
"Tutup telinganya dengan kain dan seret dia keluar!" teriak seorang pria dengan suara yang tinggi.
"Baik, Bos!"
Dengan gerakan yang cepat, kedua pria entah seperti apa wajahnya yang jelas Melissa merasakan jika salah satu pria itu menutup matanya dengan kain dan cukup kencang. Sementara pria satunya lagi memegangi kedua tangan Melissa. "Kalian mau apa? Untuk apa menutup mataku lagi, di sini sudah sangat gelap! Lepaskan aku!" Melissa berusaha berontak. Namun, semua tenaganya sia-sia jika dibandingkan dengan tenaga kedua pria itu.
Melissa diseret keluar dengan paksa. Begitu sudah berada di luar, janda yang sebentar lagi akan menikah pun merasa kedinginan. Dia merasakan hembusan angin menyelusup masuk ke dalam tubuhnya.
"Kalian mau membawaku pergi ke mana? Tolong, jangan sakiti aku," ucap Melissa seraya memelas agar mereka tidak menyakitinya.
"Stop! Buka penutup matanya!" perintah salah satu pria.
Dengan cepat penutup mata Melissa dibuka. Alangkah terkejutnya Melissa pada saat melihat keadaan disekitarnya. "Surprise!" ucap semua orang yang ada di hadapan Melissa.
"Aa-apa semua ini?" Melissa kebingungan melihat orang tuanya, Luciano, Emma dan juga calon mertuanya ada di hadapannya.
Mereka semua tersenyum bahagia. Luciano perlahan mendekati Melissa dan menatapnya begitu dalam. "Ini kejutan untukmu, Sayang. Kami merencanakan semua ini untuk merayakan ulang tahunmu," jelas Luciano.
"Kau tahu, Mas? Aku sangat ketakutan tadi. Aku pikir aku benar-benar diculik dan akan disakiti tapi nyatanya semua ini hanyalah rekayasa. Kau membuatku takut, Mas!" Tubuh Melissa merosot ke bawah.
Lututnya terasa sangat lemas. Jantungnya serasa berhenti saat itu juga. Bagaimana tidak, sebelumnya dia pernah mengalami penyekapan oleh orang jahat yang bahkan akan membunuhnya. Jelas, jika saat ini dia merasa takut.
Luciano yang melihat calon istrinya ketakutan langsung menggendong tubuh Melissa dan membawanya ke sebuah meja yang sudah dihias dan ada beberapa cake ulang tahun. "Maafkan aku, Sayang. Ini memang ide gila dariku. Setelah ini kau boleh menghukumku. Tapi, untuk sekarang kita bersenang-senang dulu ya. Kami sudah menunggumu sejak tadi." Luciano menurunkan tubuh Melissa setelah sampai di meja itu.
"Mas jahat banget sih. Kau ini cocok sekali jadi seorang mafia," celetuk Melissa dengan mengerucutkan bibirnya.
"Haha, benarkah? Memangnya jika aku seorang mafia sungguhan, apa kau mau menikah denganku, heum?" Luciano menaik-turunkan alisnya.
"Ngaco! Mana mau aku menikah dengan mafia nyawaku dan juga nyawa keluargaku bisa terancam," timpal Melissa.
"Sayangnya aku bukan mafia, aku hanya Dokter bucin yang kebelet ingin menikahimu," goda Luciano.
__ADS_1
"Gombal," kekeh Melissa.
"Sudahi adegan bucinnya! Sekarang fokuslah ke pesta," sahut Emma dengan melipat kedua tangan di dada.
"Kak Emma, benar. Ayo kita tiup dulu lilinnya, setelah itu kita berpesta," timpal Luciano.
"Baiklah, aku akan meniup lilinnya."
Dalam hitungan ketiga lilin yang menyala di atas cake itu langsung padam begitu ditiup oleh Melissa. Mereka semua menutup matanya dan berdo'a. Melissa berdo'a cukup lama.
"Apa yang kau minta, Sayang?" bisik Luciano begitu Melissa telah menyelesaikan wish-nya.
"Aku tidak akan memberi tahumu, Mas. Wlee," timpal Melissa dengan menjulurkan lidahnya.
Mendengar ucapan Melissa, tentu saja semua tertawa tidak terkecuali dengan Emma. Luciano mendekatkan bibirnya ke telinga calon istrinya. "Aku tidak akan melepaskanmu setelah ini," bisik Luciano.
"Ayo potong cake ini, Sayang." Luciano mengedipkan sebelah matanya seraya memberikan pisau dan piring kecil.
Luciano menuruti permintaan calon istrinya. Dia membuka mulut dan menerima suapan dari Melissa. Setelah menyuapi calon suaminya, Melissa kini menyuapi setiap orang yang menyaksikan.
Selesai itu, Luciano mengajak Melissa ke tepi pantai yang sudah dihias dengan sangat indah. Mereka berjalan melewati melewati kelopak bunga yang bertaburan, bahkan berbentuk love. Kemudian, mereka berdiri di tengah-tengah lilin yang berwarna-warni. Tanpa berlama-lama Luciano berlutut di hadapi Melissa. Dia memegang kedua tangan calon istrinya ini.
Sementara itu, semua yang menyaksikan adegan romantis ini langsung mengeluarkan ponselnya. Kemudian mereka merekam setiap adegan calon pengantin ini. "Melissa Jordan, maukah kau menikah denganku?" Luciano melamar Melissa untuk yang ke beberapa kalinya.
"Iya, Mas. Aku mau," jawab Melissa disertai anggukan kepala.
Mendengar itu, Luciano langsung berdiri dan mengeluarkan sesuatu di dalam saku. Terlihat sebuah kotak biru panjang. Tanpa membuang waktu lagi, Luciano membuka isi kotak itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah kalung diamond yang telah dia pesan seminggu yang lalu.
"Mas, bukankah ini kalung yang kau pesan satu minggu yang lalu?" tatapan Melissa tertuju pada kalung diamond.
"Yup, kalung ini yang aku pesan seminggu yang lalu. Akan ku Pakaikan sekarang." Luciano mengambil kalung dari kotak itu dan berjalan ke belakang Melissa.
__ADS_1
Setelah itu Luciano memakaikan kalung dari belakang. Melissa tersenyum bahagia melihat kalung yang sedang dipakaikan olehcalin suaminya. Pria bermata biru itu membalikkan tubuh Melissa dan memandangnya cukup lama.
"Beautifull, very beautifull," puji Luciano dengan tatapan yang dalam.
"Grazie," Melissa mengucapkan terima kasih pada calon suaminya.
Luciano mengangguk dan memberikan kode pada semua orang yang ada disekitarnya untuk pergi berpesta ke sebuah villa yang sudah dia sewa. Hanya dengan kode tatapan Luciano, semuanya langsung pergi. Kini hanya ada Luciano dan Melissa.
Begitu semuanya pergi, Luciano menarik pinggang ramping Melissa. Kedua mata mereka saling bertemu dan bertatapan satu sama lain. Tanpa mereka sadari jarak antara mereka sudah tidak ada.
Perlahan Luciano memegang tengkuk Melissa dan mengecup bibirnya. Wanita ini hanya mengedip-ngedipkan matanya. Hingga Luciano mulai memainkan ciuman itu, barulah Melissa memejamkan matanya menikmati setiap permainan lidah calon suaminya yang menelusuri rongga mulutnya.
Melissa melingkarkan kedua tangannya di leher Luciano. Dia membalas setiap permainan itu. Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun melepaskan pagutannya.
"Aku mencintaimu, Mel." Luciano menangkup kedua pipi calon istrinya.
"Aku juga mencintaimu, Mas." Melissa tersenyum seraya memeluk calon suaminya.
****
Di Villa ....
Saat ini semua orang sedang berpesta. Selain menikmati berbagai macam minuman. Setiap pasangan mereka melakukan dansa diiringi musik yang membuat keadaan romantis.
Melissa melingkarkan tangan kiri di leher Luciano, sedangkan tangan kanan berpegangan dengan tangan Luciano. Mereka hanyut dalam sensasi yang begitu romantis. Malam ini adalah malam yang tidak akan pernah terlupakan.
Tatapan yang indah terlihat jelas dari manik Melissa dan Luciano. Mereka tidak sabar ingin segera menikah dan menikmati setiap kebersamaan mereka. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.00. Mereka semua menyudahi pestanya.
Mereka kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Namun, tidak dengan Luciano. Luciano pergi mengantarkan Melissa ke kamarnya terlebih dahulu sebelum dia pergi ke kamarnya.
Melissa jalan sempoyongan karena dia cukup banyak minum minuman beralkohol sehingga dia berada di bawah alam sadar. Sebelum sampai di kamarnya, Melissa pun jatuh tak sadarkan diri. Luciano segera menggendong tubuh calon istrinya dan membawanya ke kamar.
__ADS_1
****