
Kini Luciano, Ming Hao, Alzam dan beserta timnya sedang melakukan pencarian di sekitar Tebing Keraton. Saat ini jam menunjukkan pukul 02.10 malam namun, meski sudah sangat larut malam, mereka tetap melakukan pencarian sampai Melissa berhasil di temukan. Luciano dan Ming Hao pergi ke arah yang berbeda dengan Alzam dan timnya.
"Oh iya, apa kau tahu kapan Yuxian hilang? Bagaimana Mel bisa tahu mengenai hilangnya Yuxian sampai Mel nekat pergi sendirian ke tempat ini?" tanya Luciano pada Ming Hao.
"Aku kurang tahu pasti kapan Yuxian menghilang. Aku tahu dari Ibu mertuaku katanya Yuxian belum juga pulang setelah pulang dari rumah Mel. Ibu mertuaku juga yang menghubungi Mel dan meminta bantuannya untuk mencari adik iparku," jawab Ming Hao dengan tatapan yang menunjukkan kejujuran.
"Kenapa harus Mel? Apakah tidak ada ada orang lain yang bisa ibunya Yuxian mintai pertolongan? Kenapa harus Mel. Ibu mertuamu tahu jika Mel itu wanita, kenapa dia tidak memikirkan keselamatan Mel? Aku heran, bagaimana Mel bisa kepikiran untuk pergi ke tebing ini? Apakah Yuxian sendiri yang menyuruhnha ke mari?" Luciano sudah sangat lelah karena setelah berjam-jam dia mencari Melissa, pacarnya yang belum membuahkan hasil.
"Sebelumnya aku minta atas kejadian ini. Seandainya Ibu mertuaku tidak meminta Mel untuk mencari Yuxian dan seandainya dia memintaku untuk mencari Yuxian mungkin Mel saat ini masih aman. Mel tidak akan menghilang seperti ini. Maafkan Ibu mertuaku. Kau tahu, 'kan perasaan seorang Ibu itu lembut. Dia tidak akan sanggup jika melihat anaknya belum pulang apalagi dinyatakan hilang. Mungkin karena Mel sahabat Yuxian, Ibu mertuaku menjadi berani meminta tolong pada Mel. Dia tidak tahu jika Mel akan mendatangi tempat berbahaya seperti ini. Sekali lagi aku minta maaf padamu," ucap Ming Hao dengan tulus disertai menundukkan kepala sebagai rasa bersalahnya.
"Aku tahu dia seorang Ibu. Tapi, kau juga jangan lupa jika Mel punya Ibu juga. Bagaimana perasaan Tante Cassie mendengar kabar putrinya hilang. Sudah lupama permintaan maafmu itu! Sebaiknya kita lanjutkan mencari Mel, sebentar lagi matahari akan segera terbit. Ini akan mempermudah pencarian kita." Luciano berjalan meninggalkan Ming Hao dengan rasa kesalnya.
Ming Hao hanya mengangguk dan mengikuti Luciano dari belakang. Sementara itu, di perjalanan mereka lihat ada sebuah jam tangan yang tergeletak. Tanpa berlama-lama, dia langsung mengambil jam tangannya itu dan melihatnya dengan seksama. Setelah dia yakin jika itu adalah jam tangan milik pacarnya, dia berlari mencari Alzam dan juga timnya.
"Zam! Aku nemuin jam tangan Mel!" teriak Luciano dengan keras.
Dia berteriak dengan sangat antusias seraya berlari. Diikuti Ming Hao dari belakang yang ikut berlari menyusul Luciano. Wajah Luciano sedikit ceria, matanya berbinar. Dia seperti memdapat sebuah harapan besar jika dia akan segera menemukan pacarnya itu.
__ADS_1
Begitu sampai di hadapan Alzam, Luciano memperlihatkan jam Melissa. Alzam mengeluarkan sebuah kantong plastik. Rupanya Alzam memasukkan jam tangan itu sebagai barang bukti. Dengan adanya barang bukti itu, mereka yakin jika Melissa memang menghilang di sekitar Tebing Keraton.
"Luci, kau tahu ... dalam kasus menghilangnya Melissa, ada beberapa hal janggal di sini. Bukankah di sini sangat rawan begal? Jika memang Mel di begal, seharusnya Mel tetap berada disini dan kendaraannya yang menghilang. Namun, keadaan ini berbalik. Apa kau juga merasakan hal yang aneh?" Alzam menatap tajam ke arah temannya.
"Ganjal dan aneh gimana maksudmu, Zam?" Luciano mengerutkan dahinya. Dia bingung dengan apa yang temannya jelaskan.
"Setelah aku dan timku selidiki. Ternyata dashcam mobil Melissa tidak ada. Itu artinya, para penculik Mel yang telah mengambil SD card-nya. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan. Mereka seperti sudah terbiasa melakukan ini. Tapi, masih ada harapan karena kita memiliki dua barang bukti yang kemungkinan ada sidik jari mereka pada barang bukti tersebut. Sialnya di sini tidak terpasang CCTV. Seandainya ada, mungkin kita akan bisa mengetahui ke mana arah mereka pergi membawa Mel. Sekarang kita hanya bisa bertanya pada warga sekitar, barangkali semalam ada yang melihat kejadian menghilangnya Mel, ayo." Alzam mengajak Luciano dan Ming Hao ke salah satu kampung yang tidak jauh dari Tebing Keraton.
"Ayo, Zam. Aku berharap Mel ada di salah satu rumah warga itu."
****
Kini Luciano bersama yang lain sudah sampai di salah satu kampung yang bernama Lembah Kuning. Nama kampung ini identik dengan bahayanya medan menuju kampung tersebut dan ada Lembah di sekitar kampung mereka. Mereka kembali berpencar agar Melissa bisa ditemukan dengan cepat.
Satu persatu rumah mereka datangi. Mereka bertanya mengenai ciri-ciri Melissa bahkan mereka memperlihatkan foto Melissa pada warga kampung Lembah Kuning. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang mengenali dan bertemu dengan Melissa. Mengenai kejadian semalam, semua warga tidak ada yang mengetahui tentang kejadian malam itu.
Tiba-tiba ada seorang nenek-nenek yang mendekati Luciano dan berbisik. "Wanita yang kau cari sedang dalam bahaya! Segera selamatkan dia!" bisik nenek tua berkulit hitam itu seraya menyeringai menyeramkan dan pergi.
__ADS_1
Mendengar itu, Luciano hanya tertegun. Dia bingung, apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia percaya dengan ucapan nenek tua itu? Tapi, kenapa dia membisikkan itu padaku? Apa dia mengetahui sesuatu tentang hilangnya Mel? Sepertinya aku harus bertanya sesuatu pada nenek tua itu.
Namun, begitu Luciano membalikkan badan, nenek tua itu tidak ada. "Loh, ke mana nenek tua itu?" Luciano melihat ke sana ke mari mencari keberadaan nenek tua itu.
Ming Hao yang melihat itu pun kerasa aneh dengan sikap Luciano. "Kau kenapa? Apa yang sedang kau cari?" tanya Ming Hao dengan wajah yang lelah.
"Itu, tadi ada nenek tua yang membisikkanku sesuatu. Sepertinya dia tahu sesuatu tentang Mel. Tapi, ke mana perginya nenek tua itu?" Luciano menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa heran.
"Jangan terlalu memikirkan ucapan nenek tua itu! Dia sedikit tidak waras! Dia selalu bicara ngelantur, hiraukan saja!" sahut seorang pria bertubuh tinggi.
"Benarkah itu, Pak? Nenek tua itu tidak waras?" tanya Luciano dengan tatapan yang tidak mempercayai pria paruh baya yang berada di hadapannya.
"Kau lihat saja sendiri. Dari penampilan dan sikapnya saja sudah aneh sepertinya itu. Dia selalu bicara seperti itu. SEGERA SELAMATKAN DIA SEBELUM DIA CELAKA. Kalimat itu yang semua warga benci dari nenek tua itu. Dia selalu menakut-nakuti tamu yang mengunjungi kampung ini. Benar-benar tidak waras!" jelas pria paruh baya.
"Oh begitu ya, Pak. Terima kasih telah memberi tahu kami. Kalau begitu, kami akan mencari pacarku di tempat lain. Kami pamit, mohon maaf telah mengganggu para warga." Luciano tersenyum ramah sebelum pergi meninggalkan kampung itu.
Namun, entah kenapa hatinya berkata jika ucapan nenek tua itu seperti sebuah sinyal. Mungkinkah Mel berada di kampung itu? Tapi, siapa yang merupakan menculik Mel? Pertanyaan demi pertanyaan mulai menyerang benak Luciano.
__ADS_1
BERSAMBUNG....