
"Sayang, Yuxian ingin bertemu dengan kita. Katanya ada hal yang ingin dia sampaikan pada kita. Mas tidak keberatan 'kan jika kita melipir bentar ke MCD untuk bertemu dengan sahabatku. Xian-Ge bilang ini akan menjadi terakhir kalinya untuk bertemu dengan kita," ucap Melissa.
"Terakhir kalinya? Apa maksudmu?" Luciano mengerutkan dahinya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu apa maksud Gege mengatakan itu. Kita dengarkan saja apa yang ingin dia sampaikan," jawab Melissa.
Sambil menunggu Yuxian datang, mereka pun memesan french fries, burger, dan minuman soda. Setelah beberapa menit kemudian, Yuxian datang dan menghampiri Luciano dan sahabatnya. "Maaf telah membuat kalian menunggu lama," ucap Yuxian seraya duduk di sebelah Melissa.
Luciano tidak cemburu dengan melihat Yuxian yang memilih duduk dekat calon istrinya. Dia hanya berpikir jika Yuxian ini adalah sahabat Melissa. Tidak sepatutnya dia cemburu dengan pria yang selama ini selalu melindungi calon istrinya.
"Tidak kok, Ge. Kami belum lama menunggumu. Oh iya, Gege mau pesan apa? Biar aku yang traktir," tawar Melissa dengan senyumannya.
"Wah, jarang banget kau traktiran kek gini. Ada acara apaan nih," ledek Yuxian disertai tawanya.
"Ih, Xian-Ge!" Melissa mencubit perut sahabatnya. "Ada yang ingin kami beri tahukan padamu," lanjut Melissa. Kalo ini dia menatap sahabatnya dengan tatapan yang serius.
"Aww ... ampun, Mel. Maaf, aku hanya bercanda. BTW, hal apa yang ingin kalian beri tahu padaku?" tanya Yuxian.
"Kami akan menikah dalam waktu dekat ini, Xian-Ge. Kami ingin mengundangmu untuk pertama kalinya. Kami ingin kau menjadi tamu pertama yang kami undang. Gege mau 'kan menghadiri pernikahan kami? Ya 'kan, Mas Luci?" Melissa menatap ke arah calon suaminya.
Luciano mengangguk disertai senyumannya. "Iya, Sayang. Aku juga ingin sahabatmu ini menjadi tamu pertama yang kami undang. Apakah kau akan datang, Yuxian?" tanya Luciano pada sahabat istrinya.
__ADS_1
Deg!
Bagaikan disambar petir disaat itu juga. Yuxian merasa tubuhnya kaku, matanya membola dengan sempurna. Kini dia sudah sangat yakin jika dia tidak akan pernah mendapatkan Melissa apalagi memilikinya.
Sekali lagi, dia harus kembali merelakan wanita yang dia cintai selama ini menikah dengan pria lain. Namun, kali ini dia sudah membuat keputusan akan pergi ke Tiongkok sesuai dengan keputusan mamanya. Entah dia akan menghadiri pernikahan Melissa dan Luciano atau tidak. Yang jelas, saat ini hatinya benar-benar terluka hanya saja dia mencoba untuk menyembunyikan dengan senyuman.
"Ini berita yang baik, Mel. Akhirnya sahabatku ini akan segera sold out lagi. Aku turut bahagia mendengar berita ini. Selamat atas pernikahan kalian ya. Jujur, aku ingin sekali memenuhi keinginan kalian akan tetapi aku tidak bisa. Sepertinya aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian," tutur Yuxian dengan suara yang berat. Ingin rasanya dia menangis akan tetapi dia tidak mungkin menangis di hadapan Melissa.
"Tapi, kenapa? Apa yang membuatmu tidak bisa hadir, Ge? Apa kau membenciku? Apa kau kecewa padaku?" Melissa menunjukkan ekspresi sedih pada saat mendengar jawaban sahabatnya.
"Karena nanti malam aku akan terbang ke Tiongkok. Sudah saatnya aku pergi meninggalkan negara ini. Lagi pula aku sudah melihatmu bahagia dengan pria yang pas dan baik. Kalian berdua sangat cocok. Pasangan yang serasi. Oh iya BTW, aku minta maaf atas kegaduhan yang Mamaku perbuat di rumahmu. Aku tidak tahu jika Mamaku nekad melakukan itu. Seandainya aku tahu akan mencegahnya. Luci, maafkan Mamaku ya," jelas Yuxian.
Sejenak Melissa terdiam, dia tidak percaya jika sahabatnya akan pergi dari kehidupannya. Wanita ini begitu sedih mendengar berita ini. Sekarang dia tidak akan melihat sosok yang humoris lagi, yaitu sahabatnya.
"Xian-Ge, apa kepergianmu ini karena aku? Apa persahabatan kita akan berakhir sampai di sini?" Melissa menatap Yuxian dengan berlinang air mata.
"Hei, Mel! Lihat dan dengarkan aku baik-baik!" Yuxian menangkup kedua pipi Melissa di hadapan Luciano.
Melissa pun menatap mata sahabatnya. "Kepergianku bukan karenamu! Semua ini atas keputusan Mamaku. Mama ingin aku belajar mengelola bisnis Papa yang di Tiongkok. Semua ini tidak ada hubungannya denganmu. Persahabatan kita akan tetap seperti dulu. Aku akan tetap menjadi sahabatmu sampai aku mati. Lagi pula aku suatu saat nanti aku akan tetap mengunjungimu. Begitupun dengan kalian. Kalian bisa berkunjung ke negaraku." Yuxian menjelaskan dengan tutur katanya yang lembut disertai senyumannya yang manis.
"Janji? Kau tidak akan pergi meninggalkanku?" Melissa menyodorkan jadi kelingkingnya.
__ADS_1
"I promise." Yuxian mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Melissa. "Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Luci, aku serahkan Mel padamu. Jaga dia baik-baik, jangan pernah sakiti dia. Aku yakin kalian akan hidup bahagia, aku berdoa semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan kalian. Aku pamit." Yuxian beranjak dari duduknya.
"Xian-Ge tunggu!" Melissa memegang tangan Yuxian. Kemudian dia beranjak dari duduknya.
Melissa menatap pedih sahabatnya. "Ge, apakah kita akan bertemu kembali?" tanya Melissa dengan meneteskan air matanya.
Yuxian menatuh telapak tangan di bawah dahulu Melissa. Dan air mata sahabatnya jatuh di telapak tangannya. "Untung saja tidak jatuh. Mel, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Mungkin pada saat kita kembali bertemu, kita akan sama-sama memiliki keluarga. Jadi, jangan pernah takut jika kita tidak akan kembali bertemu karena takdir tidak bisa memisahkan persahabatan murni kita. Percayalah itu, aku selalu bersamamu. Jaga dirimu baik-baik, Mel. Aku pergi." Yuxian perlahan melepaskan genggaman tangan Melissa.
Melissa yang melihat sahabatnya pergi terus menangis seraya menggelengkan kepalanya. "Gege, datanglah ke pernikahanku nanti! Jika kau tidak datang, aku akan membencimu!" teriak Melissa setelah Yuxian berjalan meninggalkannya.
Yuxian berhenti dan menoleh ke arah sahabatnya. Dia hanya menanggapinga dengan senyuman dan matanya yang berkaca-kaca. 'Aku tidak yakin jika aku tegar melihatmu bersanding dengan pria lain. Aku tidak bisa berjanji untuk datang ke hari pernikahanmu. Aku minta maaf, sahabatku.' Yuxian menjatuhkan air matanya. Kemudian dia pergi meninggalkan Melissa dengan calon suaminya.
Sementara itu, Melissa terus menangis. Ini adalah pertama kalinya dia berpisah dengan sahabatnya. Dia seperti sosok kakak yang selama ini selalu menjaga dan merawatnya. Tentu saja jika perpisahan ini dia sangat merasa kehilangan.
Luciano yang melihat calon istrinya menangis itu pun langsung mendekatinya. Dia merangkul Melissa ke dalam pelukannya. "Aku mengerti perasaanmu, Sayang. Sabarlah, yakinlah jika suatu saat kalian akan bertemu lagi. Persahabatan kalian ini benar-benar sangat tulus. Aku terharu melihat kalian." Luciano mengelus punggung Melissa.
"Mas, aku tidak percaya jika kami akan berpisah seperti ini. Aku sudah menganggapnya sebagai abangku sendiri. Tapi sekarang, aku telah kehilangan sosok abang yang selalu bersamaku, menjaga dan merawatku. Bahkan dia selalu berhasil menghiburku disaat aku bersedih. Hiks hiks." Melissa terisak.
"Aku paham betul bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi, kita harus menghargai keputusannya. Do'akan saja semoga sahabatmu baik-baik saja di sana ya. Tenanglah, calon istriku. Aku akan menggantikan sosok Yuxian mulai saat ini," tutur lembut Luciano.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1