Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Meminta Bantuan Detektif


__ADS_3

"Melissa! Yuxian!" Dr. Luciano dan Ming Hao berteriak secara bersamaan dengan memanggil nama Melissa dan juga Yuxian.


Sepanjang jalan mereka berdua terus memanggil nama kedua orang hilang itu. Sehingga mereka tiba di tebing, tempat Yuxian hendak melakukan bunuh diri. Namun, keduanya tidak melihat tanda-tanda adanya Melissa ataupun Yuxian. Jika mereka tidak sampai ke tebing keraton, lalu ke mana mereka pergi?


Di malam yang dingin dan redup cahaya seperti ini, ke mana Melissa dan Yuxian? Mungkinkah mereka telah bertemu dan pergi meninggalkan tempat berbahaya ini? Keduanya benar-benar bingung. Mereka tidak tahu arah perginya Yuxian dan Melissa.


"Seandainya ada petunjuk yang bisa mengarahkan kita pada mereka mungkin kita tidak akan sebingung ini," ucap Dr. Luciano dengan napasnya yang berat karena telah berjalan cukup jauh dan melewati batu-batu yang besar dan licin.


"Kau benar. Jika saja kita bisa menemukan sebuah petunjuk untuk menemukan mereka," timpal Ming Hao.


"Sebaiknya kita turun, udara di sini sangat dingin. Kita akan mati kedinginan di sini. Kita akan pikirkan ini setelah kita berada di jalur yang aman. Aku akan meminta bantuan Detektif swasta untuk mencari keberadaan Yuxian dan Melissa. Kebetulan temanku adalah seorang Detektif, mari." Dr. Luciano mengajak Ming Hao turun.


"Iya, mari."


Mereka pun turun dengan langkah yang sangat hati-hati. Sekali saja mereka salah meninjak batu, mereka akan terjatuh. Butuh sekiranya 20 menit untuk mencapai parkiran itu di mana mobilnya berada.


Di tengah perjalanan mereka melihat ada sebuah pisau dan tongkat besi yang tergeletak di sebelah mobil Melissa. Melihat hal itu, tentu saja mereka panik dan langsung memeriksa mobil Melissa. Setelah di teliti dengan seksama, ternyata mobil Melissa mengalami kerusakan lampu mobil bagian depan serta body depannya juga yang sedikit penyok.


"Mungkinkah Mel-ku sudah diserang sekelompok orang jahat?" tatapan Dr. Luciano kosong.


Dr. Luciano shock, dia takut pacarnya kenapa-kenapa. Dia yakin jika kekasihnya dalam bahaya, dia tidak akan bisa tenang selama pacarnya di temukan. Tanpa pikir panjang, dia langsung menghubungi temannya, bernama Alzam yang merupakan Detektif swasta sekaligus teman dekatnya.


Tanpa berlama-lama, telepon pun akhirnya tersambung. Dr. Luciano menempelkan ponsel di telinganya. Kemudian dia mendengar suara dari temannya.


Telepon terhubung!


"Hallo, Zam," ucap Dr. Luciano yang sejak tadi tidak mendengar suara temannya.


"Iya, Luci. Ada apa?" tanya Alzam dari seberang telepon.


"Aku butuh bantuanmu, Zam!" Dr. Luciano mengatakan dengan nada yang panik.


"Katakan, bantuan apa?"


"Pacarku, Melissa ...."

__ADS_1


"Iya, pacarmu kenapa?" sela Alzam.


"Mel hilang, bisa kau cepat datang kemari? Aku benar-benar bingung, aku tidak tahu harus mencari Mel ke mana," jawab Dr. Luciano dengan matanya yang berkaca-kaca seakan hendak meneteskan air mata.


"Kau tenang dulu. Jangan panik seperti ini dan katakan dengan jelas, bagaimana Mel bisa hilang?"


"Ceritanya panjang. Intinya Mel hilang di sekitar tebing keraton. Dia mengirimiku pesan jika saat ini dia sedang berada di tebing keraton," jawab Dr. Luciano.


"Apa? Kau bilang apa? Tebing keraton? Kau takut 'kan jika tempat itu rawat sekali begal? Bukan hanya itu, banyak orang hilang di sana. Bagaimana nusa kau membiarkan dia pergi sendirian ke daerah berbahaya itu?" pekik Alzam.


"Aku tidak tahu apa-apa, aku tahu karena Mel yang mengirimiku pesan. Aku tahunya Mel sudah berada di tebing keraton beberapa jam yang lalu. Jika saja aku tahu jika dia pergi ke tempat itu, mungkin aku akan menemaninya bahkan aku akan melarangnya. Aku tidak mungkin membiarkannya pergi sendirian apalagi ini larut malam. Sekarang katakan padaku! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Saat ini aku bersama Ming Hao, kakak iparnya Yuxian.


"Sekarang gini aja, kalian tetap stay di daerah itu. Usahakan kalian tidak keluar dari mobil, aku akan segera datang dengan membawa team-ku. Kalian berhati-hati, aku akan datang secepatnya."


"Baiklah, kau cepat datang! Tutt!" Dr. Luciano mengakhiri dan sambungan teleponnya.


Telepon terputus!


"Bagaimana? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita pulang sana dan kembali mencari Mel dan Yuxian saat fajar tiba?" tanya Ming Hao.


"Baiklah, aku kan menunggu di mobil. Di luar sangat dingin." Ming Hao berjalan ke arah mobilnya. Kemudian dia masuk ke mobil.


****


Setelah beberapa jam kemudian, kedua orang tua Melissa sangat cemas karena sudah larut malam putrinya belum pulang juga. Bahkan setelah pesan yang dia kirimkan pun tidak di baca sama sekali oleh Melissa. Bukan hanya itu saja, teleponnya pun tidak diangkat sama sekali oleh putrinya.


"Enggak bisa! Aku tidak bisa diam diri sana di rumah. Aku harus pergi mencari putriku!" Dominic beranjak dari duduknya dan mengambil kunci motornya.


Begitu Dominic hendak pergi, tiba-tiba Cassie memegang tangan suaminya. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas. Tenanglah dulu! Bisa saja Mel sedang di jalan saat ini,"


"Bagaimana aku busa tenang, Sayang? Putri kita belum pulang! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Lagi pula Mel tidak pernah seperti ini. Dia selalu menjawab teleponku bahkan saat menyetir sekalipun."


"Iya, Mas. Aku paham, aku juga seorang ibu. Aku sama cemasnya seperti dirimu. Akan tetapi masih ada cara yang bisa kita lakukan." Cassie menangkup kedua pipi suaminya serta menatapnya dengan tatapan yang dalam.


"Bagaimana?"

__ADS_1


"Kita minta saja bantuan Dr. Luciano untuk mencari Mel. Mel juga pasti mengirim pesan pada pacarnya, bisa saja sekarang Dr. Luci sedang mencari Mel. Tidak ada salahnya jika kita telepon Nak Luci," saran Cassie.


"Kau benar, Sayang. Tidak ada salahnya meminta tolong pada Dr. Luci. Baiklah akan kuhubungi Nak Luci sekarang," ucap Dominic seraya merogoh ponsel dari dalam saku celananya.


Dominic segera menelepon Dr. Luci. Dia menatap layar ponselnya sambil menunggu jawaban dari Dr. Luciano. Setelah beberapa menit, Dr. Luciano mengangkat teleponnya. Sebelum berbicara, tentunya Dominic telah mengaktifkan speaker pada ponselnya agar Cassie mendengar pembicaraannya dengan Dr. Luciano.


Telepon terhubung!


"Hallo, Nak Luci," ucap Dominic setelah telepon tersambung.


"Hallo, Om."


"Aku bertanya padamu, apa mau tahu sesuatu mengenai putriku, Melissa? Dia belum pulang sampai sekarang. Aku khawatir Mel kenapa-kenapa, bisakah Nak Luci mencari tahu keberadaan Mel saat ini?" jelas Dominic seraya meminta tolong pada pacar putrinya.


"Om tidak perlu cemas, saat ini saya sedang mencari Mel dengan bantuan detektif dan juga kakak iparnya Yuxian."


"Detektif? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Nak Luci sampai meminta bantuan Detektif? Apa Nak Luci mengetahui sesuatu mengenai Mel?"


"Iya, Om. Sebenarnya begitu aku sampai di tebing keraton, Mel tidak ada di sana. Hanya ada mobil dan barang-barang miliknya saja seperti ponsel dan tasnya. Aku takut Mel kenapa-kenapa makanya aku meminta bantuan Detektif agar mempermudah pencarian."


"Apa maksudmu Mel hilang?" tebak Dominic.


"Iya, Om. Mel hilang, kemungkinan besar Mel diculik Om, sebab ada dua benda tajam di sebelah mobil Mel dan juga keadaan mobil Mel rusak di bagian depan. Tapi, Om jangan khawatir. Mel akan segera ketemu, kami sedang berusaha keras menelusuri jalur ini."


"Kenapa kau tidak mengabariku tentang hilangnya putriku?"


"Ponsel saya tertinggal di mobil, Om. Maafkan Luci, Om."


"Ya sudah, kalau begitu aku akan ikut membantu kalian,"


"Tidak perlu, Om. Medan di sini sangat berbahaya. Luci tidak mau Om kenapa-kenapa jika ikut mencari Mel. Biar Luci dan team Detektif yang mencari Mel. Luci akan selalu mengabari Om tentang perkembangan Mel. Luci tutup dulu telepon. Tutt!" Dr. Luciano memutuskan sambungan telepon.


Telepon terputus!


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2