Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Suara Tembakan


__ADS_3

Tak lama kemudian, Luciano dan Melissa pun keluar dari kamar. Mereka berjalan menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati. Semua fokusnya para tamu tertuju pada pasangan suami istri yaitu Melissa dan Luciano. Selain parasnya yang tampan dan cantik, keduanya terlihat sangat cocok.


Mereka berjalan ke arah keluarganya yang sedang berkumpul. Saat ini keluarga Melissa pun sudah sampai di kediaman Luciano. Begitu sampai di hadapan keluarganya, Luciano membantu istrinya duduk di kursi king size yang mengarah pada para tamu.


Kemudian, Luciano Turut duduk di sebelah istrinya. Sementara itu, Eloisa dan Cassie memulai acara syukurannya. Acara itu berlangsung cukup lama, sekitar 4 jam. Setelah acara itu selesai para tamu dan juga ratusan anak yatim piatu  mengantri untuk menerima bingkisan beserta uang dari Luciano dan Melissa.


Terlihat jelas di mata para anak yatim piatu sebuah kebahagiaan yang begitu tulus. Ada beberapa anak yang memeluk Melissa dan juga Luciano. Sementara itu, terlihat seorang wanita yang merupakan suruhan Yobelia terlihat sangat marah.


Bagaimana tidak, rencana untuk meracuni Luciano itu gagal total sebab racun arsenik yang diberikan Yobelia hilang entah ke mana. Sedangkan Yobelia, dia tidak ingin mendengar kata gagal. Maka dari itu, ibu rumah tangga ini memutuskan untuk mengambil sebuah pisau dari dapur tanpa sepengetahuan para pelayan.


Setelah dirasa cukup aman, ibu rumah tangga itu langsung berlari ke arah Luciano dengan mengangkat tangannya yang tengah memegang pisau dapur dan hendak menusuk Luciano di bagian leher. Namun, sayangnya, sebelum pisau itu menusuk leher Luciano. Para bodyguard dan juga Alano melihat kejadian itu. Dan tanpa berpikir panjang Alano segera mengeluarkan pistol dari saku jasnya.


Dorr! Dorr!


Alano menarik pelatuknya dan peluru pun menembus dada wanita itu. Tidak hanya satu kali, Alano juga menembak wanita itu sebanyak dua kali dan untuk yang kedua kalinya, dia menembak di bagian kepala sampai wanita itu jatuh terkapar dengan mengeluarkan banyak darah.


Hal itu membuat semua para tamu dan juga anak-anak berlarian karena takut. Namun, karena Luciano seorang Dokter dia mampu menangani keadaan kacau seperti ini menjadi terkendali. Walaupun dia tidak bisa menyelamatkan nyawanya setidaknya dia sudah berusaha menanganinya di hadapan semua orang.


Sementara itu, Alano memasukkan pistolnya kembali dan menenangkan para tamu yang sangat ketakutan itu dengan mengatakan jika wanita yang tewas itu adalah seorang mata-mata yang akan mencelakai keluarganya. Setelah dijelaskan beberapa menit lamanya kini para tamu mulai kembali tenang dan melupakan kejadian itu. Alano mengerahkan anak buahnya untuk menyeret jasad wanita itu ke taman belakang.


Melissa yang melihat kejadian mengerikan di depan matanya itu pun membuat lututnya terasa lemas disertai debaran jantungnya yang begitu cepat. Bukan hanya itu, keringat mulai bercucuran disertai tubuhnya yang bergetar. Melihat hal itu, Luciano berlari ke arah istrinya dan langsung menggendong membawanya ke kamar.


"Mas ... Aa-aku takut," ucap Melissa dengan gelapan karena takut. Napas Melissa begitu berat seperti orang sesak napas.

__ADS_1


"Sstt! Jangan takut. Ada aku bersamamu," ucap Luciano dengan menenangkan istrinya.


Tak lama kemudian, mereka sampai di kamarnya. Luciano langsung mendudukkan istrinya di ranjang. Pada saat Luciano hendak memeluk Melissa, istri Luciano ini pun mendorong tubuhnya.


"Jangan mendekat, Mas!" ucap Melissa ketakutan setelah melihat noda darah di jas dan kemeja putih suaminya.


"Ada apa, Sayang? Kamu kenapa?" tanya Luciano sembari terus mendekati Melissa.


"Aku takut darah, Mas. Pakaianmu penuh dengan darah wanita itu." Melissa menaikkan kedua kakinya ke ranjang, lalu dia memeluk kedua lututnya.


"Okay, okay. Mel jangan takut lagi, aku akan ganti pakaianku ini." Luciano mulai melucuti pakaiannya sampai hanya tersisa CD saja.


Kemudian Luciano memasukan pakaian yang lebih darah ke dalam plastik dan membuangnya. Setelah itu dia memakai pakaian setelah rumahan. Perlahan dia mendekati istrinya lagi. 


"Tapi, Mas ... wanita itu mati ditembak oleh ayahmu tepat di depan mata kepalaku sendiri. Dia mati, Mas! Bagaimana aku bisa tenang setelah aku menyaksikan kejadian mengerikan itu. Aku semakin takut, Mas." Melissa melepaskan pelukannya dan menangis ketakutan.


Seharusnya acara syukuran 4 bulanan Melissa berjalan lancar dan mmengesankan kini berubah menjadi kejadian yang sangat mengerikan. Bagaimana tidak, kasus penghilangan nyawa terjadi di hadapan semua orang termasuk anak-anak juga. Luciano mengangguk dan kembali memeluk istrinya.


"Aku minta maaf atas kejadian ini ya, Sayang. Kau tahu bukan, wanita itu mau menusukku? Itulah kenapa Daddy menembak wanita itu. Entah siapa yang telah menyuruh wanita malang itu untuk mencelakaiku sehingga dia harus merenggang nyawa di tangan Daddy," tutur Luciano.


Mendengar itu, Melissa mengangkat wajahnya untuk menatap suaminya. "Jadi, wanita itu mau menusukmu?" tanya Melissa dengan matanya yang membola.


Rupanya Melissa tidak tahu jika suaminya hendak dilukai oleh wanita itu. Yang dia tahu dan saksikan ketika suara tembakan terdengar seisi ruangan dan terlihat seorang wanita terkapar dengan berlumuran darah. Luciano mengangguk meng-iyakan jawaban dari pertanyaan istrinya.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Aku minta maaf ya, aku mohon untuk tidak mengingat kejadian itu lagi ya. Ingatlah, saat ini di dalam perutmu ada anak kita. Anak yang harus kita jaga, kita rawat dan kita berikan kasih sayang bersama-sama. Jika kamu banyak pikiran, kamu bisa setres dan akan mempengaruhi pertumbuhan calon buah hati kita. Aku mohon ya, Sayang. Demi anak kita." Luciano melepaskan pelukannya. Kemudian dia menggenggam tangan istrinya.


"Iya, Mas. Maafin aku juga, aku tidak tahu jika Mas hampir saja terluka karena wanita itu." Melissa menatap suaminya dengan matanya yang berlinang air mata.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Mungkin Tuhan masih memberiku umur uang panjang. Aku bersyukur akan hal itu, aku tidak tahu jika saja Daddy tidak menyelamatkanku hari ini, mungkin aku sudah mat--"


"Sstt! Jangan katakan itu!" Melissa membungkam mulut suaminya.


"Jangan pernah katakan itu! Aku tidak akan membiarkanmu pergi secepat itu, Mas! Ingatlah, aku dan bayi kita ini masih sangat membutuhkanmu. Jangan pernah bicara sembarang seperti itu. Berjanjilah, Mas harus berjanji jika Mas akan baik-baik aja, Mas akan selalu bersamaku dan merawat bayi kita bersama-sama. Berjanjilah." Melissa meminta suaminya untuk berjanji.


"Aku berjanji, Sayang. Aku takkan pernah meninggalkan kalian berdua, aku akan tetap bersama kalian. Bagiku kalian adalah sumber kehidupanku." Luciano mengelus perut Melissa yang sudah terlihat membuncit.


Luciano mencium perut Melissa dengan sangat lembut. Begitupun dengan Melissa, dia mengelus rambut suaminya dengan penuh kasih sayang. "Aku menyayangimu, Mas."


"Aku juga menyayangimu, Nyonya Immanuel. Muach, muach!" Luciano terus menciumi perut Melissa.


"Aah-haha, Mas sudah. Jangan menciumi perutku seperti itu, rasanya sangat geli," keluh Melissa dengan sedikit menggeliat karena geli.


Tiba-tiba dalam benak Luciano timbul kejahilannya. Tangannya mulai memegang goa sehingga membuat Melissa terlonjak kaget. "Mas! Kamu nakal ya, nyerangnya ke situ mulu," omel Melissa.


Tanpa banyak bicara Luciano mengukung tubuh istrinya dan hendak menciumnya. Namun, sebelum ciuman itu mendarat di bibirnya tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. "Kalian!"


Seketika Luciano langsung bangun dan saling memandang satu dalam lain dengan istrinya.

__ADS_1


****


__ADS_2