Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Bonus Part


__ADS_3

"Kamu?" Melissa langsung beranjak dari ranjangnya.


"Ini susu untukmu," ucap seorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah mantan suaminya, Danny.


"Sedang apa kamu di kamarku? Bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku?" tanya Melissa dengan menjaga jarak dari mantan suaminya.


"Jangan salah paham dulu, aku hanya kebetulan lewat rumahmu dan tidak sengaja juga ada tukang susu murni hangat, ya sudah aku membelikannya untukmu. Setahuku dulu kamu sangat menyukai susu murni jadi aku teringat padamu pada saat melihat susu murni ini," jelas Danny disertai senyumannya.


"Aku hargai niat baikmu itu, Danny. Tapi, kamu harus ingat jika kita itu sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Tidak baik jika kamu masuk ke rumahku disaat malam-malam seperti ini. Bisa menimbulkan fitnah nantinya. Sebaiknya kamu pulang sekarang dan letakkan saja susunya di meja nakas," timpal Melissa dengan sopan.


Danny menaruh segelas susu itu di meja. Kemudian dia menggenggam kedua tangan Melissa sembari menatap mantan istrinya dengan tatapan yang sangat dalam. Melissa tentu saja tidak terima jika Danny menggenggam kedua tangannya.


"Lepasin tanganku, Danny! Kamu jangan lancang ya, aku bisa berteriak dan membuat semua warga datang ke rumahku!" ancam Melissa.


"Berteriaklah jika kamu ingin berteriak! Tapi, sebelum itu dengarkan aku dulu. Beri aku waktu untuk bicara sebentar saja denganmu," ujar Danny.


"Apa lagi sih, Danny? Apa yang mau kamu bicarakan denganku. Dengar ya, urusan kita sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Harus berapa kali aku katakan padamu untuk move on! Keluarlah dari masa lalumu, jangan terus menggangguku seperti ini!" tegas Melissa dengan ketus.


"Aku maunya seperti itu, Mel. Tapi, aku rasa aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Aku masih menyukaimu, Mel. Seandainya kamu mau, aku bisa menjadi ayah bayimu ini." Danny mengelus lembut perut Melissa.


Melihat hal itu tentu saja Melissa marah, dia menepis tangan Danny dari perutnya. "Jangan mimpi! Jangan kamu pikir saya seorang janda sekarang kamu bisa seenaknya memperlakukan aku! Asal kamu tahu saja, orang yang berhak menjadi ayah bayi ini adalah Mas Luci! Hanya dia yang akan menjadi ayah bayi ini!" bentak Melissa penuh dengan amarah.


"Tapi suamimu itu sudah mati! Dia sudah mati, dia tidak akan bisa merawat bayimu, tubuhnya sudah dimakan cacing tanah!"


Plakk!

__ADS_1


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Danny. "Berani sekali kau bicara seperti itu! Mas Luci adalah suamiku, walaupun dia sudah meninggal sampai kapanpun dia akan tetap menjadi suamiku. Aku tidak akan pernah berpaling darinya. Jadi, sebelum kau bicara itu baiknya dipikir terlebih dahulu! Sekarang sebelum aku lapor polisi, mau pergi dari rumahku sekarang. PERGI!" bentak Melissa dengan mengusir Danny.


****


Hari demi hari Melissa sudah lalui, bahkan bulan demi bulan dia lewati. Kini usia kandungan Melissa sudah menginjak 9 bulan lebih 3 hari. Dia sedang berjalan-jalan di halaman rumahnya karena dia sudah merasakan kontraksi pada perutnya.


Setelah beberapa menit kemudian, rasa mulas akibat kontraksi itu membuatnya semakin kewalahan. Dia sudah tidak tahan lagi, sepertinya dia akan segera melahirkan. Tanpa berlama-lama lagi, Melissa menghubungi orang tuanya dan juga kakak iparnya untuk meminta bantuan.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Melissa. Mobil itu adalah milik Emma. Emma keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri adik iparnya.


"Mel, kamu mau lahiran?" tanya Emma dengan wajahnya yang cemas.


"Iya, Kak. Perutku sakit sekali, aku sudah tidak tahan lagi. Tolong aku, Kak. Antar aku ke rumah sakit," ucap Melissa dengan merintih kesakitan.


"Iya, Sayang. Ayo kita kerumah sakit sekarang. Ayo, aku bantu." Emma membantu Melissa berjalan dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Kak, ayo ngebut! Aku sudah tidak tahan lagi. Perutku sakit sekali," rengek Melissa.


"Sabar, Dek. Kakak udah ngebut ini. Kamu tahan dikit lagi ya, sebentar lagi kita sampai," ucap Emma.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit LS Immanuel. Dengan cepat Emma membantu Melissa memasuki rumah sakit. Setelah masuk, Emma langsung berteriak memanggil dokter yang gak lama kemudian dua orang suster dan 1 dokter datang dan langsung membawa Melissa ke ruangan persalinan.


Emma mengikuti Melissa. Namun, dia hanya menunggu di luar ruang persalinan. Karena, dokter melarang orang lain masuk ke ruang persalinan.


Emma terlihat tidak tenang, dia terus mondar mandir menunggu kelahiran keponakannya. Tidak lupa, dia pun mengabari orang tuanya yang berada di Italia tentang Melissa yang melahirkan hari ini. Tiba-tiba orang tua Melissa sudah sampai di rumah sakit.

__ADS_1


Mereka yang menunggu kelahiran bayinya Melissa pun terus berdoa agar persalinannya lancar dan selamat. Sementara itu, Melissa yang berada di ruang persalinan sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan malaikat kecil yang lucu dan murni. Keringat mulai membanjiri tubuhnya disertai wajahnya yang pucat pasi.


Setelah beberapa kali Melissa mengeden, hingga akhirnya suara tangisan bayi pun sudah terdengar. Itu artinya Melissa sudah berhasil melahirkan bayinya. Malaikat kecil itu pun ditengkurapkan di dada Melissa.


Melihat bayinya yang sudah lahir, Melissa pun meneteskan air mata. Dia terharu karena bayi yang selama ini dinantikan oleh mendiang suaminya telah lahir ke dunia dengan selamat dan normal. "Dok, anak saya cewek apa cowok?" hanya Melissa dengan suara yang lemas.


"Selamat, Bu. Anak Ibu laki-laki, dia sangat tampan persis seperti mendiang Dr. Luci," puji Dr. Nita. Yup, Dr. Nita adalah dokter yang beberapa bulan lalu Luciano telepon untuk membantu memeriksa istrinya.


"Dokter benar, bayi ini sangat tampan. Melihat parasnya, aku melihat seperti Mas Luci yang terlahir kembali," ucap Melissa dengan hatinya hanya perih.


"Kalau boleh saya tahu, siapa nama bayi tampan ini, Bu?"


"Gabriel Jordan Immanuel," jawab Melissa.


"Nama yang indah. Oh iya, Bu ... siapa yang akan mengadzani bayi ini?" tanya Dr. Nita.


"Biar saya yang mengadzani bayi yang lucu ini, Dok," timpal seorang pria yang tiba-tiba masuk.


Seketika semua orang yang ada di ruang persalinan menoleh ke arah sumber suara. "Xian-Ge?" panggil Melissa.


Yup, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya sendiri, Yuxian. Karena Melissa sudah kehabisan tenaga dia pun langsung pingsan tanpa menyaksikan putranya diadzani oleh sahabatnya.


Setelah beberapa saat kemudian, Dr. Nita keluar dari ruang persalinan dan menyampaikan jika anak Melissa sudah lahir. Mendengar kabar gembira itu, seluruh keluarga merasa senang dan bahagia. Setelah kejadian pahit yang dialami Melissa, kini Luciano junior sudah lahir dengan nama yang berbeda, yaitu Gabriel Jordan Immanuel.


Ending!

__ADS_1


****


__ADS_2