
Sudah beberapa hari Mona dan Gavin berada di Paris, Mona sangat menikmati bulan madunya ini dan tentunya Gavin yang paling diuntungkan.
"Ayo" Gavin menyeret koper mereka.
Mona mengikuti Gavin, dia digandeng Gavin, dengan sebelah tangannya menyeret koper.
Lagi-lagi mereka menaiki jet pribadinya.
*****
Sampai lah mereka di istana mewah ini kembali.
"Akhirnya sampai juga, melelahkan" ucap Mona.
Gavin tersenyum mendengar Mona yang mengeluh lelah.
Para pelayan juga datang menyambut mereka dirumah.
"Sini nona, saya bawakan kopernya" ucap pelayan Dina.
"Terim kasih" ucap Mona dengan ramah.
"Sama-sama nona, sudah kewajiban saya!" Ucap pelayan Dina.
__ADS_1
Kepala pelayan Gou melihat pelayan Dina yang begitu melayani Mona, sangat bangga akan pilihannya.
"Tuan, ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya kepala pelayan Gou.
"Tidak ada, silakan lanjutkan tugas mu" ucap Gavin berlalu menuju kamarnya.
Mama Vany yang melihat para pelayan sibuk pun berjalan keluar dari kamar.
"Kenapa kalian ribut sekalia, hanya seekor semut yang pulang" ucap mama Vany sinis.
"Ma, istri ku namanya Mona, bukan semut" ucap Gavin tegas memperingatkan mamanya.
"Bagaimana bulan madu kalian" tanya mama Vany
Mona yang mendengar perkataan mertuanya, hatinya menjadi kecil, rasa percaya dirinya langsung hilang, rasanya sangat pedih bagi Mona mendengar itu.
"Cukup ma, mama berkata berlebih selalu kepada Mona, Mona ini manusia ma, semua diatur oleh yang kuasa!"
"Jika Mona belum hamil pun, aku akan menunggunya, jika tidak bisa hamil lagi pun aku akan menerimanya" ucap Gavin, dia sangat yakin akan perkataannya, dia tidak ingin melepaskan Mona.
"Tidak, aku ingin memiliki penerus keluarga Vilar, jika tidak semua ini untuk apa!"
"Kami bisa mengapdosi anak" ucap enteng Gavin yang tidak pernah terpikir oleh Mona.
__ADS_1
Kemudian Gavin mendekati Mona dan merangkul Mona, seperti memberikan Mona kekuatan. Mona hanya mampu tersenyum kepada suaminya itu.
"Cihhh"
"Kau munafik nak"
"Mama tau, kau pasti menginginkan anak kandung dari diri mu sendiri" mama Vany menatap mata tajam Gavin, mencari tau apa yang dia katakan itu benar.
"Menikahlah dengan Rebeca, dia punya segalanya dan tentunya dia bisa memberi mu keturunan"
"Tidak, terima kasih ma atas tawaran mu, aku akan tetap setia kepada istri ku!" Ucap Gavin dengan tegas dan dingin, kemudian mengenggam tangan Mona.
"Sudah ma, kami lelah ingin beristirahat" Gavin membawa Mona untuk meninggalkan mamanya.
Sambil berjalan menaiki anak tangga secara perlahan Gavin berkata kepada Mona
"Yang sabar ya sayang, yang kuat" Gavin juga tau kalau perasaan istrinya tidak lah baik. pasti Mona merasakan sedih, bukannya diberikan dukungan dari mama mertuanya, tetap selalu dijatuhkan.
Mona hanya mengangguk saja karena saat ini perasaan dia bercampur aduk. Baru saja dia merasakan bahagianya liburan dan beberapa waktu tidak melihat mama mertuanya membuatnya merasa tenang. Sekalinya mereka balik lagi kerumah itu, Mona merasa sedikit tertekan, seakan kebahagian kemarin tiada artinya lagi.
Mama mertuanya, selalu saja menjatuhkannya, tidak ada sedikit pun untuk membanggakannya, atau pun berkata baik kepada dia.
Sungguh hati kecil Mona ingin menangis hanya, bagi dia harus kuat. Dia pasti bisa melaluinya.
__ADS_1