Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Malu


__ADS_3

"Aku mengerti itu, Sayang. Tapi, apakah kau lupa ... jika Yuxian mencintaimu? Aku yakin dalam lubuk hatinya, dia sangat menginginkan hadir melihatmu menikah tapi, di sisi lain dia juga perlu mempedulikan perasaannya. Kau tahu, melihat wanita yang dia cintai bersanding dengan pria lain akan membuat hatinya hancur berkeping-keping. Aku memahami keadaan yang dialami Yuxian. Mel, percayalah jika Yuxian tidak akan pernah membencimu. Suatu saat jika perasaannya sudah hilang, dia akan kembali menemuimu." Luciano mengelus wajah istrinya dengan sangat lembut.


"Jadi, Yuxian tidak membenciku?"


"Ya, Istriku. Dia tidak akan membenci sahabatnya sendiri. Walaupun aku mengenal Yuxian belum lama ini akan tetapi aku bisa melihatnya jika dia adalah orang yang tulus dan dewasa. Sekarang, berhenti membicarakan sahabatmu atau aku akan cemburu." Luciano menatap lekat istrinya.


"Haha, baiklah. Aku tidak akan membicarakan sahabatku. Aku tidak mau suami mafiaku ini akan cemburu," kekeh Melissa.


Entah kenapa, setelah mendengar ucapan istrinya. Luciano mendadak terdiam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi entah apa yang sedang Luciano pikirkan.


Melihat suaminya yang tiba-tiba diam saja, Melissa pun mengelus lengan suaminya. "Mas!" panggil Melissa.


Namun, Luciano tetap terdiam. Dia bahkan seperti tidak mendengar panggilan istrinya itu. Melissa sedikit heran dengan reaksi suaminya ini.


"Mas, apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa melamun seperti itu?" hanya Melissa dengan lembut.


"Eh ... iya, Sayang. Kau bertanya apa barusan?" Luciano tersadar dari Lamunannya.


"Mas sakit?" tanya Melissa seraya menempelkan telapak tangannya di kening Luciano.


"Tidak, Sayang. Aku tidak sakit,"


"Lantas, kenapa Mas diam aja? Apa yang sedang Mas pikirkan?" tanya Melissa dengan wajah yang penasaran.


"Mel, sebenarnya ada hal yang harus aku beri tahu padamu mengenai kehidupanku yang sebenarnya," jelas Luciano dengan tatapan yang berubah.


Luciano kali ini menatap Melissa dengan mata yang dipenuhi rasa cemas. Melissa yang melihat itu langsung tahu, makanya dia menggenggam erat tangan suaminya. "Jika itu masa lalu, maka aku tidak ingin mendengarkannya, Mas. Aku tidak perlu mengetahui masa lalumu, masa lalu biarkan saja menjadi masa lalu. Sekarang kita fokus berjalan bersama menuju masa depan," tutur Melissa dengan lembut.


"Ini bukan masa laluku saja, Mel. Semua ini rahasia besar kehidupanku dan kita keluargaku dan aku rasa kau berhak mengetahuinya. Sebab kau adalah istriku," timpal Luciano.


"Rahasia besar?" Melissa membelalakkan matanya. "Rahasia besar apa, Mas? Apa yang tidak aku ketahui mengenai kehidupau dan juga keluargamu?" tanya Melissa dengan tatapan yang penasaran.

__ADS_1


"Sebenarnya aku ini ...."


****


Beijing ....


Malam hari, Yuxian tengah duduk bersantai di balkon dengan memegang buku di tangannya. Dia sedang fokus membaca sebuah buku bisnis keluarganya. Semenjak dia kembali ke negaranya, dia menjadi pria yang berbeda dari Yuxian yang dulu.


Yuxian yang sekarang benar-benar sangat ambisius. Dia bersikukuh sebelum dia memenangkan tender maka dia tidak akan berhenti bekerja keras. Dia bahkan menjalin kerja sama dengan pebisnis dari berbagai negara agar dia bisa sukses dengan usahanya sendiri.


Namun kali ini, Yuxian tampak tidak sedang fokus membaca bukunya. Dia sering menutup dan membuka bukunya kembali. Pria sipit ini melakukannya beberapa kali. Hingga beberapa menit kemudian, dia melemparkan bulu itu ke sembarang arah. Terlihat jelas kekesalan di wajah pria Tiongkok ini.


Wajahnya yang merah padam serta kedua tangannya yang mengepal menatap lurus. "Aargghh!" teriak Yuxian dengan menengadahkan kepalanya menatap langit yang gelap.


Seakan menyempurnakan suasana hatinya.


Tanpa Yuxian sadari, seorang gadis tengah berdiri dan mengambil buku yang Yuxian lempar tadi. Gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Jian Ying, adik Yuxian. Perlahan Jian Ying berjalan menghampiri kakaknya yang sedang terlihat kacau itu.


Yuxian yang mendengar itu langsung menoleh ke arah adiknya. "Jian, sedang apa kau di sini?" tanya Yuxian sembari menetralkan kekesalannya.


"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi, Ge! Katakan, Gege kenapa kesal seperti itu, heum?" Jian Ying menatap tajam kakaknya.


"Tidak apa-apa, Jian. Aku hanya merasa lelah saja. Akhir-akhir ini aku sering lembur dan aku sering mengalami insomnia makanya aku kesal seperti ini," jawab Yuxian dengan berbohong.


"Benarkah? Gege tidak sedang berbohong 'kan? Jangan-jangan Gege sedang memikirkan Kak Mel lagi, hayo ... ngaku aja, Ge," goda Jian Ying seraya menaik-turunkan alisnya.


"Hei, kau ini bicara apa sih? Untuk apa aku memikirkan Mel yang sudah bahagia dengan pria lain?" Yuxian memalingkan wajahnya dari Jian Ying.


"Lie!" tegas Jian Ying. "Gege bohong, aku yakin jika Gege sedang memikirkan Kak Mel 'kan, jawab jujur saja, Ge. Aku tidak akan menceriakan hal ini pada siapapun termasuk pada Mama.


"Janji?" Yuxian menyodorkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


Jian Ying mengangguk mantap. "Yeah, i promise." Jian Ying mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking kakaknya.


"Kau benar, Jian. Saat ini aku sedang memikirkan Mel, aku merasa telah menjadi sahabat yang buruk untuknya," ujar Yuxian dengan berlinang air mata.


"Gege cengeng! Jangan nangis dong, katakan dulu kenapa Gege bisa bicara seperti itu? Memangnya apa yang telah Gege lakukan sampai Gege bicara jika Gege bukan sahabat yang baik?"


"Hari ini adalah hari pernikahannya. Aku seharusnya menghadiri pernikahannya, tapi apa yang aku lakukan? Dengan pengecutnya aku tidak datang ke pernikahannya. Hanya karena memikirkan perasaanku sendiri. Bukankah aku terlalu egois, Jian?"


"Apa yang Gege lakukan saat ini sudah benar, terkadang kita juga harus memikirkan perasaan kita sendiri. Jika bukan diri kita sendiri lalu siapa lagi? Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kak Mel juga akan memahami kenapa Gege tidak datang," jelas Jian Ying.


"Benarkah? Dia tidak kecewa karena aku tidak datang?"


"Tentu saja tidak, jika Gege tidak percaya aku akan menghubunginya sekarang." Jian Ying menelepon Melissa.


Melihat itu Yuxian panik dan langsung merebut ponsel itu dari adiknya. "Hei, Jian Ying! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengganggunya?"


"Aku hanya memastikannya saja, sekarang bicaralah dengan sahabat Gege. Telepon telah tersambung." Jian Ying mengedipkan sebelah matanya.


"Apa?" Yuxian membelalakkan matanya. Dia tidak tahu jika teleponnya telah tersambung.


Telepon terhubung!


"Hallo, Jian," terdengar suara wanita dari seberang telepon. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Melissa Jordan.


Yuxian terdiam sesaat. Dia bingung harus mengatakan apa pada sahabatnya. Sudah berbulan-bulan lamanya mereka tidak saling bicara bahkan sekedar chat pun mereka jarang.


Maka dari itu, Yuxian sedikit gugup begitu mendengar suara Melissa. Sementara itu, Jian Ying yang melihat kakaknya terdiam bagaikan patung hanya menggelengkan kepalanya. Dengan gerakan secepat kilat, dia merebut kembali ponselnya.


"Hallo, Kak Mel. Maaf, barusan yang pegang ponselku Gege. Gege gerogi karena mendengar suara Kakak," celetuk Jian Ying seraya menjulurkan lidahnya tanda meledek.


"Jian, kau ini bicara apa?" Wajah Yuxian langsung merona bak kepiting rebus, karena saking malunya dia.

__ADS_1


****


__ADS_2