Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Dibuatin Spaghetti Oleh Suami


__ADS_3

"Aneh, siapa yang mecahin vas ini?" Yobelia kebingungan dengan melihat ke sana ke mari mencari tahu apakah ada orang atau tidak.


Setelah memastikan tidak ada orang di depan kamarnya, dia pun mencoba untuk memastikannya lagi dengan memanggil nama suaminya. "Mas, Mas!" panggil Yobelia dengan suara yang sedikit berteriak.


Namun, tidak ada yang menyahut sama sekali. Dalam artian suaminya, Danny tidak ada di sekitar kamarnya. Karena tidak ada siapa-siapa, Yobelia pun memutuskan untuk masuk kembali ke kamarnya.


Sementara itu, Danny yang sedang bersembunyi di salah satu sudut segera berlari meninggalkan kamar istrinya dan pergi menuju rumah orang tuanya yang letaknya berada di hadapan rumah istrinya. Karena jarak hanya tinggal beberapa langkah dari rumah Yobelia, Danny pun sampai di rumah orang tuanya. Dia masuk tanpa menekan bel terlebih dahulu. Begitu masuk, dia langsung berjalan ke arah ruang tengah.


Dia duduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Danny kembali lagi merasakan kesedihan. Baru pertama kalinya dia merasakan yang namanya pengkhianatan. Dan pengkhianatan itu dilakukan oleh istrinya sendiri.


Wanita yang selama ini dia perjuangan, bahkan dia rela membuang istrinya dulu demi Yobelia. Namun, apa yang dia dapatkan sekarang? Hanyalah sebuah pengkhianatan yang dia terima. Akan tetapi, rasa penyesalan yang Danny rasakan sudah tidak ada gunanya lagi, sebab nasi sudah menjadi bubur. Semuanya telah terjadi, tidak mungkin kembali lagi.


"Danny, kapan kau datang?" tanya Tullia, yaitu ibunya Danny.


"Mama," panggil Danny sembari menoleh ke arah ibunya.


"Tumben kamu ke rumah, di mana istrimu?" tanya Tullia seraya duduk di sebelah putranya.


Mendengar ibunya yang menanyakan mengenai istrinya, Danny kembali teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Kajadian yang sangat menjijikan yang telah membuat hati dan matanya perih. Entah, dia harus menceritakan kejadian itu pada ibunya atau tidak.


"Danny, kenapa bengong? Ada apa Nak? Apa kau sedang bertengkar dengan istrimu?" tebak Tullia dengan melihat raut wajah Danny yang terlihat sedih dan gelisah.


"Belia, Ma." Danny mulai menatap ibunya dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Belia kenapa, Nak?" tanya Tullia dengan wajah yang sedikit cemas.


"Dia mengkhianati Danny, Ma." Mata Danny mulai berlinang air mata.


"Mengkhianati bagaimana maksudnya?" Tullia mengetutkan keningnya karena merasa bingung.

__ADS_1


"Dia tidur dengan tiga pria sekaligus, Ma," jawab Danny.


"Ngaco, istrimu tidak mungkin melakukan itu, Danny! Belia tidak mungkin mengkhianatimu apalagi sampai berani tidur dengan tiga pria sekaligus. Memangnya dia PSK apa? Jangan percaya dengan berita yang hoax kek begitu!" Tullia mengomeli putranya.


"Itu bukan hoax, Ma. Danny melihat dengan mata kepala Danny sendiri. Danny menyaksikan itu dengan jelas!" tegas Danny dengan sedikit kesal karena mamanya tidak mempercayai ucapannya.


"Mama enggak ngerti kenapa istrimu setega itu. Apa alasannya dia tidur dengan ketiga pria itu? Kenapa tidak bertindak tegas saja dan beri pelajaran pada ketiga pria itu?"


"Tidak mungkin! Jika Danny lakukan itu maka kalian semua bisa dalam bahaya dan itu yang tidak aku inginkan. Sebab aku baru tahu jika istriku adalah orang yang berbahaya, aku tidak ingin keluargaku celaka karena dia," jelas Danny.


"Berbahaya bagaimana?"


"Belia berniat mau mencelakai Melissa dan suaminya. Dia ingin membunuh suami Mel dengan meracuninya dengan arsenik. Danny mendengarnya dengan dengan sangat jelas jika Belia mengatakan semua itu."


Mendengar itu, tentu saja Tullia terkejut bukan main. Dia tidak pernah menduga jika menantunya tega menyakiti putranya sendiri. Setelah mendengar ini, bukan hanya Danny melainkan mamanya juga turut menyesal karena telah memilih Yobelia dan membuang menantu sebaik Melissa. Namun, seberapa besar menyesalnya mereka, semua itu tidak akan kembali seperti dulu lagi.


****


Waktu berlalu begitu cepat, kini siang telah berubah malam. Saat ini Melissa dan Luciano sedang rebahan di kamarnya karena merasa lelah. Setelah berjam-jam lamanya mereka merapikan rumahnya.


Posisi mereka saat ini sedang berpelukan hangat. Tiba-tiba perut Melissa berbunyi yang menandakan jika dia tengah lapar. Karena hal itu, wajahnya pun berubah merona karena malu.


"Sayang, aku ke dapur bentar ya. Kamu tunggu di kamar." Luciano melepaskan pelukannya.


Kemudian dia beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar. Sementara itu, Melissa menunggu di kamar. Namun, setelah beberapa menit kemudian, suaminya pun tak kunjung kembali ke kamarnya. Melissa yang penasaran pun langsung keluar dari kamar dan menyusul suaminya ke dapur.


Sesampainya di dapur, Melissa melihat suaminya tengah memakai celemek dan memasak sesuatu entah apa yang Luciano masak. Dia tersenyum memandang suaminya yang super peka itu. Baru mendengar bunyi lapar perut istrinya saja sudah sepeka ini dan langsung membuatkan makanan.


Melissa berjalan menghampiri suaminya yang tengah memasak itu. Setelah berada tepat di belakang Luciano, dia langsung memeluknya dari belakang. "Mas lagi masak apa?" tanya Melissa dengan manja.

__ADS_1


"Aku sedang membuatkan spaghetti untuk istri tercintaku ini," jawab Luciano dengan senyumannya yang manis.


"Sweet banget sih, Mas. Kenapa Mas repot-repot masakin aku makanan? 'Kan aku bisa masak sendiri," timpal Melissa sembari menengok ke wajah suami.


Luciano mematikan api kompornya dan memegang bahu istrinya. "Sayang, suami mana yang tega biarin istrinya tidur dengan perut kosong, heum? Aku tidak akan membiarkan istriku yang cantik ini tidur dalam keadaan lapar." Tangan Luciano mengelus lembut kepala istrinya.


"Aah, Mas. Hatiku semakin luluh deh. Mas ini suami yang baik sekali, aku bersyukur karena aku dinikahi pria idaman sepertimu." Melissa tersenyum sembari berlinang air mata.


"Udah ya, jangan melow lagi. Sekarang duduk, biar aku suapin." Luciano mengajak Melissa ke meja makan.


Luciano menarik kursi untuk Melissa duduki. "Silakan duduk, istriku."


"Mas, jangan seperti ini. Aku malu tahu, Mas." Wajah Melissa kembali merona karena tersipu malu.


"Malu kenapa, aku ini suamimu. Tunggu sebentar ya, akan aku sajikan dulu makanannya." Luciano beranjak dari duduknya dan pergi mengambil spaghetti yang dia masak barusan.


Sementara itu, Melissa hanya duduk sembari melihat ke arah suaminya yang sedang platting makanannya agar terlihat cantik dan menarik. Setelah itu, barulah Luciano membawa makanannya ke meja makan. Dia hanya membuat satu porsi saja sebab, dia tidak membiasakan diri untuk makan diatas jam 8 malam. Itulah, kenapa dia hanya membuat satu porsi saja.


Begitu sampai di meja makan, Luciano langsung duduk di sebelah istrinya dan siap untuk menyuapinya. "Loh, Mas. Kok bikinnya cuma satu? Spaghetti buat Mas mana?" tanya Melissa dengan menatap suaminya.


"Sayang, aku tidak makan di abad jam 8. Jadi, aku hanya membuatkan makanannya untukmu saja. Kamu habisin ya, Sayang." Luciano sudah memegang sumpit dan siap untuk menyuapi istrinya.


"Mas, aku 'kan orangnya banyak makan. Bagaimana jika tubuhku menjadi gemuk nanti? Apa Mas masih mau sama Mel?" tanya Melissa.


"Astaga, Sayang. Kenapa bicaramu seperti itu. Ya, tentu saja aku mau. Sebab aku menikahimu bukan karena fisikmu saja, aku menikahimu karena rasa cinta dan kasih sayangku padamu akan kebaikan hatimu itu. Mau kamu kurus ataupun gemuk, semua itu tidak akan bisa mengubah rasa cintaku padamu. Aku menyayangimu apa adanya, aku tidak ingin mendengar kamu mengatakan ini lagi ya." Luciano menggenggam tangan Melissa.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kalau begini aku tidak perlu diet untuk menjaga berat badanku. Aku tidak akan mengatakan mengatakan ini lagi, Mas. Aku janji," tutur Melissa disertai senyumannya.


"Good, sekarang buka mulutmu! Aku suapin ya," ucap Luciano.

__ADS_1


Dibalas anggukan oleh Melissa. Kemudian dia membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari suaminya. Setelah suapan pertama masuk ke dalam mulutnya Melissa, alangkah terkejutnya dia begitu merasakan rasa spaghettinya hanya begitu lezat. Saking menikmatinya, Melissa sampai mengunyah makanannya dengan memejamkan matanya.


****


__ADS_2