
"Ya, semalam aku kenapa, Mas? Cepat katakan!" Melissa mendesak Luciano agar menceritakan kejadian semalam.
"Semalam kau ...." Luciano menceritakan kejadian semalam pada calon istrinya.
{Flashback!
"Sayang, sudah cukup! Kau terlalu banyak minum hari ini. Ingatlah, terlalu banyak minum minuman beralkohol itu tidak baik untuk kesehatanmu," tegur Luciano.
Luciano paham betul tentang resiko terlalu banyak minum alkohol, sebab dia seorang dokter. Dia tahu betul apa yang akan terjadi pada tubuh seseorang yang terlalu banyak minum minuman beralkohol dalam jumlah yang banyak. Selain bisa membuat orang yak sadarkan diri, orang yang kebanyakan minum alkohol bisa mengakibatkan organ tubuhnya rusak secara perlahan.
Meski Luciano telah menegur calon istrinya, Melissa tetap bersikukuh ingin terus melanjutkan minum. "Ayolah, Mas. Aku tidak pernah minum seperti ini. Biarkan aku bahagia malam ini saja. Asal Mas tahu saja ... sejak Mas hadir di kehidupanku, aku merasa hidupku terasa hidup kembali dan semakin berwarna. Jadi, aku ingin berpesta atas kebahagiaanku ini. Aku mohon, Mas. 1 botol saja ya," Melissa memelas pada Luciano dengan wajah yang membujuk.
Luciano yang merupakan pria peka itu pun tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain menyetujui calon istrinya itu. Dia tidak tega melihat Melissa yang memelas seperti itu. Pria Italia ini memang tidak tahan melihat seorang wanita bersedih apalagi sampai memelas seperti itu.
"Baiklah, aku izinkan. Tapi, setelah itu kau harus beristirahat di kamarmu, okay?" ujar Luciano.
Melissa mengangguk dengan cepat. "Okay, Mas." mata Melissa langsung berbinar seketika.
Melissa sangat senang karena Luciano memperbolehkannya untuk minum kembali. Walaupun matanya sudah teler dan berdiri pun sudah tidak seimbang dia tetap memutuskan untuk kembali minum. Yang ada di pikiran wanita ini hanyalah bersenang-senang malam ini.
Luciano mengambil satu botol minuman yang diminta Melissa. Begitu dia sudah membawakan serta meletakkan botol minuman itu di atas meja, Melissa langsung meraih botol itu. Namun, sebelum Melissa menuangkan minuman itu, Luciano memegang tangan calon istrinya disertai tatapan yang begitu dalam.
Melissa menoleh ke arah calon suaminya. Dia yang sejak awal hendak menuangkan minuman itu, berubah menjadi mendekati Luciano. Kedua tangannya melingkar di leher Luciano dan tanpa pria Italia ini sadari, sebuah kecupan mendarat tepat di bibirnya.
Sepasang bola mata Luciano membelalak dengan sempurna. Dia cukup terkejut dengan serangan Melissa yang begitu mendadak. Pria Italia ini mencoba untuk menahan hasratnya, akan tetapi melihat mata dan bibir calon istrinya yang begitu indah dan menggoda membuat hasratnya semakin menjadi.
__ADS_1
Luciano sudah tidak tahan lagi dengan keadaan seperti itu. Dia pun menggendong tubuh Melissa dan membawanya ke kamar. "Mas, aku masih ingin minum. Biarkan aku minum satu botol lagi," ucap Melissa dengan menoleh ke arah botol yang berada di atas meja.
"Kau sudah kebanyakan minum, Sayang. Kau harus istirahat," timpal Luciano dengan suara yang berat.
"Aah, Mas!" rengek Melissa.
"Oh tidak, jangan mengucapkan itu. Suaramu seperti sedang memancingku," ujar Luciano.
Ceklek!
Setelah sampai di depan kamar, Luciano segera membuka pintunya. Dia membawa Melissa masuk serta menidurkannya di kasur. Kemudian pria Italia ini berjalan untuk menutup kembali pintunya.
"Mas, kenapa mengunci pintunya?" tanya Melissa dengan mata yang disipitkan.
Kali ini kesadaran Melissa sudah semakin menipis, dia sudah merasa pandangannya mulai kabur. Itulah kenapa dia menyipitkan matanya untuk memastikan apa yang dia lihat. Wanita ini hendak bangun dan berniat untuk menghampiri Luciano. Akan tetapi, sebelum itu terjadi, entH bagaimana caranya, calon suaminya ini sudah berada di atasnya.
Tiba-tiba hal tak terduga terjadi, Melissa tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat hasrat Luciano kembali meningkat. "Jika kau menginginkan hal itu, maka lakukanlah. Aku tidak akan melarangmu, Mas! Aku akan menerimanya dengan senang hati. Ayo kita lakukan penyatuan itu, kau calon suamiku. Akan kuberikan apapun yang kau inginkan." Melissa menarik tengkuk Luciano.
Deg!
Luciano yang mendengar itu tentu saja merasa shock. Bagaimana bisa hal seperti ini keluar dari bibir seorang Melissa. "Tidak, Mel. Aku tidak akan melakukan itu! Walaupun aku hasratku sudah meningkat, tapi aku akan menahannya. Aku tidak akan melakukan hal itu sampai kita benar-benar bisa menikah. Aku akan melakukan itu setelah kita resmi menjadi suami dan istri." Luciano menatap lekat mata Melissa.
Mendengar itu, Melissa tersenyum. "Aku menyayangimu, Mas." Melissa mencium bibir lembut Luciano.
Lagi-lagi Luciano dibuat terkejut oleh perlakuan Melissa. Dia hendak melepaskan pagutannya akan tetapi Melissa semakin mengeratkan pelukannya. Sehingga pria Italia ini tidak menolak serangan calon istrinya lagi. Kini hasrat seorang laki-lakinya benar-benar sedang diuji.
__ADS_1
Setelah beberapa menit Melissa bermain bibir, Luciano akhirnya membalas ciuman itu. Namun, alih-alih membalasnya dengan kelembutan, justru dia membalasnya dengan cukup bergairah dan ganas. Bukannya menolah, Melissa justru malah menikmatinya.
Setelah puas bermain bibir, Luciano melepaskan pagutannya. "Maafkan aku, Sayang. Kita tidak boleh melakukan itu sampai kita menikah nanti. Sadarlah, kau sedang dalam pengaruh alkohol. Sebaiknya kau tidur," ujar Luciano.
Melissa yang merasa kepalanya semakin berat dan pusing, tak lama kemudian dia pun tak sadarkan diri di ranjangnya. Melihat itu Luciano tersenyum serta menggelengkan kepalanya. Kemudian dia menarik selimut dan menyelimuti calon istrinya dengan lembut. Sebelum dia keluar dari kamarnya, pria Italia ini membisikkan sesuatu di telinga Melissa.
"Tidur yang nyenyak, Sayang. Aku mencintaimu, aku sangat menyayangimu. Have a nice dream, My wife. Cup!" Luciano mengecup kening Melissa.}.
Pada saat Luciano menceritakan kejadian semalam, tak henti-hentinya dia menutup kedua telinga disertai menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku tidak mungkin melakukan itu, Mas! Mas pasti sedang prank aku 'kan?" tuduh Melissa yang belum mempercayai ucapan calon suaminya.
"Lihat mataku!" Luciano memegang kedua wajah Melissa.
Melissa pun menatapnya. "Apakah di mataku terlihat ada kebohongan? Aku tidak berbohong. Aku mengatakan yang sebenarnya terjadi semalam," jelas Luciano.
"Jadi, aku melakukan hal itu?"
Luciano mengangguk. "Iya,"
"Ya ampun, maafin aku, Mas. Aku tidak tahu jika aku melakukan hal yang memalukan seperti itu. Aku benar-benar tidak ingat tentang apa yang terjadi semalam. Apa semalam kita--"
"Tidak, semalam kita tidak melakukan hal itu selain kissing. Maafkan aku ya, Sayang. Aku sudah berusaha menahan hasratku itu akan tetapi, melihatmu semalam aku hampir kehilangan akal makanya aku membalas ciuman itu." Luciano menatap lekat Melissa.
"Seharusnya aku yang meminta maaf, Mas. Aku yang telah membuat Mas menahan hasrat yang begitu besar. Terima kasih karena Mas masih bisa menahannya. Mas pria yang baik, aku salut sama Mas. Aku semakin yakin jika Mas adalah pria yang setia. Mas bisa mengendalikan diri dengan baik," puji Melissa.
"Aku tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, Sayang. Semalam aku tahu kau sedang dibawah pengaruh alkohol, tidak heran jika kau melakukan sesuatu yang belum pernah kau lakukan sebelumnya." Luciano tersenyum seraya mengelus lembut kepala Melissa.
__ADS_1
"Lupakan itu, anggap saja tragedi malam itu tidak pernah terjadi. Sekarang tersenyum karena kita akan memesan baju pengantin untuk pernikahan kita," tutur Luciano disertai senyuman. Dibalas anggukan dan senyuman juga oleh Melissa.
****