
"Yuxian?" Fang Yin menyeka air matanya dan menoleh ke arah putranya.
"Apa alasan Mama melakukan semua ini? Kenapa Mama mendatangi rumah keluarga Mel? Apa Mama ingin kami salah paham dengan lamaran ini? Yuxian enggak mau Mel membenciku, Ma. Mel sahabatku," Yuxian membanjiri mamanya dengan banyak pertanyaan.
"Kau juga harus ingat, Nak. Aku ini Mamamu! MAMAMU, Mama yang melahirkanmu ke dunia ini. Dan kau tahu, Mama melakukan ini demi kebahagiaanmu. Demi kebahagiaanmu Mama sampai melanggar peraturan keluarga wuxing. Itu karena Mama sangat ingin melihatmu bahagia. Tapi apa yang Mama terima darimu? Kau malah menyalahkanku. Kau lebih membela sahabatmu dari pada Mamamu sendiri. Apa kau tidak merasa sakit hati dengan perlakuan Mel? Dia lebih memilih pria yang baru dia kenal beberapa bulan ini ketimbang sahabatnya sendiri yang selalu membantu dan selalu menemaninya disaat dia terpuruk. Tapi, apa yang kau dapatkan dengan terlalu baik pada sahabatmu itu? Kau bagaikan barang yang sudah tidak digunakan lagi. Kau telah dibuang bagaikan sampah! Kau telah dicampakkan, Yuxian! Sadarlah!" bentak Fang Yin dengan amarahnya yang memuncak. Dia berdiri dengan menyorotkan tatapannya yang begitu tajam.
Mendengar ucapan mamanya, Yuxian merasa tertampar keras oleh kenyataan. Sakit jika harus mendengar kata dicamakkan, akan tetapi dia harus sadar seperti apa yang Fang Yin katakan. Yuxian memang sakit hati dan kecewa pada sahabatnya, akan tetapi dia juga sadar jika saat ini Mel akan menjadi milik orang lain.
"Aku sadar, Ma. Aku sadar jika saat ini aku dicampakkan lagi untuk yang kedua kalinya. Aku sadar itu. Akan tetapi aku juga sadar, jika Mel sudah mencintai pria lain. Perasaan tidak bisa dipaksakan, Ma. Cinta tak selamanya indah, cinta juga tidak harus saling memiliki. Jika memang cinta, kenapa tidak belajar untuk melepaskannya secara perlahan? Yuxian hanya ingin Mel bahagia, Ma. Hanya itu yang aku inginkan sekarang," tutur lembut Yuxian disertai berlinangnya air mata.
Mendengar ucapan putranya yang terasa sakit, dan melihat Yuxian yang seakan meneteskan air mata, Fang Yin pun langsung memeluk putranya. Dia tidak sanggup lagi. Hatinya hancur melihat putranya yang sangat dia manjakan dan selalu dibanjiri kasih sayang ini harus merasakan yang namanya patah hati.
"Kau jadi pria terlalu baik, Nak. Seharusnya kau tidak perlu sebaik dan sepeduli ini pada sahabatmu itu!" Fang Yin menepuk-nepuk punggung anaknya.
"Yuxian seperti ini karena aku sangat mencintai dan menyayangi Mel. Aku hanya ingin membuatnya bahagia. Dengan melihatnya selalu tersenyum bahagia, maka aku juga akan merasakan hal yang sama. Sebab kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga. Yuxian percaya dan yakin, jika kita berbuat baik suatu saat nanti Tuhan akan mengirimkan jodoh yang baik juga," timpal Yuxian dengan meneteskan air mata di pelukan mamanya.
"Okay, baiklah. Mama tidak akan melarangmu untuk keluar dari prinsipmu itu. Tapi, Mama akan membawamu ke Tiongkok. Mama ingin kau mengurus perusahaan Papamu di sana. Dan untuk PT. YD Garment, biarkan Ming Hao kakak iparmu yang akan mengelolanya. Bagaimana, Ming Hao?" Fang Yin melepaskan pelukabnya dan bertanya pada kakak iparnya Yuxian.
Ming Hao yang mendengar itu saling bertatapan dengan istrinya, Mei Yin. "Ming Hao gimana keputusan istriku, Mei Yin saja, Ma. Jika Mei Yin mau tinggal di sini bersamaku maka aku akan tetap di sini asalkan Mei bersamaku," jawab Ming Hao.
"Sayang, aku tidak keberatan kok. Jika kita harus tinggal di sini. Aku akan selalu menemanimu ke mana pun kau pergi." Mei Yin tersenyum seraya mengelus lembut tangan suaminya.
Ming Hao tersenyum seraya mengelus lembut kepala istrinya. "Kalau begitu, Ming Hao akan mengelola YD Garment, Ma," jawab Ming Hao.
"Bagus, kalau begitu ... Nanti malam Mama, Yuxian, Jian Ying dan Ibu Qiong Lin akan kembali ke Tiongkok!" tegas Fang Yin.
"Mama! Yuxian belum membuat keputusan, aku tidak ingin kembali ke negara kelahiranku! Aku ingin tetap di sini!" tolak Yuxian di depan semua orang.
__ADS_1
"Tidak bisa! Kau harus ikut sama Mama! Keputusan Mama sudah mutlak, tidak bisa diganggu gugat! Mulai saat ini, Mama akan membantumu melupakan bahkan membuang perasaanmu pada Mel itu sejauh mungkin. Mama ingin melihatmu kembali ke kepribadian yang dulu. Mama ingin melihatmu bahagia, dan keputusan yang Mama ambil ini adalah demi kebaikanmu sendiri. Jadi, percaya sama Mama." Fang Yin menatap dalam putranya.
Mau tidak mau, Yuxian harus menuruti keputusan mamanya. "Baiklah, aku akan kembali ke Tiongkok. Tapi, sebelum aku pergi, aku ingin menemui Mel dan Luci untuk berpamitan."
"Ya, tentu saja kau boleh menemui mereka. Tapi ingat! Jangan coba-coba untuk melarikan diri lagi. Ingat tindakanmu saat itu hampir mencelakai orang lain!" Fang Yin memberikan nasihat pada anaknya.
"Baik, Mama. Yuxian tidak ada akan kabur lagi. Yuxian janji," ucap Yuxian.
"Ya sudah, pergilah! Jangan lama-lama, karena kau harus packing barang-barangmu, mengerti!" tegas Fang Yin.
"Baik, Mama. Kalau begitu, Yuxian pergi dulu."
"Iya, Hati-hati di jalan ya, Nak."
"Ya, Ma. Bye." Yuxian pergi meninggalkan ruang tengah.
Sesampainya di basement, Yuxian masuk mobil dan segera melajukannya. Di perjalanan, dia menghubungi Mel terlebih dahulu untuk mengajaknya pergi.
Di dalam mobil yang berbeda ....
Melissa dan Luciano sedang di perjalanan menuju rumah sakit. Tiba-tiba ponsel Melissa berdering, tanda ada yang meneleponnya. Melissa menatap layar ponsel yang terlihat jelas nama Yuxian.
Sebelum mengangkat teleponnya, Melissa menoleh ke arah calon suaminya. Luciano pun menyadari jika calon istrinya ini tengah memandangnya. "Ada apa, Sayang? Siapa yang meneleponmu?" tanya Luciano dengan fokusnya ke jalanan.
"Yuxian meneleponku, Mas."
"Ya sudah, angkat saja," timpal Luciano.
__ADS_1
"Mas tidak marah?"
Luciano menepikan dan menghentikan mobilnya. "Hei, kenapa aku harus marah cuma karena Yuxian menghubungimu, heum? Lagi pula dia sahabatmu, aku tidak akan marah apalagi cemburu. Angkat saja ya, barangkali ada hal yang penting." Luciano memegang tangan calon istrinya.
"Baiklah, aku akan mengangkatnya." Melissa langsung mengangkat telepon dari sahabatnya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Xian-Ge," sapa Melissa setelah telepon tersambung.
"Hallo, Mel," terdengar suara Yuxian dari seberang telepon.
"Ada apa, Ge?" tanya Melissa.
"Bisa kita bertemu sekarang? Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu dan Luciano. Ajak pacarmu juga ya," jelas Yuxian.
"Bertemu? Sekarang? Tapi, Mas Luci akan bekerja,"
"Aku tahu. Sebentar saja kok, hanya beberapa menit saja. Aku ingin menemui kalian untuk yang terakhir kalinya."
"Apa maksudmu, untuk yang terakhir kalinya? Apa kau mau pergi?"
"Kita bahas itu nanti, sekarang katakan di mana kalian berada? Aku akan datang ke tempat kalian."
"Saat ini aku berada di jalanan depan MCD tak jauh dari rumah sakit. Bagaimana jika kita bicara di MCD saja?"
"Baiklah, aku akan datang. Kalian tunggu di MCD. Tutt!" Yuxian mengakhiri obrolannya.
__ADS_1
Telepon terputus!
BERSAMBUNG....