
Immanuel Home ....
Setelah berkenalan dengan kakaknya Dr. Luciano, Melissa pun diantar ke salah satu kamar yang tidak lain dan tidak bukan adalah kamar Dr. Luciano. Menyadari hal itu, tentu saja Melissa kebingungan. Kenapa Dr. Luciano mengantarkannya ke kamarnya sendiri?
"Dr. Luci, kenapa mengantarkanku ke kamarmu? Apakah di rumah ini tidak ada kamar tamu?" tanya Melissa dengan tatapannya yang tajam.
"Kamar tamu ada, hanya saja itu untuk tamu bukan untukmu. Karena kau bukan tamuku tapi calonku," canda Dr. Luci.
"Apa?" Melissa membelalakkan matanya.
"Haha, just kidding," kekeh Dr. Luciano.
"Sudah, ayo masuk." Dr. Luciano mengajak Melissa untuk memasuki kamarnya.
"Dr. Luci, apa tidak sebaiknya aku tidur di kamar tamu saja? Aku tidak enak jika tidur di kamarmu ini. Bagaimana jika ada barang yang hilang," timpal Melissa.
"Kau ini," kekeh Dr. Luciano. "Bukankah harta berhargaku sudah hilang diambil olehmu?" Dr. Luciano menaik-turunkan alisnya.
"Hah? Harta apa yang aku ambil darimu?" Melissa mengernyitkan alisnya.
"Hatiku. Hatiku hilang pada saat pertama kali kita bertemu," jawab Dr. Luciano.
"Don't joke anymore!" Melissa menangkup kedua pipi Dr. Luciano.
__ADS_1
"Haha, baiklah." Dr. Luciano tertawa dan mengelus kepala Melissa.
Keduanya masuk ke kamar. "Oh iya, jika aku tidur di sini ... lalu, Dr. Luci tidur di mana?" tanya Melissa sembari melihat seisi kamar temannya.
"Jangan pikirkan itu, aku bisa tidur di manapun aku mau. Sekarang, katakan ... apa yang kau bicarakan di telepon tadi bersama Danny?" tanya Dr. Luciano.
"Aku hanya sedikit menakut-nakutinya, agar dia mau melakukan tugas yang aku berikan padanya. Dr. Luci tahu, ekspresi dia benar-benar menyedihkan. Aku belum pernah melihatnya seperti itu," kekeh Melissa.
"Benarkah? Memangnya kau menakut-nakuti dengan cara apa?" tanya Dr. Luciano.
"Alah, aku hanya menakutinya dengan cara mengancamnya. Jika dia tidak mau melakukan tugas itu, aku akan menyakiti keluarganya termasuk juga istrinya. Aku juga mengirim sebuah foto editanku sendiri seakan-akan di depan rumahnya memang benar-benar ada preman bayaran untuk melukai keluarganya. Padahal aku tidak mungkin melakukan itu, haha. Konyol sekali bukan?" Melissa tertawa terbahak-bahak menjelaskannya.
"Astaga terniat sekali kau, Mel. Bisa-bisanya kau kepikiran ke situ. Haha, kau memang cocok menjadi author," kekeh Dr. Luciano.
****
Melissa bangun lebih awal, dia tengah menyiapkan sarapan untuk Dr. Luci dan kakaknya yang bernama Emma. Tentunya sebelum dia menyiapkan sarapan, dia telah mandi dan berdandan sedikit agar pagi ini dia terlihat lebih segar dan ceria. Dia ingin menunjukkan pada Danny jika dia baik-baik saja walaupun dia sudah bercerai.
Setelah beberapa menit kemudian, Melissa telah selesai menyiapkan sarapannya. Sambil menunggu Dr. Luciano turun bersama Emma, Melissa pun menghubungi sahabatnya, Yuxian. Melissa berjalan ke luar rumah untuk bicara dengan sahabatnya.
Tak menunggu waktu lama, teleponnya pun telah diangkat oleh Yuxian. Melissa tersenyum merasa senang karena akhirnya telepon dia diangkat juga oleh sahabatnya. Padahal sebelumnya, Yuxian tidak pernah mengangkat telepon Melissa. Entah apa yang terjadi di sana, sehingga Yuxian tidak mengabarinya.
Telepon terhubung!
__ADS_1
"Hallo, Xian-Ge," sapa Melissa dengan begitu antusias.
"Hallo, Mel," terdengar suara Yuxian yang terdengar sedikit sedih.
"Gege, kau ke mana saja? Aku sangat mencemaskan dirimu, aku selalu menunggu kabar darimu. Apa yang terjadi di sana? Bagaikan keadaan Om Chang Yi, apakah Papamu baik-baik saja?" tanya Melissa dengan kecemasannya.
"Papaku ...."
"Kenapa dengan Papamu? Om Chang Yi baik-baik saja 'kan? Katakan! Jangan membuatku takut, Ge?" mendengar itu, Melissa terlihat begitu panik.
"Papaku meninggal sebelum aku sampai di rumah sakit, Mel," jawab Yuxian dengan suaranya yang terisak.
"Apa? Papamu meninggal. Enggak, itu enggak mungkin. Bagaimana bisa Om Chang Yi meninggal, katakan itu tidak benar, Ge. Aku bahkan bertemu dengan Om Chang Yi." Melissa menangis dengan tubuh merosot.
"Aku pun ingin menyangkalnya, tapi ... ucapan Dokter terdengar begitu jelas dan nyata. Aku sangat menyesal, aku tidak sempat melihat dan berbicara dengan Papaku sebelum Papa meninggal."
"Ge, tenanglah. Aku akan terbang ke China malam ini juga, aku akan ada bersamamu. Tunggu aku, Ge. Aku akan datang."
"Tidak perlu, Mel. Aku baik-baik saja, kau tetaplah di Indo. Aku akan kembali beberapa hari lagi, tunggu aku. Ada yang ingin aku katakan padamu tentang rahasia yang selama ini aku sembunyikan darimu. Mungkin ini saatnya aku memberi tahumu seperti apa aku dan keluarga Wuxing. Jangan menemuiku ke China!" Yuxian melarang Melissa untuk datang ke negaranya.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menemuimu dan menyampaikan belasungkawa? Kau sahabatku, Ge. Apakah salah jika aku ingin berada di sisimu? Aku ingin berada di dekatmu," timpal Melissa.
"Aku tahu itu, kau memang sahabatku tapi, keluargaku melarangmu untuk datang,"
__ADS_1
"Kenapa? Apa aku membuat kesalahan sehingga keluargamu melarangku untuk datang?"
BERSAMBUNG....