Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Luciano Dead


__ADS_3

"Mel, kamu kenapa?" tanya Emma yang baru saja sampai. Dia tidak melihat ke arah kecelakaan. Dia hanya fokus pada Melissa.


"Ii-itu, Kak!" Melissa menunjukkan jarinya ke arah mobil suaminya.


Seketika Emma langsung terlonjak kaget begitu melihat mobil adik kandungnya rusak dengan posisi berada di bawah truk fuso. Tubuh Emma langsung merosot ke bawah disertai air mata yang mengalir. "Tidak, itu bukan mobil Luci!" Emma berteriak histeris.


Tak lama kemudian polisi datang ke TKP untuk melakukan investigasi. Sementara korban kecelakaan itu langsung dievakuasi dan dilarikan ke RS. LS Immanuel. Melissa melihat jelas jika luka di suaminya terdapat di kepalanya. Dia terus berteriak histeris hingga akhirnya dia jatuh pingsan saking tidak kuat melihat keadaan suaminya.


Emma langsung mendekati adik iparnya dan langsung menaruh kepala Melissa di pangkuannya. "Mel, bangun, Mel!" Emma menepuk-nepuk pipi Melissa untuk menyadarkannya.


Namun, Melissa tak kunjung sadar. Sehingga dia pun memutuskan untuk menghubungi ayahnya, Alano. Tak lama kemudian Alano mengangkat teleponnya. Dengan tangannya yang gemetar, Emma menempelkan ponsel cinta telinga kanannya.


Telepon terhubung!


"Daddy!" panggil Emma disertai tangisan.


"Emma, kamu kenapa? Kenapa menangis?" tanya Alano di seberang telepon.


"Dad, Luci--"


"Luci kenapa? Ada apa dengan putraku?" tanya Alano dengan suaranya yang mulai panik.


"Luci kecelakaan, Dad. Luci kecelakaan, hiks hiks." Emma terisak.


"Jangan bercanda kamu, Emma? Ini tidak lucu!" tegas Alano.


"Emma serius, Dad. Daddy buruan ke sini. Mel pingsan, aku tidak bisa mengangkat tubuhnya."


"Katakan, di mana kalian berada dan bagaimana kondisi Luci?"

__ADS_1


"Kami ada di stopan tak jauh dari rumah sakit.vLuci sudah dilarikan ke rumah sakit kita, Dad. Daddy bantu Emma dulu ya, Emma takut kandungan Mel kenapa-kenapa," jelas Emma.


"Okay, Daddy sama Mommy ke sana sekarang. Kau jangan pergi kemanapun! Jagain Mel! Tutt!" Alano menutup teleponnya.


Telepon terputus!


Sambil menunggu ayahnya datang, Emma terus berusaha menyadarkan adik iparnya. "Mel, bangun! Mel sadarlah, Mel!" Emma menepuk-nepuk pipi Melissa agar kembali sadar.


Setelah beberapa menit kemudian, Alano dan Eloisa datang ke TKP. Terlihat jelas kepanikan di wajah pasangan suami istri ini. Dengan cepat Alano meminta bantuan untuk mengangkat tubuh Melissa ke dalam mobil.


Berhubung di TKP sedang berkerumun warga, Melissa pun berhasil dimasukkan ke dalam mobil. Tanpa berlama-lama Alano langsung mengajak istri dan putrinya untuk segera pergi ke rumah sakit. Namun, Eloisa justru menangis melihat kondisi mobil putranya yang rusak parah pada bagian depan dan atap mobil.


"Bagaimana bisa kamu mengalami kecelakaan setragis ini, Nak? Firasat istrimu benar. Jika saja kamu tidak memaksakan untuk pergi bekerja maka semua ini tidak akan terjadi," ucap Eloisa dengan berderai air mata.


"Mom, ayo kita ke rumah sakit." Emma menggandeng tangan ibunya dan membawanya ke dalam mobil.


Eloisa hanya mengangguk. "Kamu duduk di depan, biar Mommy yang duduk di belakang. Mommy ingin jagain Mel dan cucu Mommy." Eloisa masuk lewat pintu belakang.


****


Sesampainya di rumah sakit ....


Melissa segera ditangani oleh dokter. Seluruh keluarga merasa takut karena selain putranya yang sedang sekarat, ada menantunya yang kesehatannya langsung drop. Bagaimana tidak, Melissa melihat dengan kepala matanya sendiri bagaimana keadaan suaminya pada saat masih berada di dalam mobil.


Karena hal itulah, saat ini Melissa belum sadarkan diri. Dia harus menerima perawatan medis bahkan dia harus dirawat inap agar kandungannya baik-baik saja. Saat ini Melissa di temani oleh Emma.


Sementara itu, Alano dan Eloisa masih menunggu di luar ruang IGD. Saat ini putranya sedang mempertaruhkan nyawa. Terlihat jelas para suster keluar masuk ruangan untuk membantu dokter menangani Luciano, yang mana Luciano juga adalah Dokter sekaligus pemilik rumah sakit Immanuel.


Setelah kurang lebih 2 jam, dokter pun keluar dari ruangan dan menemui Alano. Begitu dokter keluar, Eloisa dan Alano langsung menghampiri dokter itu. "Dok, bagaimana keadaan putra kami, Luciano?" tanya Alano pada dokter.

__ADS_1


"Dengan berat hati saya sampaikan, jika harapan Dr. Luci untuk hidup sangat tipis. Kondisinya saat ini benar-benar sangat buruk. Tempurung kepalanya rusak parah. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menyelamatkan Dr. Luci. Maafkan kami, Pak Alano. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin," jelas Dokter dengan tetesan air matanya.


"Apa? Jangan bilang kau tidak bisa menyelamatkan putraku. Saya tidak mau tahu, sekarang juga kau tangani putraku lagi! Cepat!" bentak Alano dengan mencengkram pakaian medis dokter.


"Maafkan saya, Pak. Saya sudah melakukan segala upaya saya untuk menyelamatkan Dr. Luci, akan tetapi keadaannya benar-benar buruk."


"Saya tidak mau mendengar keluhanmu! Yang saya mau kau selamatkan putraku sekarang juga! Atau tidak aku akan membunuhmu dan juga keluargamu!" Alano mengancam dokter.


Tiba-tiba suster keluar ruang IGD dan berbisik pada sang dokter. "Dok, Dr. Luci kejang-kejang."


Dengan cepat, dokter itu memasuki kembali ruang IGD dan kembali menangani Luciano. Namun, begitu dia sudah masuk ke dalam ruang IGD, Luciano sudah tidak kejang-kejang lagi. Semua para dokter dan suster panik dan juga ketakutan. Dengan cepat, dokter memeriksa denyut nadi dan juga jantungnya.


Karena jantungnya sudah hampir tidak berdetak, dokter segara mengambil alat defibrillator. Defibrillator adalah perangkat yang memberikan kejutan listrik ke jantung, untuk mengatasi irama jantung abnormal yang berpotensi fatal (aritmia). Setelah melakukan upaya itu beberapa kali, kini jantung Luciano pun sudah tak berdetak lagi. Itu artinya, Luciano sudah meninggal dunia.


Semua tangisan pecah setelah mengetahui sang Dokter tampan yang selama ini menjadi idola di rumah sakit Immanuel telah menghembuskan napasnya yang terakhir kali. Dokter itu kembali keluar untuk memberi tahu kabar duka ini pada keluarga Luciano. Begitu dokter keluar, Alano sudah siap untuk menembak kepala dokter saat itu juga.


"Saya minta maaf, Pak. Saya tidak bisa menyelamatkan Dr. Luciano," ucap sang dokter dengan menundukkan kepalanya.


Bugh!


Alano langsung melayangkan satu pukulan dengan pistol yang sedang dia pegang. "Bukankah sudah saya bilang untuk selamatkan putraku? Kenapa kau malah menghilang nyawa putraku, hah? Kau tidak pantas jadi seorang dokter, kau harus mati!" Alano menodongkan senjata tepat di kepala sang dokter.


"Sayang, sudah hentikan ini! Ayo kita lihat putra kita untuk yang terakhir kalinya," ajak Eloisa dengan tangisan yang pecah.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan dokter tak bertanggungjawab seperti ini lolos! Dia harus menanggung akibatnya!"


"Jangan lakukan itu! Kita sedang di rumah sakit, jangan lukai orang yang telah menolong putra kita, Sayang. Aku mohon hentikan." Eloisa memeluk suaminya dari belakang.


Perlahan Alano mulai luluh, dia menjatuhkan pistolnya. Kemudian dia melepaskan kedua tangan istrinya yang sedang melingkar dan berlari ke ruang IGD. Eloisa pun menyusul suaminya.

__ADS_1


****


__ADS_2