
Butik ....
Setelah beberapa menit kemudian, Luciano dan Melissa sampai di butik langganan ibunya Luciano. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, mereka pun keluar dari mobil. Kemudian mereka berjalan bergandengan memasuki butik.
Begitu mereka masuk, mereka di sambut hangat oleh para pelayan butik. Bagaimana tidak, jelas saja mereka disambut karena seluruh pelayan butik tahu siapa yang datang. Yup, orang itu adalah Luciano. Luciano adalah putra dari pemilik rumah sakit Immanuel dan juga orang yang sangat berpengaruh. Selain itu Luciano dan ibunya adalah pelanggan setia butik mereka.
"Silakan, Tuan-Nyonya." Salah satu pelayan butik berjenis kelamin wanita memberikan dua gelas minuman segar.
"Terima kasih," ucap Luciano seraya mengambil dua gelas minuman itu. Satu dia berikan kepada Melissa dan satu gelas lagi untuknya.
"Terima kasih, Mas." Melissa tersenyum seraya menerima segelas minuman itu dan meminumnya.
Setelah meneguk habis minumannya, mereka pun berjalan ke arah ruangan khusus baju pengantin. Diikuti oleh dua pelayan wanita. Kedua pelayan itu menunggu di belakang Luciano dan Melissa.
"Mbak, apa gaun pengantinnya tidak ada lagi yang lebih glamour?" tanya Luciano sembari melihat-lihat gaun pengantin yang terpajang.
"Ada, Tuan. Sebentar, saya ambilkan." kedua pelayan itu pergi untuk mengambil gaun pengantin yang Luciano inginkan.
"Mas, tidakkah yang ini glamour?" Melissa menunjukkan jari tengahnya ke arah gaun pengantin yang menurutnya indah.
"No, itu terlalu biasa. Aku ingin kau terlihat sangat cantik dan mempesona. Aku ingin semua para tamu terkesima melihat kecantikanmu, biarkan aku yang memilih rancangn gaun pengantin yang indah dan akan membuatmu terlihat bak ratu tercantik," ujar Luciano.
"Haha, sejak kapan Mas gombalin aku kek gini," Melissa terkekeh mereka mendengar ucapan calon suaminya.
"Ini bukan gombal, Sayang. Aku mengatakan apa yang harus aku katakan," timpal Luciano disertai gelengan kepalanya.
Tak lama kemudian, kedua pelayan tadi pun datang dengan membawa gaun pengantin yang Luciano inginkan. "Ini gaun yang Tuan inginkan." kedua pelayan itu menunjukkan gaun yang super glamour itu.
"Perfect! Aku ingin calon istriku ini mencobanya. Bantu dia mencoba gaunnya!" perintah Luciano pada kedua pelayan itu.
"Baik, Tuan. Mari, Nyonya." kedua pelayan itu mengajak Melissa ke ruang ganti.
Sementara itu, Luciano memilih jas yang akan dia kenakan di hari pernikahannya nanti. Tak lama kemudian, setelah beberapa menit lamanya, Melissa keluar dengan gaun yang dipilihkan oleh Luciano. Betapa terpesonanya Luciano ketika Melissa berjalan ke arahnya.
Kedua matanya tak berkedip. Luciano memandang Melissa dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kemudian dia bertepuk tangan disertai senyuman yang mengembang.
"Perfect! Sei bellissima!" Luciano memuji calon istrinya dengan mengatakan kau sangat cantik dengan bahasa Italia yang kental.
__ADS_1
"Mas, bagaimana? Apa gaun ini cocok untukku?" tanya Melissa dengan memandangi gaun yang melekat di tubuhnya.
"Tentu saja, seperti dugaanku. Kau sangat cantik, aku ingin kau memakai gaun ini di hari pernikahan kita," ujar Luciano.
"Kalau begitu, aku tidak perlu lagi mencoba beberapa gaun lagi?"
"Tentu saja kau harus mencoba beberapa gaun lagi. Tidak mungkin kau hanya memakai satu gaun saja. Aku ingin kau memakai gaun di pernikahan kita 5 gaun dengan warna dan desain yang berbeda. Jadi, kau harus mencoba beberapa gaun lagi," jelas Luciano.
"Yah, Mas! Banyak sekali, kenapa tidak 3 gaun saja?" keluh Melissa.
"No, aku ingin 5. Kau harus menurutinya," timpal Luciano.
"Okay, baiklah. Aku akan menurutimu, Dr. Tampan." Melissa mengerucutkan bibirnya.
Inilah yang paling Melissa tidak inginkan ketika fitting baju pengantin. Dia paling malas jika harta mencoba gaun beberapa kali. Cukup melelahkan harus bolak balik mengganti gaunnya, sedangkan dia adalah wanita yang tidak ingin ribet. Namun, mau bagaimana lagi ini sudah menjadi resiko seorang wanita jika akan menikah.
Melissa kembali ke ruang ganti untuk mencoba gaun yang selanjutnya. Seperti biasa, Luciano menunggu di luar. Kali ini dia menunggu Melissa dengan bermain ponsel. Selangor beberapa menit kemudian, Melissa keluar dari ruang ganti dengan gaun yang berbeda.
Melissa berjalan ke arah Luciano yang sibuk bermain ponsel. "Mas!" panggil Melissa setelah berapa di hadapan calon suaminya.
"Kau suka aku pakai gaun ini, Mas?" tanya Melissa dengan menatap Luciano.
"Tentu saja, kau sangat cantik mengenakan gaun ini." Luciano memegang bahu Melissa dan menatapnya dengan tatapan yang dalam.
Drrtt! Drrtt!
Tiba-tiba ponsel Luciano bergetar disertai nada dering. Itu menandakan jika ada orang yang menelepon. Dengan cepat dia merogoh ponselnya di dalam saku celana. Kemudian Luciano mengangkat teleponnya.
"Sayang, aku jawab telepon dulu ya," ucap Luciano pada Melissa. Dibalas dengan anggukan kepala oleh Melissa.
Telepon terhubung!
"Hallo," ucap Luciano setelah telepon tersambung. Kemudian dia berjalan ke luar butik.
"Hallo, Dr. Luci," terdengar suara seorang wanita dari seberang telepon.
"Iya, ada apa, Sus?" tanya Luciano pada suster.
__ADS_1
"Begini, Dr. Luci ... saat ini kami mendapat pasien yang memiliki luka parah pada kulitnya. Pasien ini harus segera mendapatkan penanganan dari Dr. Luci. Bisakah Dr. Luci datang ke rumah sakit sekarang juga?" jelas Suster.
"Baiklah, saya akan segera datang ke rumah sakit," ujar Luciano.
"Baik, Dr. Terima kasih."
"Sama-sama. Tutt!" Luciano mengakhiri teleponnya.
Telepon terputus!
Setelah bicara di telepon, Luciano segera menghampiri Melissa. Sesampainya di hadapan Melissa dia langsung mengatakan perihal kerjaannya. "Sayang," panggil Luciano.
Melissa menoleh ke arah Luciano. "Iya, Mas."
"Sayang, aku mendadak dapat telepon dari rumah sakit jika ada pasien yang membutuhkanku sekarang. Apa boleh aku pergi sekarang?"
"Iya, Mas. Pergilah," balas Melissa.
"Kau pulang sendiri tidak apa-apa 'kan?" tanya Luciano.
Melissa mengangguk cepat. "Iya, Mas. Jangan cemaskan aku, aku bisa pulang sendiri. Pasienmu lebih membutuhkanmu cepat tangani dia," jawab Melissa.
"Baiklah, kau bawa mobilku." Luciano memberikan kunci mobilnya.
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa pulang menggunakan taksi. Bukankah Mas sedang buru-buru pergi ke rumah sakit? Jadi, Mas pergilah, aku akan pulang dengan taksi online saja," ujar Melissa.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi ke rumah sakit sekarang ya. Nanti malam aku mampir ke rumahmu."
"Iya, Mas. Aku tunggu." Melissa tersenyum.
"Kau hati-hati di jalannya, aku pamit. Cup!" Luciano mengecup kening Melissa sebelum dia pergi
"Mas juga hati-hati. Semangat kerjanya," ucapan Melissa dengan nada yang sedikit tinggi.
Setelah kepergian calon suaminya, Melissa pun balik ke ruang ganti untuk melepaskan gaunnya. Namun, pada saat dia hendaklah berjalan menuju ruang ganti tiba-tiba ada yang memanggil namanya. "Melissa!" panggil seseorang yang berada di belakangnya.
****
__ADS_1