
Brakk!
Danny membuka pintu dengan sangat keras membuat Yobelia terlonjak kaget. Dia berjalan dengan mata yang merah serta kedua tangannya yang mengepal. Yobelia yang melihat itu tentu saja takut, karena sebelumnya dia belum pernah melihat kemarahan Danny yang seperti ini. Bahkan dia bingung kenapa suaminya tiba-tiba masuk dengan ekspresi yang menakutkan.
Setelah berada di hadapan Yobelia, Danny langsung mencengkram leher Yobelia. "Mas, apa yang kau lakukan?"Â tanya Yobelia dengan sedikit berontak.
"Katakan, kau bicara dengan siapa di telepon?" tanya Danny dengan nada yang tinggi. Kemudian dia melepaskan cengkeramannya.
"Aa-aku tadi bicara di telepon dengan ... temanku, ya temanku," jawab Yobelia dengan mengalihkan pandangannya.
"Benarkah? Temanmu ya, eum ... apa yang kalian bicarakan?" skak Danny dengan memancing istrinya.
Dia tahu jika Yobelia tengah berbohong. Dia sebelumnya sudah mendengar pembicaraan istrinya di telepon. Dia tidak akan memaafkan Yobelia jika dia memang terlibat dalam pembunuhan itu.
Mendengar itu, Yobelia langsung berkeringat dingin. Wajahnya pucat pasi serta terlihat sangat gugup. Saat ini dia tengah meremas jemarinya.
"Melihatmu seperti ini, aku rasa kalian sedang membicarakan hal yang serius. Katakan, apa yang kalian bicarakan di ruangan ini? Apa kau berselingkuh dariku?" pancing Danny.
Yobelia yang awalnya tidak berani menatap Danny, kini dia menatap tajam suaminya. "Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mungkin berselingkuh darimu, Mas. Aku ini sangat menyayangimu." Yobelia menggenggam tangan suaminya.
"Lalu, apa yang kalian bicarakan? Kenapa kau terlihat ketakutan seperti ini?" tanya Danny dengan reaksi yang lembut. Padahal sejak awal dia sudah emosional.
"Bagaimana aku tidak takut, Mas tiba-tiba datang dan terlihat marah. Jelas aku ketakutan seperti ini. Mana barusan kau mencekikku," timpal Yobelia.
"Aku seperti itu karena aku kira kau selingkuh dariku. Makanya aku marah. Sekarang jika benar kau tidak selingkuh. Coba katakan dengan jujur, apa yang kau bicarakan dengan temanmu itu?" Danny mendesak istrinya agar berkata jujur.
__ADS_1
"Aku hanya membicarakan liburan bersama, Mas. Tidak ada hal yang lain kok," jawab Yobelia dengan berbohong.
Danny memutar bola matanya dengan malas. Kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. "Bohong!" bentak Danny dengan nada yang begitu tinggi.
Yobelia yang dibentak lelah Danny pun langsung tercekat. Dia terdiam seribu bahasa. Wanita ini hanya bisa menelan salivanya disertai detakan jantungnya yang begitu cepat.
'Matilah, apa mungkin Mas Danny sudah mendengar pembicaraanku di telepon tadi?' batin Yobelia berkata.
"Kenapa diam? Apa kau pikir kau bisa membohongiku seperti ini? Berani sekali kau membayar orang untuk membunuh mantan istriku! Apa alasanmu ingin membunuh Melissa?" Danny memegang bahu istrinya.
"Kau tahu, kenapa aku melakukan ini? Aku sakit hati, Mas! Kau ingat, saat pernikahan kita terjadi ... Melissa telah mempermalukanku di depan para tamu. Bukan hanya itu saja, bahkan di malam pertama kita dia berani mengambilmu dariku. Aku hanya ingin balas dendam. Aku ingin dia lenyap dari muka bumi ini. Aku tidak mau mantan istrimu itu mengganggu rumah tangga kita. Aku hanya berusaha mempertahankan rumah tangga kita dari janda tengil itu!" pekik Yobelia disertai berlinang air mata.
"Belia, sadarlah! Lihat aku!" Danny menangkup kedua pipi istrinya.
Yobelia menatap mata suaminya. "Tenanglah. Melissa sudah tidak ada, dia tidak akan pernah mengganggu rumah tangga kita. Kau tahu, saat ini mantan istriku itu sudah menjalin hubungan dengan si Dr. Tampan itu. Melissa bukanlah wanita yang suka mengganggu rumah tangga orang lain! Jadi, jangan menyebutnya janda tengil. Kau jangan menjadi wanita kacang lupa kulit! Dulu kau juga seorang janda sebelum aku menikahimu dan kau yang telah merebutku dari Mel," sambar Danny.
"Apa kau sedang mengolok-olokku? Apa kau menyesal menikahi janda gatal sepertiku? Kenapa kau bicara seakan-akan sedang membelanya dari pada istrimu sendiri? Apa kau masih menyimpan rasa pada mantan istrimu?" Yobelia menatap suaminya dengan tatapan penuh kemarahan.
"Aku tidak membelanya, aku hanya bicara sesuai fakta saja. Sudahlah, jangan membahas ini! Ini hanya akan membuat kita bertengkar saja."
'Terserah kau saja, Mas! Aku muak dengan sikapmu yang selalu melindungi mantan istrimu! Malam ini kau di luar!" Yobelia keluar dari ruangan itu meninggalkan suaminya. Kemudian dia pergi ke kamarnya.
****
Di dalam mobil ....
__ADS_1
Fang Yin saat ini tengah menyetir dengan wajahnya yang merah padam karena marah. Dia tidak menyangka jika Melissa dan keluarganya akan menolak lamaran itu. Jika bukan karena putranya, wanita ini tidak akan pernah melakukan ini apalagi untuk melamar seorang janda. Sudah jelas jika peraturan di keluarganya dilarang keras untuk menikahi orang yang berstatus Janda ataupun Duda.
"Hanya ada satu cara agar putraku bisa melupakan janda tak tahu diri ini. Mungkin dengan tinggal di Tiongkok dia akan memulai kehidupan yang baru, sungguh ... aku menyesal karena telah membiarkan Yuxian tinggal di negara ini bersama wanita parasit itu!" Fang Yin memukul stir mobilnya.
Tak terasa setelah beberapa menit berlalu, Fang Yin telah sampai di kediaman putranya. Dia keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumahnya. Wanita itu pergi ke ruang tengah. Sesampainya di ruang tengah, dia langsung mengajak seluruh keluarganya untuk kembali ke Tiongkok.
"Kalian semua bersiap-siaplah! Malam ini juga, kita akan terbang ke Tiongkok!" perintah Fang Yin pada kedua putri dan menantunya.
"Tapi, Ma ... apa ini waktu yang tepat untuk pulang ke Tiongkok disaat Gege sedang terpuruk saat ini?" tanya Jian Ying.
"Yuxian akan ikut terbang ke Tiongkok! Mama tidak akan biarkan dia tetap tinggal di sini dengan janda parasit itu!" tegas Fang Yin.
"Jie Melissa maksud Mama?" tebak Jian Ying.
"Ya, siapa lagi."
"Tapi, kenapa Mama memanggilnya janda parasit? Memangnya apa yang Jie-Mel lakukan sampai Mama semarah ini?"
"Berani sekali dia menolak lamaran Yuxian! Padahal Mama datang baik-baik untuk melamar Mel di hadapan orang tuanya tapi apa yang dia lakukan? Dia malah memilih pria bule itu! Dan kau tahu apa yang Mel katakan pada Mama?"
"Apa, Ma?"
"Mel mengatakan jika dia tidak pernah memiliki perasaan apapun pada putraku. Dia hanya menganggap Yuxian hanya sebagai sahabat sekaligus kakaknya sendiri. Setelah apa yang putraku lakukan untuknya selama ini, bisa-bisanya dia menyakiti putraku sampai seperti ini. Hati Mama sakit, Jian Ying. Mama tidak tahan melihat penderitaan Yuxian. Dia baru saja kehilangan Papa lalu sekarang dia dikhianati cintanya. Rasanya Mama tidak sanggup lagi membiarkannya untuk tetap tinggal di negara ini." Fang Yin menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia duduk dan menangis.
Melihat itu Jian Ying langsung turut menangis melihat kesedihan mamanya. "Apa yang Mama lakukan? Kenapa Mama mendatangi rumah Mel? Apa Mama ingin membuat persahabatanku dengan Mel hancur karena kesalahpahaman ini? Apa Mama ingin aku menjauh dari sahabatku sendiri?" timpal Yuxian yang saat ini sudah berada di ruang tengah.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....