
Baru saja mereka hendak melangkahkan kakinya keluar, tiba-tiba ketiga pembunuh itu masuk. Seketika mereka langsung melangkah mundur. Tangan Melissa di genggam oleh Yuxian dan Luciano.
"Habislah, apa yang akan mereka lakukan sekarang?" gumam Melissa.
"Tenanglah, Sayang. Takkan kubiarkan mereka menyakitimu lagi. Polisi akan segera datang. Percayalah, kita semua akan baik-baik saja," tutur Luciano dengan lembut dan mengeratkan pegangannya.
"Mereka itu bersenjata, Kak. Bagaimana bisa kami mengalahkannya? Butuh waktu yang lumayan lama untuk polisi sampai di tempat ini. Kita tidak punya waktu sebanyak itu." Melissa benar-benar ketakutan.
Ketiga pria jahat itu langsung menyerang Yuxian dan Luciano. "Sayang, mundur lah!" perintah Luciano.
"Berjanjilah untuk tidak terluka." Melissa menatap lekat pacarnya.
"I promise." Luciano tersenyum.
Melissa mundur beberapa langkah. Dia menyaksikan perkelahian yang begitu mengerikan. Dia lupa jika saat ini ada satu pria yang sedang memandanginya dengan tatapan yang mengerikan.
Perlahan pria itu mendekati Melissa, kali ini Melissa menyadarinya jika pria itu tengah mendekatinya. Dia mencoba menghindari pria itu sebisa mungkin. Sehingga tubuhnya stuck di dinding yang membuatnya gak bisa lari ke manapun.
"Jangan mendekat!" teriak Melissa pada pria itu.
Namun, pria itu tidak peduli dengan ucapan Melissa. Dia langsung mencengkram bahu Melissa. "Rupanya kau sangat cantik, Nona. Sangat disayangkan jika aku tidak bersenang-senang dulu sebelum aku membunuhmu." Pria itu menyapu bibirnya sendiri dengan lidahnya.
Melihat itu Melissa bergidik. "Tidak! Jangan lakukan itu, kau boleh membunuhmu tapi lepaskan kedua pria itu!"
"Aku akan melepaskan kedua pria tampan itu, tapi kau harus melayaniku dulu sampai aku benar-benar puas. Bahkan aku punya penawaran bagus untukmu. Mau jadi pemuas nafsuku maka aku tidak akan membunuhmu dan aku akan melepaskan kedua pria itu." Pria kekar itu menyeringai cukup menyeramkan.
Cuih!
Melissa meludahi wajah pria kekar itu. "Jangan mimpi! Aku tidak akan mengorbankan kehormatanku demi memelas nyawaku. Lebih baik aku mati dari pada harus melayani iblis sepertimu!" pekik Melissa.
__ADS_1
Plakk!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Melissa. Dia sangat marah ketika Melissa meludahi wajahnya. Karena amarahnya sudah berada di puncak, dia pun tak segan-segan langsung mencekik leher Melissa.
"Kk-kak Luu-cii!" panggil Melissa sekeras mungkin seraya berusaha melepaskan tangan pria kekar itu.
Luciano yang melihat itu langsung berlari dan menancapkan gunting medisnya tepat di leher pria kekar yang menyerang kekasihnya. Percikan darah mengenai wajah Melissa. Dia terkejut, tubuhnya merosot ke lantai disertai gemetar sekujur tubuhnya. Keringat dingin mulai bercucuran.
Sementara itu, pria kekar yang ditusuk oleh Luciano ambruk tak sadarkan diri. Kemudian dia memasukkan guntingnya ke dalam saku dan memeluk Melissa. "Maafkan aku, aku tidak punya pilihan lain untuk melumpuhkannya," ucap Luciano dengan mengusap wajah Melissa yang terkena darah itu.
"Angkat tangan!" teriak seseorang yang tidak lain adalah posisi.
Polisi telah tiba, mereka langsung menerobos masuk dan menodongkan senjata ke arah para penjahat. Kedua penjahat itu pun mengangkat tangannya. "Letakkan senjata kalian!" perintah polisi.
Kedua penjahat itu hanya menyeringai. Alih-alih menuruti perkataan polisi kedua penjahat itu saling menatap satu sama lain dan hendak menusuk Yuxian akan tetapi rencananya gagal. Polisi menarik pelatuknya dan melepaskan peluru ke arah lengan kanan kedua penjahat itu.
*****
Setelah kejadian itu, Yuxian, Luciano dan Melissa pun pulang. Yuxian pulang dengan kakak iparnya Ming Hao. Sementara Melissa pulang dengan pacarnya Luciano.
Sesampainya di kediaman Jordan, kedua orang tua Melissa terkejut bukan main melihat kondisi putrinya yang sangat menyedihkan. Wajah Melissa terluka, keadaannya berantakan. Matanya terlihat sangat lelah.
"Mel, apa yang terjadi?" Cassie menatap putrinya dengan penuh kasih sayang disertai belaian hangat di rambutnya.
"Tante, akan Luci ceritakan nanti. Luci akan mengobati Mel terlebih dahulu, biarkan Mel merasa tenang dulu. Dia masih shock dengan apa yang dia alami," sahut Luciano.
"Ya, Nak. Silakan."
Begitu sampai di kamar Melissa, Luciano merebahkan tubuh pacarnya di ranjang. Dia mengambil air hangat untuk membersihkan luka di wajah Melissa sebelum dia mengobati lukanya. Sambil membersihkan luka pacarnya, sesekali air mata menetes di pipinya.
__ADS_1
"Kak Luci, jangan menangis. Aku baik-baik aja kok," ucap Melissa dengan sedikit tersenyum.
"Aku tidak kuat melihatmu terluka seperti ini. Mel, aku ingin segera mempersuntingmu. Aku ingin melindungimu, aku ingin merawatmu dan menjagamu. Apa kau siap menikah denganku?" Luciano memegang wajah pacarnya.
Melissa menggelengkan kepalanya. "Aku belum siap untuk menikah lagi, Kak. Aku masih takut," ucap Melissa dengan berlinang air mata.
"Baiklah, aku akan menunggumu sampai kau siap. Jangan menangis!" Luciano menyeka air mata kekasihnya.
Melissa mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih telah menyelamatkanku, Kak. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika Kak Luci tidak datang, mungkin aku akan mat--"
"Ssstt!" Luciano menempelkan jari telunjuk di bibir kekasihnya. "Jangan pernah mengatakan hal itu lagi. Tidak akan pernah terjadi hal buruk padamu. Takkan kubiarkan orang lain menyakitimu lagi. Selama aku hidup, aku akan menjadi perisaimu." Luciano menggenggam serta mencium lembut tangan halus Melissa.
"Grazie mille caro." Melissa mengucapkan terima kasih banyak pada pacarnya menggunakan bahasa Italia.
"Oho, kau pintar sekali mengucapkan bahasa negaraku," kekeh Luciano.
"Aku mempelajarinya sedikit-sedikit, Mas." Melissa tersipu malu.
"Kau memanggilku apa? Mas?" Luciano terbelalak mendengar Melissa memanggilnya dengan sebutan Mas.
"Tidak, aku tidak memanggilmu begitu," kekeh Melissa.
"Ayolah, panggil aku Mas sekali lagi."
"Massss ... 24 karat, haha." Melissa tertawa.
"Loh kok gitu sih," Luciano cemberut.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1