
Happy reading...
"Oh iya, sayangnya di sini kau sudah menandatanganinya bersamaan dengan surat perceraian itu turun beserta uang 100 juta yang aku berikan kepadamu." Melissa tersenyum licik.
"Apa!" Danny terlonjak kaget.
Danny dan semuanya kembali terlonjak kaget dengan ucapan Melissa. Yobelia menghampiri Danny. Dia menarik tangan Danny dan menatapnya.
"Katakan! Apa itu benar?" tanya Yobelia.
"Tentu saja itu benar, lihatlah kebungkamannya! Jika kau tidak percaya, kau bisa memastikan tandatangan ini!" Melissa menunjukkan surat itu pada Yobelia. Kemudian dia melipat kedua tangan di dada.
Yobelia pun memastikannya dengan seksama. Melihat dari tulisan tandatangannya, memang benar jika itu tandatangan Danny. Karena penasaran, Danny pun ikut memastikan itu.
Danny membelalakkan matanya dengan sempurna. "Jadi, pada saat Yuxian datang membawa uang dan surat perceraian itu--"
"Yup! Semua yang telah kau tandatangani adalah surat ini. Terlalu bodoh karena kau lebih memilih menerima uang 100 jutaku dibanding harta kekayaanmu sendiri. Miris sekali hidupmu, tidak pernah kuduga jika kau adalah pria yang bodoh yang aku temui di dunia ini." Melissa memojokkan Danny.
"Dasar wanita licik! Berani kau menipuku seperti ini!" Danny marah besar.
"Kau pikir aku wanita bodoh? Untuk apa aku memberikan uang 100 juta padamu? Apa yang aku dapatkan dengan memberikan uang itu, hah? Hanya wanita bodoh yang melakukan itu!"
Danny yang sudah berada di puncak kemarahannya, dia merebut surat itu dari tangan Yobelia dan merobek kertas itu di hadapan Melissa. Melihat itu, Dr. Luciano terlihat kesal dan menghampiri Melissa bersama Danny dan Yobelia. Pada saat Dr. Luciano hendak ikut campur, Melissa menarik lengan Dr. Luciano.
Melissa menggelengkan kepalanya. "Tenanglah, jangan bertindak gegabah. Percaya padaku," tutur Melissa disertai senyuman pada Dr. Luciano.
"Lihat ini, wanita licik! Sekarang kau tidak bisa mengancamku lagi. Surat ini sudah lenyap!" Danny tertawa puas. Dia pikir, dengan merobek surat itu, Melissa tidak akan mendapatkan kekayaannya.
__ADS_1
Melissa yang mendengar itu langsung tertawa puas. "Dasar bodoh! Apa kau pikir aku hanya punya satu surat ini? Jangan lupa, aku ini Melissa. Aku tidak bodoh seperti yang kau anggap selama ini. Aku masih punya surat ini bahkan sudah aku simpan di tempat yang aman. Aku akan memenangkan ini, aku akan membawa ini ke pengadilan dan mengambil hakku!" ancam Melissa dengan santai.
Ternyata, Melissa memeiliki surat ini lebih dari satu. Dia sudah menduga jika hal seperti ini akan terjadi. Dia yakin jika Danny akan melenyapkan surat ini untuk menyelamatkan semua hartanya. Sayangnya itu tidak berjalan mulus karena Melissa sudah menyimpan surat itu di tempat yang aman.
"Apa!" mata Danny membola dengan sempurna.
"Bersiaplah untuk kehilangan semua hartamu, mantan suamiku! Ayo, Sayang," ajak Melissa pada Dr. Luciano.
Dr. Luciano pun memegang tangan Melissa dan berjalan meninggalkan pelaminan. Namun, sebelum mereka sampai di pintu keluar, Tullia memanggil Melissa. "Tunggu, Mel!"
Mereka pun berhenti dan membalikkan badannya. "Apa kau memanggilku, mantan ibu mertua?" tanya Melissa tanpa ekspresi.
"Tolong pikirkan sekali lagi. Jika kau mengambil rumah yang sedang Mama tinggali, lalu Mama dan yang lainnya akan tinggal di mana?"
"Aku tidak peduli! Sekarang kau bukan ibu mertuaku lagi!" tegas Melissa dengan kesal.
"Haha, apa kau bilang? Aku harus mengasihani kalian semua? Asal kau tahu saja, Bu Tullia. Kenapa aku harus mengasihani kalian yang selama ini telah menyiksaku? Apa yang kalian perbuat pada saat aku masih menjadi menantu kalian? Apa pernah kau memperlakukanku seperti layaknya seorang menantu yang sangat disayangi? Asal kau tahu saja, aku mempelajari hal ini dari kalian semua. Jika aku tidak tega sekarang, kapan lagi coba? Aku sudah muak menjadi orang yang baik! Kalian selalu memanfaatkan kebaikanku selama ini. Menjadi orang baik hanya akan terus tertindas!" jelas Melissa panjang kali lebar.
Mendengar itu, Tullia langsung bersimpuh di kaki Melissa. Hal itu membuat Melissa menjadi pusat perhatian. Tentu saja Melissa merasa risih dengan apa yang mantan ibu mertuanya lakukan.
"Bangunlah!" Melissa membantu mantan ibu mertuanya untuk bangun
"Tidak. Aku tidak akan bangun sebelum kau memaafkan kami dan menarik semua ucapanmu!" Tullia memegangi kaki Melissa.
"Baiklah, aku akan memberikan kalian keringanan. Bangunlah dulu! Jangan memperlakukan dirimu sendiri dengan bersimpuh seperti ini. Orang tuaku mengajarkanku untuk menghormati orang tua, itu sebabnya aku tidak ingin melihatmu bersimpuh di kakiku seperti ini. Ayo, bangun!"
Kini Tullia berdiri. "Jadi, kau akan menarik ucapanmu?"
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak akan menariknya tapi, aku akan bernegosiasi sedikit. Aku akan tetap mengambil seluruh harta Danny. Namun, aku tidak akan mengambil rumah yang sedang kalian tinggali dengan satu syarat." Melissa tersenyum licik.
"Apa? Katakan saja, akan aku penuhi."
"Aku ingin di malam pertamanya Danny dan Yobelia, aku ingin Danny menghabiskan malamnya bersamaku!"
Sontak, mendengar ucapan itu membuat semua orang keheranan. Kenapa Melissa mengatakan itu, apa lagi yang sedang Melissa rencanakan. Untuk apa dia menghabiskan malamnya dengan mantan suami yang sangat dia benci.
"Dasar wanita gila!" teriak Yobelia dengan berjalan menghampiri Melissa.
Melissa tersenyum kecut. "Tenanglah, wanita jalaang! Kita dengarkan saja, apa keputusan ibu mertuamu. Sebab semua keputusan ada di tangannya," timpal Melissa dengan santai.
"Kau! Tidak akan kubiarkan Mas Danny menghabiskan malamnya denganmu, apalagi di malam pertama kami. Itu tidak akan terjadi!" pekik Yobelia dengan kemarahannya.
"Oh iya? Tapi, aku rasa ibu mertuamu tidak akan keberatan dengan syarat ini. Lagipula, untuk apa kau melakukan malam pertama dengan Danny? Bukankah setiap malam kau selalu menyuruh mantan suamiku itu untuk terus bermalam di rumahmu sewaktu dia masih menjadi suamiku? Sadar dirilah, kau itu hanyalah janda hina. Kau rela memberikan tubuhmu pada pria yang sudah beristri. Rasanya malam pertama itu tidak pantas dilakukan oleh pasangan yang selalu berzina seperti kalian!" tegas Melissa.
Yobelia mengepalkan tangannya, dia maju beberapa langkah dan hendak menampar Melissa. Namun, sebelum tamparan itu mendarat di pipinya, dia sudah menangkis tangan Yobelia. "Aku peringatkan kau utuk tidak macam-macam denganku. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau, berhati-hatilah!" ancam Melissa dengan mencengkram lengan Yobelia. Di mata Melissa terlihat kobaran api balas dendam.
"Aku setuju dengan syaratmu itu, Mel. Asalkan rumah yang kami tinggali tidak kau ambil," ucap Tullia.
Melissa tersenyum penuh kemenangan. "Kau dengar itu, jalaang! Ibu mertuamu tidak keberatan dengan ini! Haha, menyedihkan sekali," ledek Melissa.
Danny pun berjalan menghampiri ibunya. "Ma, apa yang Mama lakukan ini? Kenapa menerima syarat ini?" protes Danny.
"Apa lagi, Mama hanya melakukan yang Mama bisa untuk mempertahankan rumah yang kami tinggali. Mama tidak mau menjadi gembel dengan hidup di jalanan. Mama tidak mau itu terjadi, lagipula apa salahnya jika kau bermalam dengan Melissa. Kau lihat dia, Melissa sudah banyak berubah. Sekarang dia menjadi jauh lebih cantik dan mapan dari Belia. Sedangkan istrimu, dia hanya janda gatal yang haus akan kasih sayang!" sambar Tullia.
Bagaikan disambar petir saat itu juga, Yobelia meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka jika dia akan menangis di hari pernikahannya. Pernikahannya yang dia impikan selama ini tidak sesuai dengan harapan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....