
Asisten Friska sedang berada dikamarnya, dia sedang membolak balikkan beberapa lembar kertas serta foto seseorang, walau saat ini dia tidak mendapatkan tugas khusus dari Mona.
"Begitu sulitnya mencari detail orang ini, siapa dia" ucap Friska dalam hati.
Friska memegang pulpennya kemudian digoyang-goyangkannya selayaknya dia berpikir.
"Argghh aku benar-benar penasaran, tetapi mengapa data orang ini sulit dicari, biasanya jika aku disuruh mencari data seseorang pasti langsung ketemu dan lengkap" batin Friska frustasi, dia mengacak-acak rambutnya, sakin dianya risau.
*****
Ditempat lain Mona sedang berenang dikolam renang rumahnya, disana Mona ditemanin oleh Gavin, tetapi Gavin hanya memantaunya dari pinggiran kolam.
"Aku bisa gila lama-lama disini" batin Gavin yang kini mulai risih karena dari tadi di pertontonkan lekuk tubuh Mona yang indah dengan pakaian renang yang super ketat itu, kaki jenjangnya yang halus mulus, rambut panjang yang terurai, menambah kecantikkan dari seorang Mona Kavitha Luis.
Sedari tadi Gavin meneguk salivanya sendiri, Sebagai suami dari Mona saja dia tidak pernah menyentuh Mona sedikit pun. Dia bukan lah lelaki bejat yang ingin seenaknya terhadap seorang wanita, apalagi wanita yang seperti Mona.
"Nona, boleh aku pergi" ucap Gavin yang kini berjalan sedikit mendekati Mona dipinggir kolam.
Mona menoleh dan dia mengacuhkan jari telunjuknya digoyang-goyangkan kearah Gavin menandakan dia tidak boleh pergi.
"Ya sudahlah Nona" jawab Gavin pasrah.
Gavin pun berjalan menjauh dari pinggir kolam.
Triiinggg!
Bunya hp Gavin, dia segera mengangkatnya.
Ketika lihat dilayar hpnya.
"Mama" batin Gavin.
Gavin berjalan sedikit menjauh dari Mona berenang.
__ADS_1
Mona yang melihat Gavin menjauh pun dia menghentikan gerakkan renangnya. Dia ingin tau siapa yang menelepon Gavin, sedangkan dari sejak dia menikah dengan Gavin, Gavin berkata dia tidak ada wanita lain selain mengenal Mona saja, mengingat itu membuat Mona merasa wajahnya panas, merona.
Tetapi dengan cepat-cepat Mona mengeleng-geleng kepalanya dia berkata pada dirinya sendiri "aduh! Apaan sih ini kepala, malah kepikiran Gavin" sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Ya, hallo ma" ucap Gavin.
Tadinya Gavin ragu mengangkat telepon dari mamanya.
"Kamu dimana sekarang, cepat pulang, mama kesepian" ucap sang mama.
"Apanya mama kesepian, dirumah sangat banyak pelayan yang menemani mama, termasuk anak kesayangan mu" ucap Gavin malas.
"Dia sedang berada diluar kota, kamu pulang lah, mama tidak akan menjodohkan kamu lagi" bujuk mamanya.
"Enggak, maaf" ucap Gavin dingin. Langsung menutup teleponnya.
Diseberang sana, mamanya sedang kesal dengan Gavin karena langsung saja mematikan teleponnya.
Gavin tau jika dia pulang, maka mamanya akan langsung membuat pertunangan dia dengan gadis pilihan mamanya.
Dia sangat tidak menyukai gadis tersebut.
"Mama Gavin menelepon" batin Mona, dia deg-degan karena selama ini belum pernah bertemu dengan orang tua dari Gavin, dan dimana rumah Gavin yang pasti saja dia tidak tau.
Mona pun akhirnya menyelesaikan renangnya, dia segera berjalan masuk kekamarnya.
"Nona" teriak Gavin melihat Mona tidak berada dikolam renang.
"Kemana dia" batin Gavin.
Gavin pun berlari cepat kearah kamar mereka, Gavin segera masuk kekamarnya.
"Keluaaaaarrrrrr" teriak Mona seketika. Dengan rasa deg-degan yang kuat, rasa malunya karena Gavin melihat tubuhnya begitu saja.
__ADS_1
Gavin yang kaget pun langsung keluar, karena dia juga tidak sengaja melihat Mona sedang melepaskan handuknya.
"Ya Tuhan, tolong aku, aku enggak kuat" batin Gavin sambil memegang dadanya.
Karena Gavin lelaki Normal yang selalu di uji imannya. Dia pun segera pergi menjauh dari kamar.
*****
Tok! Tok! Tok! Suara pintu kamar diketuk.
"Apa lagi" teriak Mona dari dalam kamar.
"Maaf nona, ini aku Friska" ucap Friska dari depan pintu.
"Oh, yak ampun Friska maaf!, Aku kira si Gavin" ucap Mona langsung membukakan Friska pintu dan menguncinya.
"Nona, saya curiga terhadap Gavin, dia sepertinya bukan orang biasa" ucap Friska pelan-pelan karena takut didengar oleh Gavin, Friska lupa jika kamar tuannya itu kedap suara.
Mona pun terdiam sejenak.
"Kenapa kamu bisa berpikir begitu" tanya Mona.
"Aku pernah mendengar percakapan Gavin dengan seseorang ditelepon, Gavin tertingkah layaknya dia bos dan nada bicaranya sangat berbeda sangat tegas dan dingin" ucap Friska.
Mona berpikir kembali jika dia juga pernah mendengar Gavin menelepon secara sembunyi-bunyi.
"Siapa dia" ucap Mona.
"Aku baru saja menyelidiki indentitasnya, tetapi tetap saja tidak ketemu lagi, seperti disembunyikan" ucap Friska.
Kedua wanita itu benar-benar berpikir ingin mencari tau sebenarnya siapa Gavin.
Mona bertambah penasaran terhadap Gavin yang tadi ditelepon oleh mamanya.
__ADS_1