
Pasar Malam ....
Saat ini Yuxian dan Jian Ying tengah berasa di pasar malam. Mereka berjalan bergandengan tangan. Mereka tampak ceria seraya melihat makanan yang unik-unik serta permainan yang cukup menyenangkan.
"Ge, ayo kita coba permainan itu. Aku ingin boneka panda yang itu." Jian Ying menunjuk ke arah permainan capit boneka.
"Kau mau itu? Baiklah, aku akan memberikanmu boneka yang itu," timpal Yuxian.
"Aku enggak mau beli. Gege harus mencapit bonekanya sendiri. Aku ingin tahu, seberapa besar kau menyayangi adikmu ini," tantang Jian Ying.
"Apa kau sedang menantangku, Jian?"
"Tentu saja, kalau Gege sayang sama aku kau tidak akan keberatan mencapit boneka itu," sindir Yuxian.
"Okay, aku akan mendapatkan boneka yang kau inginkan itu dengan mencapitnya sendiri. Ayo, kau lihat seberapa pandainya kakakmu ini." Yuxian berjalan menuju mesin capit.
Tentunya sebelum memulai permainan itu, Yuxian telah membeli koinnya terlebih dahulu. Dia membeli banyak koin agar dia bisa mengambil semua boneka yang berada di mesin itu. Tanpa berlama-lama, Yuxian memasukkan dia koin dan mulai mengarahkan alat capitnya tepat di boneka panda.
Untuk pertama kalinya, Yuxian gagal. Jian Ying mentertawakan kakaknya. Yuxian tak mau dipanggil pengecut oleh adiknya sendiri. Dia terus mencobanya, bahkan dia rela menghabiskan banyak koin demi mendapatkan boneka yang diinginkan oleh adiknya.
Usaha Yuxian tidak sia-sia, setelah dia menghabiskan koin banyak pria sipit ini berhasil mendapatkan boneka yang diinginkan adiknya. Yuxian mengambil boneka itu dan memberikannya pada Jian Ying. "Ini, boneka yang kau mau," tutur Yuxian.
"Wah ... boneka ini sangat lucu. Aku menyukainya, Ge."
Jian Ying melompat kegirangan layaknya anak kecil. Dia memeluk boneka itu dengan erat. Melihat adiknya kegirangan seperti itu, tiba-tiba Yuxian teringat pada sahabatnya, Melissa.
{Flashback ....
Pasar malam, kini Melissa dan Yuxian tengah berdiri di depan mesin pencapit boneka. Melissa tersenyum seraya memberi kode pada sahabatnya jika dia menyukai boneka doraemon yang berada di mesin pencapit itu. Pria sipit ini sangat peka, dia pun segera membeli koin untuk mengambil boneka itu.
Tanpa berlama-lama, setelah membeli koin, dia langsung memasukkan dua koin untuk satu kaki permainan. "Yah, kalah." Melissa terlihat cemberut.
"Tenang, Mel. Aku akan mengambil boneka itu. Aku yakin aku pasti bisa, aku rela menghabiskan banyak koin demi mengambil boneka yang kau inginkan itu." Yuxian tersenyum seraya terus mencoba permainan itu.
"Iya, Ge. Jia You!" Melissa menyemangati sahabatnya dengan bahasa China.
Yuxian mengangguk dan mengarahkan alat pencapit itu tepat di posisi atas bonekanya. Dengan perlahan dia mendorong dan menekan tombol pada mesin itu. Kini akhirnya, dia berhasil mengambil boneka yang diinginkan sahabatnya.
__ADS_1
"Ini, Mel. Boneka yang kau inginkan. Bonekanya sangat lucu, sama sepertimu." Yuxian memberikan boneka itu pada Melissa.
"Xie Xie, Xian-Ge." Melissa mengambil boneka itu dan melompat kegirangan saking senangnya dia.
"Gemesin banget deh, sampe segitunya kamu, Mel." Yuxian tersenyum seraya menggelengkan kepalanya}.
Tak!
Jian Ying menjentikkan jarinya tepat di depan wajah kakaknya. "Gege, kenapa senyum-senyum gitu? Gege baik-baik aja 'kan? Jangan membuatku takut, Ge!" Jian Ying memegang lengan kakaknya.
"Eh, iya. Kenapa? Kau bilang apa barusan?" Yuxian tersadar dari lamunannya.
"Gege lagi mikirin apa sih? Kenapa bengong sambil senyum-senyum begitu? Bkin Jian takut aja." Jian memasang ekspresi yang kebingungan.
"Enggak apa-apa kok, aku hanya teringat sesuatu saja. Ya udah, ayo kita beli gula-gula dan ice cream," ajak Yuxian.
"Ayo!" Jian Ying sangat antusias diajak oleh kakak kandungnya sendiri.
Sesampainya di penjual ice cream, Yuxian langsung membeli 2 ice cream. "Mbak, saya mau ice cream 2 yang satu rasa vanila dan satu lagi rasa coklat," pinta Yuxian pada penjual ice cream.
"Terima kasih," ucap Yuxian seraya membayar ice cream tersebut seraya mengambilnya. Dibalas anggukan disertai senyuman oleh penjual ice cream.
"Jian, ini ice cream yang kau mau." Yuxian memberikan kedua ice cream itu.
"Loh, ini dua-duanya buat aku, Ge? Buat Gege mana?" Jian menatap kakaknya.
"Aku enggak suka manis, Jian," jawab Yuxian dengan senyuman.
"Hah? Sejak kapan Gege enggak suka manis? Biasanya juga paling doyan makanan plus minuman manis. Tumben banget," timpal Jian Ying yang merasa aneh dengan perubahan kakaknya.
"Mulai sekarang aku tidak akan mengkonsumsi makanan yang manis. Aku enggak mau diabetes karena banyak mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis. BTW aku enggak perlu memakan makanan yang manis, sebab adikku ini sudah sangat manis," Yuxian menggoda adiknya dengan mencubit dagu Jian Ying.
"Ck. Bisa aja. Haha, sejak kapan Gege menggodaku kek gini. Keliatan banget lagi kesepiannya," ledek Jian Ying disertai tawanya yang lepas.
"Nakal ya, berani banget ledekin aku kek gini. Aku hukum ya." Baru saja Yuxian hendak menggelitiki perut adiknya. Tiba-tiba Jian Ying kabur.
"Kabur!" Jian Ying berlari menghindari kakaknya.
__ADS_1
****
Setelah puas bersenang-senang di pasar malam. Kakak beradik ini pun memutuskan untuk pulang. Jarak dari pasar malam menuju rumahnya membutuhkan sekitar 20 menit. Setelah 20 menit berlalu, mereka pun sampai di kediamannya.
Kakak beradik ini keluar dari mobil secara bersamaan. Jian Ying berlari memasuki rumahnya dengan memeluk boneka dan dua gula-gula yang dibelikan oleh kakaknya. Melihat tingkah adiknya, Yuxian hanya menggelengkan kepalanya disertai senyuman. Kemudian dia pun menyusul gadis sipit dengan boneka serta dua gula-gula di pelukannya.
Yuxian berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. "Yuxian, kau dari mana saja? Apa kau sudah mengemasi barang-barangmu?" tanya seorang wanita paruh baya. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Fang Yin, ibunya Yuxian.
Yuxian yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh ke arah sumber suara. Dia menghentikan langkahnya. "Aku dan Jian baru pulang dari pasar malam, Ma." Yuxian menjawab sembari menatap manik mamanya.
"Tumben sekali kau mengajak adiknya pergi ke luar? Biasanya juga kau memberikan uangnya saja." Fang Yin menaik-turunkan alisnya.
"Yuxian 'kan akan tinggal di Tiongkok jadi, kapan lagi aku bisa jalan bareng Jian Ying di Indo. Benar 'kan, Ma?" timpal Yuxian.
"Kau benar. Jadi, kau tidak akan kembali ke Indonesia lagi?" tanya Fang Yin.
Yuxian menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Sepertinya Yuxian akan menetap di Tiongkok," jawab Yuxian.
"Apa kau sudah menemui sahabatmu tentang kepergianmu ini?" tanya Fang Yin lagi.
Yuxian mengangguk. "Iya, Ma. Yuxian sudah memberi tahu Mel dan Luci. Aku sudah berpamitan dengan mereka. Akan tetapi, aku bingung--"
"Bingung kenapa?" Fang Yin mengernyitkan alisnya.
"Mel akan menikah dengan Luci. Mereka mengundangku untuk hadir di hari pernikahan mereka. Tapi, sepertinya aku tidak bisa menghadirinya. Aku rasanya tidak akan tegar melihat wanita yang aku cintai bersanding dengan pria lain. Butuh waktu lama untuk aku melupakan perasaan ini."
"Tentu saja, tidak mudah melupakan perasaan yang selama ini telah tertanam di hatimu. Tapi, Mama yakin putra Mama ini akan bisa melalui semua ini. Menurut Mama, kau jangan datang saja."
"Tapi, Mel sahabatku, Ma."
"Mama tahu itu, tapi menjaga perasaanmu juga penting, Nak. Bagaimana jika kau berikan saja hadiah untuk pernikahan mereka? Dengan begitu, persahabatan kalian tidak akan buruk nantinya. Mel pasti mengerti kok," saran Fang Yin.
"Baik, Ma. Kalau itu cara terbaik untuk aku dan Mel. Aku akan menuruti saran dari Mama. Mama wo ai ni (aku mencintaimu, Mama)." Yuxian memeluk mamanya.
"Wo ye ai ni, wo de erzi (aku juga mencintaimu, Putraku)." Fang Yin menepuk-nepuk bahu putarnya.
****
__ADS_1