Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Mengatur Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Di dalam mobil ....


Saat ini Melissa tengah bersandar di lengan calon suaminya. Dia masih terlihat sangat sedih karena dia akan berpisah dengan sahabatnya yang selalu bersamanya selama ini. Sesekali Luciano mengelus wajah Melissa.


"Mel, kapan kita akan mempertemukan kedua keluarga kita? Kita harus membicarakan soal tanggal pernikahannya," tanya Luciano tanpa menoleh, karena fokusnya tertuju pada jalanan.


"Secepatnya saja, Mas. Aku gimana Mas saja," jawab Melissa.


"Bagaimana jika kita atut pertemuan dengan dua keluarga kita minggu depan?"


"Minggu depan? Apa itu tidak terlalu cepat, Mas? Lagi pula, apa kita belum membicarakan tentang rencana pernikahannya dengan Kak Emma?" Melissa menatap calon suaminya.


"Iya, Sayang. Minggu depan, menurutku itu tidak terlalu cepat karena lebih cepat lebih baik. Aku sudah sangat yakin dengan cinta kita ini walaupun belum lama. Namun, aku percaya kau adalah wanita yang aku cari selama ini. Maka dari itu, aku sangat ingin menjadi imammu. Sejujurnya Kak Emma sudah mengetahui rencana pernikahan kita. Bukan hanya Kak Emma saja, seluruh keluarga yang berada di Italia pun sudah mengetahuinya," jelas Luciano.


"Aa-apa? Seluruh keluargamu sudah tahu tentang rencana ini? Tapi, bukankah aku baru mengatakan tentang ajakan pernikahan ini ya? Kapan Mas mengatakan itu?" Melissa cukup terkejut mendengar penjelasan calon suaminya.


"Ya, karena aku sudah berniat untuk menikahimu dari awal dan aku yakin jika lamaranku akan diterima olehmu. Maka dari itu, aku memberi tahu seluruh keluargaku," jawab Luciano.


"Mas berpikir sejauh itu? Tapi, Mas ... apa keluarga Mas tahu kalau aku ini seorang Jand--"


Ckitt!


Luciano menginjak pedal rem sehingga mobilnya pun berhenti secara mendadak. Luciano membuka sabuk pengamannya dan membenarkan posisi duduk agar menghadap ke arah Melissa. "Sstt!" Luciano menempelkan jari telunjuk tepat di bibir calon istrinya.


"Jangan katakan itu lagi! Apapun statusmu, aku tidak peduli. Asal kau tahu saja, Mel ... seorang janda itu adalah wanita yang tegar, walaupun kau gagal dalam pernikahan pertamamu dan menjadi janda tapi, menurutku kau adalah wanita yang sangat tegar. Seorang janda selalu mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh akan tetapi kau bisa menghadapi semua itu dengan tegas. Dan caramu membalas orang yang telah menindasmu membuatku semakin jatuh cinta. Aku semakin menyayangimu, Mel. Itulah kenapa aku memberi tahu keluargaku kalau kau adalah calon istriku. Kau tidak perlu cemas. Seluruh keluargaku sudah tahu jika kau seorang janda. Dah itu tidak membuat keluargaku keberatan. Statusmu tidak akan mengubah semuanya. Everything will be fine, okay?" Luciano menangkup kedua pipi Melissa disertai tatapan yang begitu teduh dan penuh dengan kasih sayang.


"Jadi, keluarga Mas tidak keberatan dengan statusku? Apa Mas yakin?" Melissa masih merasa takut, dia takut Luciano berbohong mengenai keluarganya.

__ADS_1


"Aku sangat yakin 1000%."


"Kalau begitu, baiklah. Kita atur pertemuan dia keluarga kita minggu depan," timpal Melissa.


"Siap, akan kuberi tahu keluargaku yang di Italia untuk datang ke mari. Terima kasih, Sayang. Cup!" Luciano mengecup kening Melissa saking merasa senangnya.


"Iya, Mas." Melissa tersenyum.


Melissa benar-benar merasa sangat senang. Kini dia merasa hidup kembali setelah terbebas dari mantab suami toxic dan keluarga Toxic mantan suaminya. Kini dia yakin untuk memulai hidup baru dengan pernikahannya bersama Luciano. Dokter yang pernah bahkan sering membantunya.


****


Tin! Tin!


Sebelum keluar dari mobil, Yuxian selalu membunyikan klaksonnya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia keluar dari mobil. Yuxian berjalan memasuki rumahnya dengan langkah kakinya yang lemas. Tidak ada senyuman sama sekali. Rasanya berat untuk meninggalkan wanita yang selalu bersamanya setiap saat.


Akan tetapi, dia harus pergi karena semua ini telah menjadi keputusan mutlak yang tidak boleh diganggu gugat. Yuxian berharap semoga dengan kepergiannya, dia bisa memulai hidup baru. Dia juga berharap semoga Melissa bahagia selalu bersama Luciano.


Yuxian membuka pintu rumahnya. Dia masuk dan menutup kembali pintu itu. Kemudian berjalan menaiki anak tangga dan pergi menuju kamarnya. Begitu sampai di depan kamarnya, dia segera masuk tanpa menutup pintunya lagi.


Tanpa berlama-lama, Yuxian segera mengambil koper dan mulai mempacking barang-barangnya. Dia mengambil sebuah jam tangan pemberian Melissa yang di dalamnya terdapat foto mereka. Kemudian pria sipit ini memasukkannya ke koper.


Pada saat Yuxian sedang sibuk mengemasi barang-barangnya, tiba-tiba Jian Ying mengetuk pintu kamarnya.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu, yang diketuk oleh adiknya, Jian Ying. "Gege, Jian boleh masuk?" tanya Jian Ying dengan nada yang sedikit di manja-manjakan.

__ADS_1


Yuxian menoleh ke arah Jian Ying yang berada di depan pintunya. "Ya, masuklah." Yuxian kembali fokus mengemasi barang-barangnya.


"Gege," panggil Jian Ying.


"Apa? Kau butuh sesuatu?" tanya Yuxian tanpa menoleh ke arah adiknya.


"Jian minta maaf atas apa yang terjadi sama Gege. Semua ini terjadi karena Jian, seandainya malam itu aku tidak mengirim pesan seperti itu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Penderitaan yang Gege alami saat ini adalah kesalahanku. Aku minta maaf, Ge." Jian Ying menatap kakaknya.


"Lupakan itu, Jian! Jangan meminta maaf seperti itu. Anggap saja semua yang terjadi padaku adalah takdir. Semua ini adalah sudah kehendak Tuhan. Aku harus menerimanya dengan lapang. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, semua ini tidak ada hubungannya denganmu. Seharusnya aku yang harus meminta maaf padamu karena aku sempat marah dan membuatmu ketakutan. Maafkan aku, Jian. Aku Kakak yang buruk 'kan," tutur lembut Yuxian seraya menangkup kedua pipi adiknya.


Jian Ying menggelengkan kepalanya. Dia meneteskan air matanya, lalu gadis sipit ini langsung memeluk Yuxian dengan erat. "Gege," Jian Ying menangis.


"Sudah, jangan menangis seperti itu. Kalau kau menangis seperti ini, kau terlihat sangat jelek tau," ledek Yuxian agar adiknya berhenti menangis.


"Gege, jangan katakan itu. Biarkan aku menangis hari ini saja,"


"Tapi, aku tidak suka melihat gadis cantik seperti adikku ini menangis. Aku tidak suka adik yang cengeng. Begini saja, bagaimana jika sebelum kita terbang ke Tiongkok, kita pergi keluar sebentar? Aku akan memberikanmu gula-gula dan ice cream. Bagaimana?" bujuk Yuxian dengan menaik-turunkan alisnya.


"Benarkah? Gege mau mentraktirku?" Jian Ying yang tadinya sedang menangis langsung menyeka air matanya.


"Heum. Kau mau pergi bersama kakak tampanmu ini?" goda Yuxian dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Ya, aku mau. Yee, akhirnya setelah sekian lama, aku bisa diajak jalan juga sama Gege. Ayo, Ge! Aku sudah tidak sabar ingin makan ice cream dan gula-gula." Jian Ying menarik lengan kakaknya.


"Hei, tunggu dulu! Bantu aku berkemas dulu!"


"Sudah, itu nanti saja. Aku akan membantumu nanti. Sekarang ayo kita pergi bersenang-senang dulu sebelum kita balik ke Tiongkok." Jian Ying berlari menarik tangan kakaknya keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Yuxian adalah seorang kakak yang sangat penyayang. Dia paling jago dalam hal membujuk. Bukan hanya adiknya, bahkan Yuxian bisa membujuk sahabatnya sendiri, Melissa. Karakter Yuxian ini adalah sosok pria idaman yang selalu diimpikan setiap wanita.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2