Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Menyakiti Pacarku


__ADS_3

"Hei, tunggu! Kau mau ke mana?"  teriak Ming Hao pada Luciano yang tiba-tiba berlari ke kampung lembah kuning itu.


Ming Hao berlari mengejar pacar Melissa. Setelah dia berhasil mengejar Luciano, dia luh menepuk bahunya. Napasnya agak terengah-engah karena merasa lelah mengejar Luciano.


"Kau mau ke mana? Kenapa kembali ke kampung ini?" tanya Ming Hao lagi.


"Aku yakin jika Mel-ku ada di sini. Entah kenapa aku sangat yakin akan ucapan nenek tua itu. Aku harus mencari nenek itu!" Luciano terus berjalan seraya mencari keberadaan nenek tua itu.


"Bukankah pria tadi mengatakan jika nenek tua itu tidak waras? Bagaimana jika ucapannya itu tidak benar?"


"Aku yakin nenek tua itu masih waras, aku akan membuktikannya sendiri."


"Baiklah, kalau begitu aku pun akan ikut denganmu. Semoga saja feelingmu benar jika Mel dan Yuxian berada di sini. Ayo," ajak Ming Hao.


Mereka terus mencari nenek tua itu. Setelah beberapa menit kemudian, mereka melihat nenek tua itu berada di sebuah gubuk. Nenek itu tengah duduk dengan tersenyum ke arah Luciano dan Ming Hao.

__ADS_1


Entah kenapa, ekspresi nenek tua itu seperti tahu jika Luciano dan Ming Hao sedang mencarinya. Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera menghampiri nenek tua itu. Sesampainya di gubuk itu, Luciano duduk di sebelah nenek.


"Permisi, Nek. Maaf, kami ingin menanyakan sesuatu," ucap Luciano.


"Sudah kuduga jika kalian akan mencariku. Kalian adalah orang yang cerdas, kalian bisa membedakan mana kebenaran dan mana kebohongan. Katakan saja, Nak. Apa yang ingin kau tanyakan dan ketahui?" Nenek tua itu tersenyum ramah.


"Kami ingin tahu, apakah Nenek melihat pacar saya Melissa? Apa semalam di sekitar kampung ini terjadi sesuatu?" tanya Luciano dengan tatapan yang di penuhi tanda tanya.


"Ya, saya melihatnya. Malam itu ...." Nenek Tua itu menceritakan kejadian malam itu.


Malam hari tepat pukul 23.00, seorang nenek sedang berjalan dengan senter di tangannya. Entah apa yang dia lakukan akan tetapi, di tengah perjalanan di mendengar suara beberapa orang sedang bicara. Suara itu terdengar seperti suara pria.


Setelah didengar lebih seksama lagi, dia mendengar suara teriakan seorang wanita serta terdengar pukulan yang cukup keras. Entah ap yang terjadi. Karena penasaran, dia pun memutuskan untuk pergi melihat  ke arah sumber suaram.


Begitu sampai di tempatnya, dia melihat dengan sangat jelas jika ada 5 orang. 2 orang yang tak sadarkan diri dan tiga orangnya lagi adalah komplotan pembunuh bayaran yang selama ini telah buron selama belasan tahun yang lalu. Sebelum ketiga pria itu melihatnya, dia segera bersembunyi di balik batu besar dan terus mengintip ke mana arah mereka membawa dua orang malang itu.

__ADS_1


Dengan jalannya yang lambat, nenek tua itu terus mengikuti ke mana arah para pembunuh bayaran itu pergi. Dan benar saja, jika mereka membawa dua orang itu ke kampung lembah kuning. Tempat tinggalnya sendiri. Yup, para buronan ini telah bersembunyi di kampung ini.


Mirisnya, semua kampung diancam akan dihabisi oleh mereka jika sampai mereka buka suara pada pihak berwajib. Maka dari itu, mereka tidak pernah diadili. Hanya Nenek inilah satu-satunya yang berani pada ketiga pembunuh bayaran ini dengan berpura-pura bertingkah seperti orang tidak waras.


Nenek ini melihat dengan sangat jelas jika kedua orang malang itu dimasukkan ke dalam rumah kecil yang tempatnya tak jauh dari rumahnya. Dia berjanji jika dia akan membebaskan kedua orang itu. Dia tidak akan membiarkan ketiga buronan itu berbuat dosa di kampungnya}.


"Jadi ... mereka menyakiti pacarku?" Luciano menitikkan air matanya.


Nenek itu mengangguk. "Ya, mereka menyakitinya. Saya hanya ingin mengingatkan kalian untuk tetap berhati-hati menghadapi para pembunuh bayaran itu. Dia tidak akan segan-segan membunuh orang yang berani ikut campur. Seperti yang terjadi pada pria yang bersama wanita itu," jelas nenek itu.


"Apa maksudmu, Nek? Apa Yuxian terluka karena ikut campur urusan mereka?" tanya Ming Hao.


"Ya, saya mendengarnya dengan kedua telinga saja jika pria itu menghalangi ataupun ikut campur urusan mereka untuk menghabisi wanita itu maka dia akan mati terlebih dulu."


"Enggak! Ini enggak boleh dibiarkan. Kita harus segera menyelamatkan mereka!" Ming Hao langsung panik dan disertai ketakutan di matanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2