
Happy reading....
Di ruang kerja Dr. Luci ....
Saat ini, Dr. Luci sedang memeriksa luka pasiennya yang tidak lain adalah Melissa. Bukankah Melissa sedang bersama Yuxian? Yup, Melissa memang bersama Yuxian tapi, sahabatnya tiba-tiba mendapat telepon jika di perusahaan sedang ada sedikit masalah yang mengharuskan dia untuk segera datang. Sementara itu, Melissa tidak ingin di rumah Yuxian sendirian. Dia pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit LS Immanuel.
"Bagaimana dengan lukaku ini, Dr. Luci? Apakah luka ini bisa sembuh tanpa meninggalkan bekasnya?" tanya Melissa.
"Jangan khawatir, Mel. Luka ini akan segera sembuh dan bekasnya akan segera hilang."
"Benarkah? Kira-kira akan membutuhkan berapa lama?"
"Eumm ... kurang lebih 2 minggu," jawab Dr. Luci.
"Baiklah, terima kasih, Dr. Luci." Melissa tersenyum.
"Sama-sama. Oh iya, apakah kau sudah mendapatkan apartemen?" tanya Dr. Luci
Melissa mengangguk cepat. "Iya, sudah. Aku membeli apartemen Shaquille Residence," jawab Melissa.
"Wah, benarkah?"
"Iya, Dr. Luci. Kenapa ekspresimu seperti itu?"
"Aku hanya sedikit terkejut saja. Lain kali, aku akan mengunjungi apartemenmu, apakah boleh?"
"Tentu saja, datanglah jika Dr. Luci ada waktu," ucap Melissa.
****
__ADS_1
Malam hari ....
Melissa dan Yuxian sedang sedang mengemasi barang-barang. Malam ini juga, Melissa akan pindah ke apartemen barunya. Tidak banyak yang Melissa bawa, hanya pakaiannya dan kebutuhan pribadinya saja yang dia bawa ke apartemen. Sebab peralatan apartemen sudah ada.
Setelah semuanya selesai, mereka pun pergi menuju apartemen yang baru saja Melissa beli. Mereka pergi dengan mobil barunya Melissa. Tak membutuhkan waktu lama, sehingga dalam beberapa menit, mereka pun sampai.
Mereka keluar dari mobil dan masuk dengan membawa dua koper. Melissa tinggal di apartemen no 172. Mereka masuk lift secara bersamaan.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka keluar dan berjalan menuju apartemen no 172, tempat yang Melissa akan tinggali. Tanpa membuang waktu lagi, mereka masuk. Mereka bagi-bagi tugas, Melissa yang merapikan pakaiannya, sementara itu, Yuxian merapikan barang-barang yang lain.
Setelah kurang lebih 2 jam, mereka pun telah selesai. Kini mereka tengah menikmati cemilan seraya menonton TV. Tiba-tiba ponsel mereka berbunyi tanda ada yang meneleponnya. Melissa langsung mengambil ponsel yang berada di atas meja dan mengangkatnya.
Telepon terhubung!
Ternyata yang menelepon tidak lain adalah ibunya, Cassie.
"Mel, kamu di mana? Ibu mau kita bertemu sekarang juga! Ada yang mau ibu bicarakan denganmu!"
Deg!
Jantung Melissa serasa berhenti saat itu juga. Tatapannya langsung mengarah kepada sahabatnya. Dia yakin jika ibunya akan membicarakan tentang perceraiannya dengan Danny.
"Mel lagi di apartemen, Bu. Mel lagi sama Yuxian sekarang," jawab Melissa.
"Kalau begitu, berikan ponselnya pada sahabatmu itu!"
"Ada apa, Bu? Apa yang mau Ibu bicarakan dengan Yuxian?"
__ADS_1
"Berikan saja ponselnya!"
"Tapi, Bu--" ucapan Melissa terhenti begitu Melissa Yuxian menganggukkan kepalanya tanda dia mengizinkan jika ibunya bicara dengannya.
Tanpa menunggu lama, dia langsung memberikan ponselnya pada Yuxian. Yuxian mengambilnya dan mulai berbicara dengan Cassie.
"Hallo, Ibu mau bicara sama saya?" tanya Yuxian.
"Iya, saya ingin bicara dengan kalian berdua sekarang juga!"
"Baik, Bu. Kami akan menemui Ibu," jawab Yuxian.
"Tidak perlu! Biar Ibu sama Ayah saja yang datang ke apartemen, kirimkan saja alamatnya sekarang!"
"Baiklah, saya akan mengirimkannya."
"Cepatlah, tutt!" panggilan diakhiri oleh Cassie.
Telepon terputus!
"Xian-Ge, bagaimana ini? Apakah Ibu sudah tahu mengenai perceraianku? Apa yang harus aku katakan pada Ayah dan Ibuku?" Melissa terlihat begitu cemas.
"Tenanglah, biar aku yang menjelaskan semuanya."
"Tapi Ge, Ibuku terdengar sangat marah. Aku cuma enggak mau jika Ibuku memarahimu. Aku juga enggak mau menyeretmu ke dalam masalahku."
"Itu tidak akan terjadi, percayalah. Everything will be fine." Yuxian menggenggam tangan Melissa serta menatapnya dengan tatapan yang teduh.
BERSAMBUNG....
__ADS_1