
Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu mereka lalui bahkan bulan demi bulan mereka lewati. Sekarang kandungan Melissa sudah menginjak 4 bulan. Hari ini keluarga Immanuel mengadakan acara syukuran untuk 4 bulannya kehamilan Melissa. Mereka mengundang 500 anak yatim piatu untuk datang ke kediamannya Luciano yang super mewah dan luas itu.
Tentu saja dalam acara ini, Alano yang merupakan ayah Luciano tidak tinggal diam. Dia sudah memerintahkan para bodyguardnya yang berada di Italia untuk datang ke Indonesia untuk berpatroli selama acara syukurannya dilaksanakan. Dia yakin jika musuh akan menjadikan acara ini sebagai kesempatan untuk melukai putra, menantu dan calon cucunya.
Maka dari itu, dia membuat intruksi untuk memodrketat penjagaan di rumah putranya. Sementara itu, Melissa tengah dibantu merias diri bersama ibu mertua sekaligus kakak ipar di kamarnya sendiri. Eloisa ingin, menantunya terlihat sangat cantik dan bercahaya sepanjang acara itu berlangsung.
Acara ini benar-benar sangat mewah, mulai dari hidangan, dekorasi, dan lain-lain. Disaat istrinya sedang merias diri, berbeda dengan Luciano. Dia terlihat sangat sibuk mengatur acaranya agar tertib, mewah dan menarik.
****
Kediaman Yobelia ....
Setelah memasang alat pelacak dan alat perekam di mobilnya Luciano, kini Yobelia dengan mudah bisa mengetahui apa saja yang sedang Luciano dan keluarganya lakukan. Yobelia bahkan mengetahui tentang acara syukuran 4 bulanan atas kehamilannya Melissa. Dia tidak melewati kesempatan ini, wanita berbisa ini mulai mengatur strategi untuk tetap melukai Luciano di acaranya sendiri.
Seperti biasa, dia membayar seseorang untuk melancarkan aksinya. Kali ini dia menyewa seorang ibu rumah tangga yang sedang membutuhkan uang. Kini seorang ibu berusia sekitar 38 tahun, sudah berada di kediamannya.
Tanpa Yobelia ketahui, Danny sudah memasang kamera tersembunyi untuk merekam aksi istrinya. Tanpa menyaksikan secara langsung pun, Danny sudah bisa mengetahui dari ponselnya yang terhubung dengan kamera tersembunyi itu.
Di salah satu ruangan ....
Yobelia sedang duduk bertumpang kaki. Tatapannya mengarah pada ibu itu. Sedangkan ibu rumah tangga itu pun hanya menundukkan kepalanya. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan hal ini, akan tetapi demi anak-anaknya bisa makan, dia rela mengerjakan tugas berbahaya ini asalkan anaknya tidak kelaparan.
"Kau yakin dengan keputusanmu, Bu?" tanya Yobelia sekali lagi.
Ibu rumah tangga itu mengangguk pelan. "Iya, Nyonya. Saya yakin, asalkan anak-anak saya tidak mati kelaparan," jawab ibu rumah tangga itu.
"Urusan itu tak perlu cemas, aku akan memberikan 55 juta, asalkan Ibu berhasil membuat Luciano tewas karena racun itu. Apa Ibu bisa?" tanya Yobelia dengan tatapannya yang tajam.
__ADS_1
"Saya bisa. Kalau perlu saya bisa menyamar," timpal ibu rumah tangga.
"Terserah mau menyamar atau tidak, yang saya inginkan Luciano mati! Saya ingin anak itu tidak memiliki seorang ayah!" Yobelia mulai kesal.
Matanya mulai berubah merah pekat, urat-urat tangannya terlihat menonjol. Serta napasnya yang berat menandakan jika dia sudah sangat kesal. "Sekarang, pergilah! Lakukan tugasmu!" Yobelia mengusir wanita suruhannya itu.
Di ruangan yang berbeda ....
Setelah mengetahui rencana Yobelia, dia pun berniat untuk menemui mantan istrinya untuk memberi tahukan rencana jahat istrinya. Tanpa sepengetahuan istrinya, Danny sudah pergi menggunakan sepeda motor agar tidak terjebak macet. Sementara itu, Yobelia merasa sangat senang karena sebentar lagi Luciano akan tewas. Dia tidak tahu jika saat ini anak buah Alano sudah memperketat penjagaan rumah putranya.
****
Sesampainya di kediaman Luciano, Danny turun dari motornya dan berjalan memasuki rumah Luciano. Namun, Danny dihadang oleh dua bodyguard dengan perawakan yang tinggi dan kekar itu. Danny tidak tahu, jika untuk masuk ke kediaman Luciano harus menunjukkan kartu undangannya, jika tidak ada maka tidak akan bisa masuk apapun alasannya. Selain itu, setiap tamu diperiksa ketat agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Karena tidak bisa masuk, Danny pun tidak kehabisan akal. Dia berniat untuk menghubungi mantan istrinya. Akan tetapi teleponnya tak kunjung diangkat. Karena tidak memungkinkan untuk bisa masuk, Danny hanya memiliki satu rencana yaitu mencuri racun yang wanita suruhan istrinya.
Brugh!
Danny pun menabrak wanita itu dan dengan gerakan yang cepat tanganya langsung mengambil racun yang berada di tasnya. Setelah itu, barulah Danny berpura-pura untuk membantu wanita itu. "Saya minta maaf, saya tidak sengaja." Danny menyodorkan tas wanita itu seraya menutupi wajahnya dengan topi baseball.
Setelah itu, Danny pergi meninggalkan kediaman Luciano. Sementara wanita itu tidak menyadari jika racunnya telah hilang dan diambil oleh Danny, suami wanita yang telah menyuruhnya. Wanita itu pun segera memasuki rumah itu dengan menyamar sebagai rombongan panti asuhan.
****
Kamar Melissa ....
Saat ini Melissa telah siap untuk menemui para tamu. Namun, sebelum keluar dari kamar, Luciano datang dan menarik pelan lengan istrinya. Setelah itu, Luciano mengunci pintunya terlebih dulu.
__ADS_1
"Mas, kok pintunya dikunci?" tanya Melissa dengan mengerutkan keningnya.
"Aku ingin bermain sebentar saja denganmu, Sayang." Luciano berjalan ke arah istrinya hanya sudah duduk di ranjang.
"Mas, acara sebentar lagi dimulai." Melissa menatap lekat suaminya.
"Ayolah, cuma sebentar saja. Habisnya istriku ini sangat cantik. Lagi pula aku sangat merindukan anak kita, aku ingin menjenguknya." Luciano menatap istrinya dengan tatapan yang sedikit nakal.
"Astaga, Mas. Masih sempat-sempatnya kepikiran buat main." Melissa hanya menggelengkan kepalanya.
Tanpa bicara sepatah katapun, Luciano mulai melucuti pakaiannya satu persatu. Setelah itu dia mengukung istrinya sembari mencium bibir ranum istrinya. Melissa pun tak tinggal diam, dia melingkarkan kedua tangan di leher suaminya serta membalas setiap ciuman yang suaminya berikan.
Setelah itu, Luciano melucuti pakaian istrinya. Perlahan Luciano mulai bermain di gunung kembar Melissa. Hal itu membuat Melissa menggeliat libcah bak cacing kepanasan. Dia pun tak tinggal tinggal, tangannya mulai meraih serta memainkan tongkat golf suaminya mulai dari tangannya hingga lidahnya.
Setelah puas saling bermain di benda kesukaannya, mereka pun mulai melakukan penyatuan sampai kurang lebih 40 menit. Selesai melakukan kewajiban suami istri, mereka pun terbaring lemas. Mereka beristirahat 10 menit untuk menghilangkan rasa capenya.
Tak lama kemudian, setelah 10 menit lewat, mereka pun mandi bersama dan kembali bersiap-siap. Kali ini Melissa dibantu merias oleh suaminya sendiri. Pada saat Melissa sedang merias wajahnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Luciano yang mendengar itu langsung membuka pintunya. "Kak Emma," panggil Luciano.
Ternyata orang yang mengetuk pintu kamarnya tidak lain dan tidak bukan adalah kakaknya sendiri. "Di mana istrimu?" tanya Emma.
"Mel sedang merias, Kak."
"Loh, bukannya tadi Mel sudah selesai meriasnya?" Emma mengernyitkan kedua alisnya.
Luciano hanya menjawabnya dengan cengengesan sembari memberi kode lewat tatapannya. Menyadari kode keras itu, Emma pun hanya menggelengkan kepalanya. "Ya sudah, kami tunggu di ruang utama. Para tamu sudah datang!" perintah Emma seraya pergi meninggalkan kamar adiknya.
__ADS_1
****