
Begitu Melissa masuk ke rumah itu, alangkah terkesimanya dia melihat sebuah sambutan yang bertuliskan welcome at home, My wife disertai hiasan bunga serta balon. Bukan hanya itu saja, dia melihat ada sebuah foto besar yang terpajang di dinding ruang utama rumah itu. Foto itu tidak lain dan tidak bukan adalah foto Melissa bersama Luciano saat foto prewedding.
Dari situ sudah bisa ditebak, jika rumah yang sedang dia datangi adalah rumahnya mereka. Namun, untuk memastikan tebakannya benar, Melissa pun kembali bertanya pada suaminya. "Mas, rumah siapa ini? Kenapa ada foto kita di pajang di sini?" tanya Melissa sembari menoleh ke arah suaminya.
"Ini rumah baru kita, Sayang. Mulai sekarang kita akan tinggal di rumah ini, ya. Kita akan membangun sebuah keluarga yang harmonis di sini. Rumah ini akan menjadi saksi betapa bahagianya keluarga kecil kita. Akan ada canda tawa anak kecil di sini, kita akan memiliki banyak anak di rumah ini. Semoga apa pernikahan kita langgeng terus sampai hanya ajal yang bisa memisahkan kita," tutur Luciano dengan lembut.
"Iya, Mas. Semoga rumah tangga kita selalu harmonis setiap saat ya. Oh iya, Mas ... kapan Mas merencanakan ini? Eumm ... maksudku kapan Mas membeli rumah ini?" tanya Melissa.
"Seminggu sebelum kita menikah, Sayang," jawab Luciano.
"Bukankah Mas sudah memiliki rumah, kenapa Mas beli rumah lagi?" tanya Melissa dengan mengerutkan kencingnya.
"Aku ingin memulai hidup baru, tentu saja kami juga harus memiliki tempat tinggal yang baru. Selain itu, rumahku sudah aku berikan pada Kak Emma, karena Kakakku akan tinggal di Indonesia," jelas Luciano.
"Woah ... seriusan, Mas? Kak Emma akan stay di Indonesia?" Kedua mata Melissa berbinar mendengar kabar yang menurutnya kabar gembira itu.
"Iya, Sayang. Setelah ini kita ke temui Kak Emma dan keluargamu ya," ajak Luciano disertai senyumannya yang mempesona.
"Iya, Mas."
"Ya udah, sekarang aku akan menunjukkan kamar kita dan kamar anak-anak kita nantinya. Selain itu, aku akan tunjukkan ruang khusus untukmu, ayo." Luciano mengajak istrinya melihat satu persatu ruangan yang ada di rumah mewahnya itu.
Melissa pun menanggapinya dengan anggukan dan senyuman. Kemudian mereka berjalan menelusuri setiap ruangan sehingga mereka sampai di salah satu kamar. Luciano mengusap layar sensor dan memasukkan password untuk membuka pintunya.
Setelah pintunya terbuka, Luciano mengajak istrinya masuk. "Mas, kenapa harus di password segala sih kamarnya? Kenapa tidak dikunci secara manual saja?" tanya Melissa dengan wajah yang heran.
__ADS_1
"Sayang, ingatlah bahwa aku ini keturunan mafia. Musuhku ada di mana-mana, aku tidak boleh sampai lengah. Aku tidak ingin istriku yang cantik dan menggoda ini sampai dilukai oleh musuhku itu," goda Luciano sembari mencolek dagu istrinya itu.
"Bisa aja, mana ada yang berani sama istrinya Dr. Tampanku yang satu ini. Walaupun Mas ini sweet tapi, aku yakin jika Mas ini garang sama orang lain yang punya niat jahat. Termasuk yang mau nyakitin aku nantinya, jadi aku tidak terlalu mengkhawatirkan akan hal itu selama Mas ada bersamaku," jelas Melissa dengan balik menggoda suaminya.
"Haha, bisa aja. Sekarang lupakan itu, dan lihatlah kamar kita ini. Apakah kau suka dengan desain kamarnya?" ujar Luciano dengan mengalihkan pembicaraan.
Setelah mendengar itu, Melissa segara mengecek setiap ruangan yang ada di kamarnya. Di mulai kamar mandi, balkon, dan ruangan khusus fashion. Jujur, Melissa sudah terlihat begitu menyukai desain kamarnya ini. Secara desainnya ini hampir sama dengan kamar-kamar ala Italia gitu. Jelas saja, karena suaminya ini orang Italia.
"Kamar ini aesthetic banget, Mas. Aku suka, enggak terlalu mencolok. Sepertinya aku akan mulai betah di kamar ini," kekeh Melissa.
"Syukurlah kalau Mel suka. Sekarang ikut aku ke kamar anak-anak kita nanti," ajak Luciano sembari membawa istrinya keluar dari kamar.
"Ya ampun, Mas. Aku ini belum hamil, tapi Mas sudah mempersiapkan ini dari sekarang," ucap Melissa disertai dengan gelengan kepalanya.
"Tidak apa-apa, semua ini aku persiapkan untuk calon anak-anakku nantinya. Lagi pula, aku tidak ingin menunda anak lagi, aku ingin kau segera hamil. Aku ingin menjadi seorang ayah. Mel mau 'kan mengandung anak-anakku secepatnya?" Luciano menatap lekat istrinya.
Tanpa terasa, kini mereka sudah sampai di salah satu kamar yang merupakan kamar calon anak-anaknya nanti. Luciano membuka kamar itu dan mengajak istrinya masuk untuk melihat keadaan kamarnya itu. Begitu Melissa masuk, dia cukup terpesona dengan keindahan kamarnya itu. Terdapat dua ranjang yang besar disertai banyaknya mainan serta boneka-boneka yang sangat lucu. Kedua mata Melissa sampai berbinar melihat apa yang sudah suaminya persiapkan untuk anak-anak yang belum lahir itu.
"Mas, aku terharu melihat ini." Melissa sampai meneteskan air matanya.
Melihat itu, Luciano berjalan menuju istrinya dan memeluknya. "Jangan menangis, Sayang. Ini hanya persiapan kecil dari calon ayah," tutur Luciano dengan mengelus lembut rambut istrinya.
"Mas, melihat dari kamar ini ada dua ranjang, apa Mas menginginkan dua orang anak?" tebak Melissa sembari melepaskan pelukannya serta menatap Luciano.
"Ya, Sayang. Aku menginginkan anak kembar. Dan ini kamar untuk mereka," jawab Luciano sembari membayangkan anak kembarnya itu.
__ADS_1
"Kenapa Mas menginginkan anak kembar?"
"Menurutku anak kembar itu sangat istimewa. Aku ingin anak kembarnya satu cowok dan satu cewek. Aku ingin keduanya mewarisi ketampananku dan kecantikanmu. Selain itu aku juga menginginkan anak kembar kita itu sebagai buah dari harmonisnya hubungan kita sehingga membentuk sebuah karakter yang unik pada diri mereka. Intinya, anak kembar itu sangat istimewa dan berbeda dari anak-anak yang biasa," jelas Luciano.
"Semoga aja kita bisa mendapatkan anak kembar ya, Mas."
****
Di sebuah ruangan ....
Seorang wanita tengah duduk bertumpang kaki di kursi kerjanya. Dia sedang menghubungi seseorang yang tak lama kemudian, teleponnya pun diangkat. Sebelum bicara, dia menempelkan ponsel di telinganya.
Telepon terhubung!
"Hallo," ucap wanita itu setelah telepon tersambung.
"Hallo," terdengar suara seorang pria serak dari seberang telepon.
"Saya cuma mau mengingatkan kalian untuk tidak melupakan tugas kalian! Kalian harus bergerak cepat!"
"Baik, Bos. Kami akan bergerak cepat, apa yang harus kami lakukan untuk langkah pertamanya?"
"Saya ingin kalian mencari tahu latar belakang Luciano! Saya telah memutar otak untuk tidak melukai Melissa, kali ini saya ingin melukai orang terdekat Melissa termasuk suaminya!" perintah wanita itu.
"Baik, Bos. Akan kami cari tahu."
__ADS_1
****