jangan mengalihkan pembicaraan" ucap tante Dewi dengan nada tinggi.


"Sudah lah tante mengaku saja perbuatan tante 3 tahun lalu bagaimana dan disini juga ada seorang lagi pelakunya" ucap Friska dengan sinis, menatap tajam bola mata tante Dewi, kini Friska sama sekali tidak takut diusir oleh tante Dewi.


"Jaga bicara mu, anak pelayan sialan" tante Dewi berniat menampar Friska tetapi tangannya ditahan seseorang.


"Dirgo" ucap Friska.


Dan yang lainnya pun semua melihat arah kedatangan Dirgo.


"Ini pasti ulah tuan Gavin" batin Friska


Hanya Mona yang saat ini tidak dapat berpikir secara jernih, dengan logikanya.


Mona menangis melihat data ulang tersebut.


"Ini tante, lihat ini" Mona memberikan data itu ke tante Dewi secara kasar.


"Tante pelakunya selama ini, mengapa tante lakukan ini!" Teriak Mona dengan tangisnya.


"Seharusnya seorang tante tidak berlaku begitu terhadap ponaannya, menjadikan ponaannya yatim piatu" bentak Mona.


"Hiks, hiks, hiks"


"Aku benar-benar tidak percaya tante yang melakukan ini" teriak Mona lagi.

__ADS_1


Disini hanya Gavin, Dirgo dan Lukas menjadi penonton saja.


"Siapa kamu berani melawan ku" teriak tante Dewi ke Dirgo.


"Hanya salah masuk rumah, iya kan bos" mengedipkan matanya ke Gavin.


"Hahahahahaahhaha"


"Sekarang kamu sudah tau Mona" tawa mengila tante Dewi.


"Iya, memang aku selama ini yang mencelakai kakak ku sendiri"


"Hahaha"


"Tapi itu salah papa mu"


"Mengapa dia merebut hak ku"


"Apa yang papa rebut dari tante hah"


"Jawab tante" teriak Mona.


"Kamu tau, kamu dan kamu" menunjuk-nunjuk kearah Gavin, Friska, Lukas dan Dirgo.


"Yang papa mu ambil dari ku adalah kasih sayang papa ku, harta papa ku" teriak Mona.


Semua yang disana tidak percaya dengan apa yang tante Dewi katakan, hanya karena itu tante Dewi berbuat jahat kepada saudaranya sendiri.


"Maksud tante, ini semua harta kakek yang papa ambil dari tante?"


"Tapi tante ini semua jelas dalam surat warisan kakek, bahwa ini milik papa" bentak Mona.


"Papa yang membangun perusahaan ini, ketika perusahaan ini sudah hampir jatuh bangkrut!"


"Papa mu hanya anak tidak tau diuntung" ucap tante Dewi dengan kasar.


"Papa kan saudara kandung tante, mengapa tante tega begitu"


"Papa mu bukan saudara kandung ku, kami beda rahim dia lahir dari wanita yang tidak dinikahi oleh papa ku secara sah!" Cerita tante Dewi.


"Itu bukan kesalahan papa, tante terlalu serakah!" Bentak Mona.


Mona semakin kaget, mendengar apa yang tantenya bicarakan, mengapa dia baru mengetahuinya sekarang.

__ADS_1


"Apa penculikkan yang terjadi pada Mona, tante juga yang merencanakannya" tiba-tiba saja Friska bertanya begitu.


"Wah, hebat otak mu, pertanyaan yang menarik" ucap Dirgo sambil menyenggol bahu Friska.


Friska hanya menatap tajam Dirgo.


"Apa ini semua" teriak Mona.


Tante pun terdiam sejenak mendengar pertanyaan Friska.


"Apa seorang tante yang baik ini tidak mau mengaku juga, atau ingin membantahnya" ucap Dirgo mengoda tante Dewi.


"Siapa kamu, ikut campur masalah keluarga ku, pergi" usir tante Dewi dengan kasar.


"Tidak, jika bos ku tidak memintaku pergi" ucap Dirgo santai.


Memang saat ini Dirgo diberikan kebebasan dalam membantu Mona.


"Masih tidak mau mengaku?" Tanya Dirgo.


"Atau aku perlu memberi mu bukti seperti yang tadi Friska bawa?" Ucap Dirgo seolah mengejek.


Tante Dewi tidak seperti orang yang takut atau pun memiliki rasa bersalah, sedangkan Lukas yang sedari tadi diperhatiankan oleh Gavin malah memiliki wajah ketakutan.


"Tante apa itu benar, tante juga yang ingin membunuh Mona waktu itu?" Tanya Mona.


"Tante sungguh orang yang keji, tega membuat itu semua, tidak cukup tante mencelakai papa dan mama ku, dan tante juga mau mencelakai diriku, ponaan tante sendiri!"


"Hahahahaha, aku tidak perduli" teriak Tante Dewi.


"Aku hanya ingin ini semua menjadi milik ku" ucap tante Dewi


Prok! Prok! Prok!


Bunyi tepuk tangan Dirgo, dia memanggil beberapa orang untuk membawa Yuanita kehadapan mereka.


"Ini lah bukti tante otak dari penculikkan" ucap Dirgo.


Friska sangat tidak percaya ini semua, sungguh ada manusia sekejam ini.


"Katakan" ucap Dirgo ke Yuanita.


"Maaf, nona! Saya memang disuruh oleh nyonya Dewi, otak penculikkan itu, saya hanya dijadikan kambing hitam, dan saat ini saya berani berkata karena saya ingin berterima kasih sama nona, karena sudah memberikan saya kehidupan lebih baik" ucap Yuanita.

__ADS_1


Tante Dewi menatap Yuanita dengan tidak percaya, bahwa Yuanita mengungkap itu semua juga.


__ADS_2