
"Kak Emma." Luciano menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena dia malu telah tercyduk oleh kakaknya sendiri.
"Kau ini, Luci! Bukannya bantuin Daddy mengurus jasad wanita itu malah bikin istrimu kewalahan seperti ini," tegur Emma dengan menggelengkan kepalanya.
"Kak Emma kalau masuk kamar itu ketika dulu kek, jangan asal masuk aja. Gangguin Luci sama Mel saja," ucap Luciano dengan sedikit ketus.
"Hush, Mas! Enggak boleh bicara seperti itu! Kak Emma ini kakakmu sendiri," Melissa menegur suaminya.
"Tuh, dengerin istrimu. Itulah kenapa aku lebih suka Mel yang jadi adikku ketimbang dirimu! Kau itu ngeselin, ayo Mel kita ke bawah. Kita ngemil yang banyak. Bukankah kau suka ngemil," Emma mengajak Melissa.
"Iya, Kak. Ayo. Mas, aku ke bawah duluan ya," ucap Melissa sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Loh, loh. Kok suami sendiri malah ditinggal sih," ujar Bobby sembari menatap kepergian Kakak dan juga istrinya.
****
Taman belakang rumah ....
"Tuan, apa yang harus kita lakukan dengan jasad ini?" tanya salah satu bodyguard.
"Bersihkan jasad ini, setelah itu cari tahu identitas wanita itu. Kemudian kalian kirimkan jasad ini pada keluarganya!" perintah Alano.
"Lalu, bagaimana dengan penyelidikan kasus ini, Tuan? Apakah kita tetap mencari tahu siapa pelakunya atau fokus pada jasad ini?" tanya bodyguard.
"Tentu saja. Kita bagi-bagi tugas. Sebagian mengurus jasad wanita ini serta mencari tahu identitasnya dan sebagian fokus mencari tahu dalang dari penyerangan ini. Ingat, sebelum itu periksa semua mobil barangkali ada alat pelacak yang ditaruh di mobil putraku. Saya ingin pelakunya terungkap malam ini juga, mengerti?"
"Baik, Tuan. Kami mengerti," jawab seluruh bodyguard secara serempak.
"Ingat, bawa pelakunya dalam keadaan hidup! Biarkan saya yang mengeksekusinya, kalian hanya perlu membawanya saja. Ingat, jangan membuat orang lain curiga. Bekerja dengan hati-hati."
"Baik, Tuan. Kami akan pastikan membawa pelakunya ke hadapan Tuan dalam keadaan hidup,"
"Bagus. Sekarang lakukan tugas kalian!"
__ADS_1
Seluruh bodyguard Alano menundukkan keplanya tanda hormat. Kemudian seluruh bodyguard Alano bubar dan menjalankan tugasnya. Sementara itu Alano memeriksa tas wanita itu untuk mencari tahu identitas wanita yang dia bunuh.
"Dad!" panggil Luciano yang tiba-tiba datang dan berdiri di belakang ayahnya.
Alano menoleh ke belakang. "Luci, kemarilah, Nak!"
Luciano pun menghampiri ayahnya yang sedang memeriksa tas wanita itu. "Daddy sedang apa?" tanya Luciano.
"Daddy sedang memeriksa identitas wanita ini. Kau periksa ponsel wanita ini, cari tahu riwayat panggilannya!" perintah Alano pada putranya.
"Baik, Dad." Luciano segera mengambil ponsel milik wanita itu dan segera memeriksa ponsel itu.
Disaat Luciano dan Alano sedang memeriksa identitas wanita itu, sedangkan Melissa dan Emma sedang asyik berkumpul bersama orang tuanya ditemani oleh cemilan-cemilan. Yup, saat ini Mereka berada di ruang tengah. "Sayang, ngemil yang banyak ya biar cucuku sehat," ucap Eloisa sembari mengelus perut menantunya.
"Iya, Mom. Mommy juga ngemil dong, masa Mel sendiri yang ngemil," ucap Melissa sembari tersenyum.
"Iya, Sayang. Ini Mommy juga ngemil."
Di ruang tengah terlihat sangat asyik sekali mengobrol, sehingga tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari sudah mulai malam, kini mereka pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Orang tua Melissa pun menginap di rumah menantunya, yaitu Luciano. Begitu sampai di kamar, Melissa memutuskan untuk melakukan rutinitas sebelum tidur sambil menunggu suaminya.
****
Saat ini Yobelia sedang asyik bermain ponsel. Tiba-tiba dia kepikiran tentang hasil wanita suruhan untuk membunuh Luciano. Kenapa wanita itu tidak kunjung mengabarinya. Sehingga dia pun memutuskan untuk menghubungi wanita itu.
Namun, sebelum dia menghubungi wanita itu, ternyata wanita itu sudah menghubunginya lebih dulu. Yobelia tidak tahu jika saat ini yang meneleponnya bukan wanita suruhannya melainkan Alano. Selain itu, dia juga tidak tahu jika wanita suruhannya sudah tewas di tangan Alano, ayah Luciano yang akan Yobelia celakai.
Tanpa berpikir panjang, Yobelia langsung mengangkat teleponnya. Dia menempelkan ponsel di telinga kanannya. Karena tidak mendengar suara apapun, akhirnya dia pun memutuskan untuk memarahi wanita itu.
Telepon terhubung!
"Hallo, ke mana aja sih, Bu? Sudah malam begini baru hubungi saya? Bagaiamana? Apakah Ibu sudah meracuni Luciano?" tanya Yobelia dengan nada yang kesal.
Namun, dia tidak mendengar suara apapun. Kareba tidak mendengar apapun, Yobelia semakin kesal.
__ADS_1
"Kenapa diam saja? Jangan bilang kalau Ibu gagal menjalankan tugasnya? Jika sampai itu gagal, saya tidak akan mentransfer sisa bayarannya!" Yobelia mengancam wanita itu.
"WANITA SURUHANMU SUDAH TEWAS! BERSIAPLAH UNTUK MENERIMA AKIBATNYA! TUTT!" Alano mengakhiri teleponnya.
Telepon terputus!
Setelah mendengar suara itu, Yobelia langsung terperanjat bukan main. Matanya membulat dengan sempurna. Tanpa pikir panjang dia pun mengeluarkan kartu dari ponselnya. Kemudian dia pun mematahkan nomor tersebut agar orang yang menghubunginya tidak bisa menghubunginya lagi.
"Gawat! Enggak, enggak bisa! Aku harus pergi dari rumah ini sekarang juga. Jangan sampai keluarga Luciano bisa menangkapku." Yobelia langsung bergegas untuk mengemasi barang-barangnya.
Tidak terlalu banyak barang yang Yobelia bawa, sehingga dalam beberapa menit dia pun selesai berkemas. Tanpa pikir panjang, dia keluar dari kamar dan berpapasan dengan suaminya, Danny. Melihat istrinya yang keluar dari kamar dengan membawa koper membuatnya kebingungan.
"Belia, kamu mau ke mana? Kol bawa koper?" tanya Danny sembari menatap ke arah ke arah koper istrinya.
"Aku mau pergi berlibur, Mas selama beberapa hari," jawab Yobelia dengan sedikit tersenyum.
"Kok berangkatnya malam-malam, Sayang? Mau aku antar?" tawar Danny.
"Tidak perlu, Mas. Aku akan pergi dengan teman wanitaku. Mas tenang aja, aku akan segera pulang kok. Bye, Mas Danny. Jaga dirimu, muach." Yobelia mencium bibir Danny sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan suami dan rumahnya.
Setelah sampai di luar rumah, dia segera masuk mobil melajukannya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak ingin ditangkap oleh keluarga Luciano, sebab dia sudah tahu apa yang akan dia terima jika sampai ditangkap oleh keluarga Luciano. Maka dari itu, dia rela meninggalkan rumah dan suaminya demi nyawanya sendiri.
Di tengah perjalanan tiba-tiba ada sebuah mobil yang mengikuti mobil Yobelia dari belakang. Yobelia yang mengetahui hal itu pun panik. Dia langsung tancap gas dan menambah kecepatan kemudi nya sehingga mencapai di atas rata-rata.
Namun, rupanya mobil yang berada di belakang Yobelia pun tak tinggal diam. Mobil yang berwarna hitam itu pun terus mengejar mobil Yobelia. Setelah posisinya begitu dekat, mobil itu menyalip mobil itu dan menghadang mobil wanita jahat itu.
Yobelia semakin panik dan ketakutan. Bagaimana tidak, dalam mobil yang menghadangnya itu keluar beberapa orang yang parasnya tidak seperti parasnya Indonesia, melainkan Italia. Hal ini sudah bisa ditebak jika beberapa pria ini kemungkinan anak buah Luciano.
Dorr!
Salah satu pria dengan perawakan yang tinggi dan berkulit putih menembak ban depan mobil Yobelia. "Saya hitung sampai 3 jika kau tidak keluar, maka jangan salahkan saya jika saya menembak kepalamu!" pria itu mengancam Yobelia.
"1 ... 2 ... 3 ... Dorr!"
__ADS_1
"Aaargghh!"
****