Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Aku Bukan Wanita Bodoh


__ADS_3

Happy reading.....


Setelah teleponnya tiba-tiba terputus, Melissa hanya menggelengkan kepala seraya menyimpan ponselnya kembali. "Kenapa akhir-akhir ini Xian-Ge selalu gampang merajuk. Apakah dia sedang ada masalah? Jika benar seperti itu, kenapa harus aku yang kena pelampiasannya?" gumam Melissa.


"Itu karena sahabatmu begitu mencemaskanmu," sahut Dr. Luciano yang baru saja masuk.


"Dr. Luci?" Melissa menoleh ke arah pria yang baru saja masuk ke dala. ruangannnya.


"Hi, Author MJ Cute. Apa yang kamu rasakan saat ini? Apa lukanya masih terasa sakit?" tanya Dr. Luci seraya berjalan menghampiri Melissa.


"Eumm ... tidak kok, Dok. Sejauh ini, lukanya tidak terasa sakit, hanya saja luka di wajahku terasa gatal sampai aku ingin menggaruknya," keluh Melissa.


"Jangan! Jangan digaruk, itu efek dari obat. Nanti juga tidak akan gatal lagi. Biarkan aku cek lukanya, serta memberinya obat."


"Silakan, Dr. Luci."


Dr. Luci segera mengecek luka di wajah, leher dan tangan Melissa. Selesai itu, dia memberikan obat agar pasiennya tidak merasa gatal lagi. Sambil mengobati, pria itu diam-diam mencuri pandang pada Melissa.


Dia tersenyum ke arah syal yang Melissa pakai. 'Dia terlihat cantik dengan syal itu. Warnanya sangat cocok.'


"Kenapa Dr. Luci menatapku seperti itu,  apa lukaku ini akan membekas seperti luka di kakiku?" tanya Melissa.


"Aku melihatmu karena kamu sangat cantik memakai syal itu. Apakah sahabatmu yang memberikan syal itu?" tebak Dr. Luci.


"Hei, Dr. Luci ini bicara apa. Bagaimana bisa wajah penuh luka seperti ini dibilang cantik. Haha," Melissa tertawa lepas.


"Syal ini pemberian dari penggemar rahasiaku bernama Sammy," lanjut Melissa.


"Wah, sudah mulai terkenal nih. Sudah memiliki penggemar rahasia juga ternyata," godanya.


"Aku juga tidak tahu. Malahan aku tidak percaya jika itu penggemarku. Bisa saja itu orang yang sedang ngeprank aku. Atau enggak ini ulah sahabatku, karena dia itu cukup jahil soal beginian," timpal Melissa.


"Selesai, lukanya selesai diobati."


"Terima kasih, Dr. Luci." Melissa tersenyum.


Ceklek!


Pintu terbuka dan masuklah Yuxian. Sontak Melissa dan Dr. Luciano menoleh ke arah Yuxian. "Xian-Ge, apakah kau tidak pergi bekerja?" tanya Melissa.

__ADS_1


"Aku mau bicara 4 mata denganmu, Mel!" tegas Yuxian tanpa ekspresi.


Dr. Luciano paham maksud Yuxian, dia pun bergegas keluar meninggalkan Melissa dengan sahabatnya. Setelah Dokter itu keluar, Yuxian berjalan ke arah sahabatnya.


"Ada apa, Ge? Kenapa wajahmu terlihat kesal seperti itu?" tanya Melissa sembari duduk dan bersandar.


"Kau tanya kenapa? Seharusnya aku yang bertanya padamu! Kenapa kau ingin menarik kembali laporannya? Apa yang membuatmu berubah pikiran seperti ini? Kenapa kau menjadi Melissa yang lemah lagi, kenapa? Apa keluar suamimu telah mengancammu?" tuduh Yuxian.


"Xian-Ge, tidak ada yang mengancamku! Ini atas dasar kemauanku saja. Aku ingin memberi Danny kesempatan terakhir," jawab Melissa.


"Woah, Mel. Luar biasa, kau bukan sahabatku yang dulu lagi. Kau sudah dibutakan oleh cintamu!" ujar Yuxian, geram.


"Xian-Ge, kenapa kau bicara seperti itu? Apa kau tidak percaya padaku lagi? Kenapa kau tidak tanyakan apa alasan aku memberi kesempatan pada suamiku? Ge, aku bukan wanita lemah, aku juga tidak bodoh. Aku sudah memikirkan ini dengan matang bahkan aku merencanakan sesuatu agar Danny bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Bukan hanya Danny, aku juga berniat membalas perbuatan Yobelia. Wanita yang telah membuatku menjadi seperti ini." Melissa menatap Yuxian dengan penuh arti.


"Apa yang kau rencanakan, Mel? Kenapa kau tidak memberi tahuku tentang ini?"


Melissa tersenyum. "Inilah yang membuatku gemas. Ihhh, Gege. Kau ini sangat menggemaskan." Melissa mencubit kedua pipi Yuxian.


"Mel, sakit. Jangan mencubitku seperti ini!" keluh Yuxian.


"Kenapa? Apa kau akan mengadu pada Mami," ledek Melissa seraya menaik-turunkan alisnya.


"Aigoo, kau ini. Kenapa kau selalu saja tidak sabaran kek gini. Kenapa tidak percaya pada sahabatmu sendiri, eoh? Apa karena kau sedang dekat seorang wanita, kau jadi tidak percaya lagi padaku. Semua itu karena wanita itu 'kan?" tebak Melissa.


"Tidak. Bukan seperti itu, Mel. Aku hanya takut kau menjadi Melissa yang lemah lagi, aku tidak ingin kau kembali jatuh ke lubang yang sama. Aku hanya mengkhawatirkanmu saja," ujar Yuxian.


"Itu tidak akan terjadi, Ge. Oh iya, bolehkah aku meminta tolong padamu?"


"Katakan, apa yang harus aku lakukan untukmu?" Yuxian memegang tangan Melissa.


"Tolong tarik kembali laporannya, biarkan Danny bebas. Setelah itu aku akan keluar dari rumah sakit ini dan mulai merencanakan misiku. Apa kau mau bergabung denganku, pria sipit?" Melissa mengedipkan sebelah matanya.


"Tentu saja, aku akan bergabung denganmu. Kita berdua akan menjalankan misi ini."


"Bukan kita berdua saja, tapi ada 2 orang yang akan bergabung dengan kita." Melissa tersenyum licik.


"Siapa mereka? Apa kau menyewa algojo untuk membunuh suamimu?" Yuxian membulatkan matanya.


"Astaga, kau ini." Melissa mencubit perut Yuxian.

__ADS_1


"Aku bukan wanita psikopat, Ge. Aku masih waras ya, dari pada membunuh lebih baik aku menikah lagi aja dengan oppa Korea, haha." Melissa tertawa lepas.


"Mulai kumat nih." Yuxian menepuk dahinya sendiri.


.


.


Kantor Polisi.


Seorang polisi sedang berjalan ke arah sel, tempat Danny ditahan. Kemudian, dia membuka kunci selnya. "Saudara Danny, Anda dinyatakan bebas. Silakan," ucap polisi.


Danny yang saat ini sedang berjongkok dan merenungi nasibnya langsung berdiri dan menatap polisi itu dengan kebingungan. "Dibebaskan? Siapa yang telah membuat saya bebas? Apakah dia Yobelia?" tanya Danny.


"Bukan. Yang membebaskan Ahnda tidak lain adalah istri anda sendiri, bu Melissa. Bu Melissa telah mencabut laporannya dan membiarkan Anda bebas dari hukuman. Tapi, Anda harus pastikan jika Anda tidak akan mengulangi kesalahan yang sama!" timpal Polisi.


"Baik, Pak. Saya janji, saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi. Terima kasih," Danny menunduk tanda hormat.


"Sama-sama, silakan." Polisi itu mempersilakan Danny untuk pulang.


.


.


Kediaman Danny.


Danny tidak pulang ke rumahnya, dia pulang ke rumah orang tuanya. Danny menekan bel rumah. Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh adiknya, Nazira. Begitu pintu dibuka, betapa terkejutnya Nazira melihat kakaknya sudah bebas.


"Kak Danny." Nazira membelalakkan matanya.


Kemudian Nazira berlari untuk memberi tahu orang tuanya. "Mama, Papa! Kak Danny sudah pulang!" teriak Nazira dengan begitu antusias.


Tentu saja mendengar berita itu Tullia dan Fawwas berlari ke arah Nazira. "Yang benar, jika Danny sudah pulang lalu di mana dia?"


"Masih di luar, Ma."


Tullia berlari keluar rumah untuk memastikan apakah benar yang dikatakan Nazira atau tidak. Begitu sampai di luar rumah, ternyata benar apa yang dikatakan Nazira jika putra sulungnya sudah bebas dari penjara. Tullia langsung meluk Danny seakan sudah tidak bertemu lama.


Berbeda dengan Fawwas, ayah Danny justru terlihat marah. Dia tidak habis pikir, kenapa menantunya membebaskan suami yang telah menyiksanya? 'Mel, kamu terlalu sempurna untuk Danny. Papa jadi merasa bersalah atas apa yang terjadi padamu. Papa berjanji jika Papa akan selalu mengawasi putra Papa ini.'

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2