
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari demi hari silih berganti, kini hari telah berganti minggu. Itu artinya Luciano akan datang melamar Melissa. Kali ini yang berbeda adalah Luciano melamar bersama keluarganya.
Di kediaman Jordan ....
Saat ini keluarga Melissa dengan keluarga Luciano tengah berkumpul di ruang keluarga. Mereka sedang membicarakan mengenai tanggal pernikahan anak-anaknya. Melissa dan Luciano tampak terlihat sangat bahagia.
"Bagaimana jika pernikahannya terjadi 3 bulan yang akan datang kita ambil tanggal muda saja?" tanya wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah ibunya Luciano yang bernama Eloisa Harlow Immanuel.
"Saya terserah anak-anak saja, Bu. Jika anak-anak siap menikah dalam waktu 3 bulan maka kita akan persiapkan segala sesuatunya dari sekarang," jawab Cassie.
"Baiklah, Luci bagaimana? Apa kalian siap menikah dalam waktu 3 bulan ini?" tanya Eloisa pada putranya.
"Luci siap, Mom. Luci serahkan semua keputusan ini pada calon istriku." Luciano menoleh ke arah Melissa.
"Bagaimana, Mel? Apa keputusanmu? Apa kau siap menikah dalam 3 bulan?" tanya Cassie pada putrinya.
"Mel siap, Bu," jawab Melissa disertai senyuman.
"Ya sudah, karena semuanya sudah setuju dengan pernikahan ini maka kami akan persiapkan pesta pernikahannya dari sekarang, ya 'kan, Sayang?" Eloisa bertanya pada suaminya yang bernama Alano Immanuel.
"Ya, Sayang. Buatlah pesta pernikahan yang sangat mewah. Ini adalah pernikahan putra bungsu kita, kita harus menggelar pesta pernikahan yang sangat megah, kalau bisa sampai tercatat di dalam sejarah," ujar Alano Immanuel.
Mendengar itu, Melissa merasa tidak enak. "Maaf, Om. Bukannya Mel menolak akan tetapi, aku merasa semua ini terlalu berlebihan. Aku tidak ingin menggelar pesta pernikahan yang sangat mewah. Mel itu seorang janda, rasanya tidak pantas jika Mel menikah dengan menggelar pesta pernikahan yang begitu mewah seperti itu," timpal Melissa.
Luciano menoleh ke samping. "Sayang, kenapa bicara seperti itu? Apa salahnya jika seorang janda menggelar pernikahan yang mewah? Semua itu tidak jadi masalah. Benar 'kan, Dad?" Luciano meminta penjelasan pada ayahnya.
"Iya, Nak Melissa. Apa yang putraku katakan memang benar. Tidak menjadi masalah jika seorang janda menggelar pernikahan yang mewah. Wanita janda juga berhak memulai kehidupan yang lebih baik. Jangan bicara seperti itu lagi ya, Sayang. Kami hanya ingin melihat pernikahan kalian lancar, mewah dan meriah. Pernikahan kalian adalah sekali seumur hidup, jangan sia-siakan semua ini. Kau jangan menolak ya, Nak. Biarkan kami mempersiapkan semuanya dengan meriah," tutur Alano dengan lembut.
Melissa tersenyum. "Iya, Om. Mel serahkan semuanya pada Om, Tante dan orang tua Mel," timpal Melissa
"Nah, gitu dong. Kalian berdua memang seharusnya diam saja. Serahkan semuanya pada kami, biarkan kami yang akan mempersiapkan dengan sangat meriah, benar begitu Pak Dominic?" kekeh Alano pada ayahnya Melissa.
"Pak Alano benar, kalian pergilah bersenang-senang. Biar kami yang mengurus semua ini," timpal Dominic.
"Baiklah, kalau begitu Luci sama Mel pergi keluar sebentar ya. Ayo, Mel," ajak Luciano seraya menarik tangannya.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Melissa seraya menatap calon suaminya.
"Udah ikut aja, nanti kau akan tahu. Kami pergi dulu, Mom-Dad." Luciano membawa Melissa pergi dari ruang keluarga.
__ADS_1
****
"Masuklah!" Luciano membukakan pintu mobilnya.
"Mas, kita mau ke mana?" tanya Melissa lagi.
"Aku ingin mengajakmu ke toko perhiasan. Ayo masuk," jawab Luciano.
Melissa pun langsung masuk. Sementara itu, Luciano menutup pintu mobilnya begitu Melissa masuk. Kemudian dia mengitari mobilnya dan masuk melalui pintu kemudi.
Luciano segera memakai seat belt serta melajukan mobilnya. "Mas, bukankah masih banyak waktu untuk membeli perhiasan? Pernikahan kita masih lama, kenapa Mas ingin membelinya sekarang?" Melissa menoleh ke arah calon suaminya.
"Aku ingin memesan kalung yang di dalamnya terdapat foto dan nama kita berdua. Untuk cincin pernikahan biarkan orang tua kita yang mengurusnya." Luciano tersenyum.
'Kenapa dia sangat mirip dengan Xian-Ge? Ah, aku jadi teringat lagi padanya.' Melissa bermonolog dalam lamunannya.
Rupanya dia teringat pada sahabatnya, Yuxian. Kenapa tidak, karena sebelumnya dia pernah melakukan ini bersama sahabatnya. Dia memesan perhiasan yang di dalamnya terdapat foto serta nama mereka.
Hanya saja jenis perhiasannya yang beda. Jika Luciano menginginkan kalung, sedangkan Yuxian menginginkan cincin. Namun, maknanya tetap sama. Itulah kenapa Melissa tiba-tiba teringat kembali akan sahabatnya itu.
Tak!
"Sayang!" Luciano menyentuh lengan Melissa yang terlihat sedang melamun.
"Eh .... iya, Mas." Melissa tersadar dari monolognya.
"Ada apa? Kenapa melamun? Apa kau sakit?" tanya Luciano seraya menempelkan telapak tangannya di kening Melissa.
"Tidak, Mas. Aku baik-baik aja, aku hanya teringat sesuatu," jawab Melissa diakhiri dengan senyuman.
"Apa itu? Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak ada, Mas. Lupakan saja, itu bukan hal yang penting. Ayo, jalan." Melissa tidak menjawab pertanyaan Luciano.
Melissa tidak ingin membuat Luciano merasa ragu dengan perasaannya. Dia tidak ingin membicarakan tentang Yuxian lagi di hadapan calon suaminya. Janda yang sebentar lagi sold out ini pun melingkarkan tangannya di lengan Luciano dan menyandarkan kepalanya.
"Mas, boleh aku bersandar seperti ini?" yang Melissa seraya mengangkat wajahnya menatap Luciano.
"Tentu saja, kenapa tidak. Aku ini milikmu, Mel. Jangan meminta izin seperti itu." Luciano mengelus lembut wajah calon istrinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas. Ayo, jalan. Aku tidak sabar ingin melihat kalung seperti apa yang akan Mas berikan padaku," kekeh Melissa.
"Haha, ayo. Aku yakin kau pasti akan menyukainya," timpal Luciano seraya melajukan mobilnya.
"Oh iya? Aku jadi semakin penasaran, Mas."
****
Diamond shop ....
Setelah sampai di depan Diamond Shop, mereka pun masuk secara bersama. Tentunya sebelum masuk, mereka harus melewati pemeriksaan kecil oleh security di sana. Setelah itu, mereka pun berjalan menuju perhiasan khusus kalung.
Melissa terkesima melihat kalung yang bermacam-macam modelnya. Kalungnya begitu menyilaukan mata, hal itu menandakan jika itu adalah diamond asli. Tanpa berlama-lama Luciano menunjuk salah satu kalung dan meminta pelayan toko itu untuk mengambilnya.
"Mbak, tolong ambilkan kalung yang itu. Saya ingin melihatnya dari dekat!" perintah Luciano.
"Baik, Pak." Pelayan itu pun segera mengambilnya.
Pelayan itu mengambil dengan kedua tangannya telah memakai sarung tangan. "Ini, Pak." Pelayan itu memberikannya pada Luciano.
"Sayang, bagaimana dengan model kalung yang ini? Apa kalung ini sesuai dengan seleramu?" tanya Luciano sembari menatap ke arah Melissa yang sedari tadi sudah menatap kalung yang Luciano tunjuk.
Dengan cepat Melissa mengangguk cepat. "Iya, Mas. Aku menyukainya, sangat menyukainya." Melissa tersenyum bahagia.
"Baiklah. Mbak, saya ingin memesan kalung model seperti ini akan tetapi saya ingin di dalamnya terpasang foto kami dan juga nama kami. Apakah bisa?" tanya Luciano.
"Bisa, Pak. Akan tetapi harganya akan jauh lebih mahal dari harga kalung yang ini," jawab pelayan toko.
"No problem. Saya akan membayarnya. Kira-kira kapan kalung itu bisa di ambil?" tanya Luciano.
"Seminggu, Pak."
"Baiklah, saya akan membayarnya di awal. Jika kalungnya telah siap, kabari saya. Berapa harganya?" tanya Luciano.
"43 juta, Pak."
"Baik, saya akan bayar." Luciano memberikan kartu ATM-nya.
Sementara itu, Melissa hanya tertegun dengan matanya yang membelalak dengan sempurna begitu mendengar harga kalung diamond yang calon suaminya pesan.
__ADS_1
****