Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Alano Beraksi


__ADS_3

Mendengar teriakan istrinya, Luciano langsung berlari ke arah kamar. Begitu sampai di kamar, dia tidak melihat istrinya berada di kamar. Karena panik, Luciano mencari Melissa ke setiap ruangan dan juga balkon. Hingga akhirnya, dia melihat istrinya sengaja duduk ketakutan dengan memeluk kedua lututnya.


"Sayang, ada apa?" tanya Luciano sembari memeluk istrinya yang sedang ketakutan itu.


"Ii-itu, Mas! Aa-ada pria misterius dengan membawa senjata," jawab Melissa dengan gelagapan karena takut.


"Tenanglah, aku ada bersamamu. Sekarang katakan, ada di mana pria itu?" tanya Luciano.


"Di sana, Mas." Melissa menunjukkan jari telunjuknya ke arah pria misterius yang dia lihat tadi.


Luciano melepaskan pelukannya dan berdiri untuk mengecek apakah ada pria itu. Setelah dia lihat, ternyata benar. Ada pria sedang berdiri dengan pakaian serba hitam sedang menodongkan senjata ke arahnya.


Menyadari keadaan sangat tidak aman, Luciano segera membawa istrinya ke kamar. "Sayang, ayo kita ke kamar." Luciano menggendong tubuh Melissa.


"Mas, aku takut." Suara Melissa bergetar karena takut.


Bagaimana tidak, disaat tubuhnya yang sedang lemah seperti ini. Dia dikejutkan dengan seorang pria bersenjata yang hendak melukainya. Melissa melingkarkan kedua tangan di leher suaminya.


"Jangan takut, aku ada bersamamu. Takkan kubiarkan orang itu melukaimu dan calon bayi kita. Aku akan meminta para bodyguard Daddy untuk berpatroli di depan rumah kita. Aku juga akan meminta orang tuamu beserta Kak Emma untuk tinggal bersama di rumah ini sampai keadaan aman terkendali." Luciano mencoba menenangkan istrinya.


"Tapi, Mas. Aku tidak mau merepotkan keluargamu." Melissa merasa tidak enak pada keluarga suaminya.


"Jangan bicara seperti itu. Yang terpenting sekarang itu adalah keselamatanmu dan juga calon buah hati kita. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada bayi kita ini. Kamu tetap fokus pada perkembangan bayi kita. Jangan berpikir macam-macam, biarkan aku dan Daddy yang mengurusnya. Mengerti?" Luciano memberikan pengertian pada Melissa seraya mengelus lembut perut Melissa yang belum membesar itu.


"Iya, Mas. Tapi, Mas harus janji jika Mas tidak akan sampai terluka sedikitpun? Aku sangat membutuhkanmu," ucap Melissa.


"Jangan cemas, aku akan selalu bersamamu. Aku tidak akan terluka sedikitpun. Percayalah." Luciano menggenggam kedua tangan istrinya.


"Aku percaya, Mas." Melissa memeluk suaminya dengan sangat erat.


"Sekarang kamu tidur ya,"


"Aku mau tidur dipelukanmu, Mas. Aku enggak mau tidur sendirian, saat ini aku sangat takut," timpal Melissa.


"Iya, Sayang. Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku akan menemanimu tidur." Luciano mengelus rambut Melissa dengan belaian yang begitu lembut.


Selang beberapa menit kemudian, Melissa pun sudah tertidur di pelukan suaminya. Secara perlahan, Luciano membenarkan posisi tidur istrinya agar merasa nyaman. Kemudian dia mengecup kening Melissa serta menyelimutinya.

__ADS_1


Setelah itu, Luciano menghubungi Alano, yaitu ayahnya. Saat ini ayah dan ibunya masih berada di rumah Emma belum kembali ke Italia. Maka dari itu, dia meminta bantuan ayahnya mengenai masalah yang terjadi di rumahnya. Setelah beberapa menit kemudian, teleponnya pun akhirnya diangkat oleh ayahnya.


Telepon terhubung!


"Hallo, Dad," ucap Luciano setelah telepon tersambung.


"Hallo, Luci. Ada apa?" tanya Alano dari seberang telepon.


"Dad, Luci butuh bantuan Daddy sekarang," jawab Luciano.


"Bantuan apa, apa yang terjadi?"


"Ceritanya panjang Dad, intinya Daddy, Mommy sama Kak Emma tinggal di rumah Luci untuk sementara waktu. Setelah Daddy sampe rumah, akan Luci beri tahu apa yang terjadi," jelas Luciano.


"Baiklah, kami akan ke rumahmu sekarang."


"Terima kasih, Dad. Tutt!" Luciano mengakhiri obrolannya.


Telepon terputus!


****


Saat ini Yobelia sedang bersantai di balkon sembari menikmati minuman segar dan menatap langit yang begitu cerah. Tiba-tiba sebuah telepon masuk. Dengan depan dia mengangkat teleponnya.


Telepon terhubung!


"Ada apa?" tanya Yobelia to the point setelah telepon tersambung.


"Saya sudah berhasil meneror Melissa dan suaminya, Bos. Sekarang apa yang harus saya lakukan selanjutnya?" tanya seorang pria dari seberang telepon.


"Jangan lakukan apapun. Kau cukup pantau saja mereka, jangan bertindak gegabah sebab target kita bukanlah orang yang sembarangan. Tunggu intruksi dariku!"


"Baik, Bos. Saya akan tetap mengawasi mereka."


"Bagus! Kabari saya apapun yang terjadi!"


"Baik, Bos."

__ADS_1


"Kau tetap waspada! Tutt!" Yobelia menutup teleponnya.


Telepon terputus!


Selesai bicara di telepon dengan orang suruhannya yang baru, Yobelia yakin jika balas dendamnya akan terpenuhi. Dia meletakkan ponsel di meja sebelah kursinya. "Ini baru langkah awal, akan kubuat hidupmu semakin menderita, Melissa! Bersiaplah untuk kehilangan suamimu. Aku ingin kau menjadi janda seumur hidupmu!" Yobelia mengepalkan tangannya. Kemudian dia melemparkan gelas yang ada di sebelahnya hingga pecah.


*****


Luciano yang masih setia menemani istrinya tidur, tiba-tiba mendengar suara bel rumahnya. Sebelum keluar dari kamarnya, dia memeriksa CCTV yang merekam bagian depan rumahnya. Setelah dia cek, dia melihat keluarganya ada di depan rumahnya dengan membawa beberapa kopernya.


Tanpa berlama-lama Luciano langsung keluar dari kamar dan berlari menuju pintu utama. Kemudian dia membuka pintunya. "Dad, ayo masuk." Luciano mengajak ayah, ibu dan kakaknya untuk masuk.


"Di mana Mel?" tanya Eloisa pada putranya.


"Mel, ada di kamarnya, Mom. Ayo, masuk dulu," Luciano mengajak keluarganya untuk masuk.


Mereka semua pun masuk. Begitu masuk, Luciano menyuruh Eloisa dan Emma untuk pergi ke kamar Melissa. Sedangkan dia mengajak ayahnya ke salah satu ruangan bawah tanah.


****


Ruangan bawah tanah ....


Sesampainya di ruang bawah tanah, Luciano mempersilakan ayahnya untuk duduk di sofa besar yang berada di ruangan itu. Mereka duduk secara berhadapan. "Bantuan apa yang kau inginkan, Nak?" tanya Alano to the point.


"Begini, Dad .... saat ini ada seseorang yang sedang memantau Luci sama Mel. Dan orang itu membawa senjata, Mel ketakutan melihat pria itu."


"Tunggu, katakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kalian dipantau oleh orang itu. Apa kalian mengenalnya? Apa kau membuat masalah selama Daddy di Italia?"


"Tidak, Dad. Luci tidak membuat masalah ataupun memiliki musuh di sini. Luci juga tidak mengerti kenapa pria itu memantau rumah ini dan menodongkan senjata pada kami. Luci takut masalah ini akan berpengaruh pada kehamilannya istriku," jelas Luciano.


"Jangan khawatir, masalah ini biar Daddy yang urus. Daddy akan menyuruh anak buah Daddy untuk berpatroli di rumah ini sampai keadaan benar-benar aman. Takkan kubiarkan dia menyakiti cucuku. Kau harus menjaga istrimu dengan baik. Jangan tinggalkan dia, tetap bersamanya."


"Terima kasih banyak, Dad. Luci tidak tahu jika seandainya Daddy tidak ada bersama Luci. Luci tidak ingin istri dan anak Luci kenapa-kenapa."


"Jangan cengeng! Ingat apa yang telah Daddy ajarkan padamu! Daddy paham kau khawatir pada keselamatan istri dan anakmu tapi jangan lupa, dulu Daddy pernah mengalami seperti ini. Jangan perlihatkan kelemahanmu pada musuh, jika musuh sampai mengetahui hal ini maka kau akan dengan mudah dilumpuhkan. Sekarang pergi dan temani istrimu. Masalah ini biar Daddy yang mengurusnya."


"Baik, Dad. Grazie mille." Luciano beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamar istrinya.

__ADS_1


****


__ADS_2