
Di kamar ....
"Dok, bagaimana keadaan adikku, Melissa?" tanya Emma dengan menatap Dr. Nita.
Dr. Nita tersenyum gembira. "Tidak ada yang perlu dicemaskan sebab hal ini biasa terjadi pada ibu hamil," jelas Dr. Nita seraya seraya merapikan alat medisnya.
"Hamil? Adikku, hamil?" Emma membelalakkan matanya.
Dr. Nita mengangguk mantap. "Benar, Melissa hamil. Selamat, Kak Emma akan segera mendapatkan ponakan." Dr. Nita mengulurkan tangannya. Dia memberikan selamat pada kakaknya Luciano.
"Terima kasih, Dok. Aku masih tidak percaya ini." Emma menitikkan air matanya saking merasa bahagianya mendengar kabar gembira ini.
"Sama-sama." Dr. Nita tersenyum. Dia turut bahagia atas kehamilan Melissa.
Sementara itu, Luciano yang baru masuk ke kamarnya pun merasa bingung melihat kakaknya Emma tengah menitikkan air matanya. Dia pun mendekati Emma. "Ada apa, Kak? Kenapa Kak Emma menangis?" tanya Luciano dengan menatap kakaknya.
"Luci!" Emma langsung memeluk adiknya.
"Eh, ada apa ini? Kenapa Kakak peluk Luci?" Luciano semakin bingung dengan reaksi kakaknya ini.
"Selamat Luci, istrimu hamil. Melissa hamil, kau akan menjadi seorang ayah," jelas Emma di pelukan adiknya.
Deg!
Jantung Luciano langsung berdegup kencang. Mendengar itu nantinya langsung berbunga-bunga, dia benar-benar bahagia mendengar itu. Pria Italia ini pun melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Dr. Nita.
"Dok, apa benar yang Kak Emma katakan ini? Apa istriku hamil?" tanya Luciano untuk memastikan kabar gembira ini.
Dr. Nita pun mengangguk membenarkan pertanyaan Luciano. "Benar, Luci. Istrimu sedang hamil, gejala seperti ini memang dialami oleh ibu hamil. Aku ucapkan selamat atas kehamilan istrimu. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah. Aku turut bahagia mendengar kabar gembira ini, Luci. Akhirnya temanku ini akan menjadi seorang ayah." Dr. Nita menunjukkan kebahagiaannya di depan Luciano.
"Grazie mille, grazie mille, Nita." Luciano mengucapkan rasa terima kasihnya seraya memeluk temannya itu.
"Sama-sama, Luci." Nita membalas pelukan temannya itu.
Kemudian Luciano melepaskan pelukannya. "Apa yang harus aku lakukan agar kehamilan istriku baik-baik aja? Setahuku hamil muda itu sangat rentan," tanya Luciano.
"Benar, hamil muda memang rentan. Tapi, kau tidak perlu khawatir sebab kandungan istrimu tidak lemah. Itu artinya kehamilannua akan baik-baik saja. Namun, kau tetap harus turut menjaga dan tidak boleh membiarkan istrimu kecapean. Istrimu tidak boleh sampai setres banyak pikiran dan jangan lupa untuk meminum vitamin setiap hari dan juga susu ibu hamil agar babynya berkembang dengan sangat baik. Setiap satu bulan sekali, periksakan kandungan istrimu," jelas Dr. Nita.
__ADS_1
"Baik, Dr. Nita. Aku akan menjadi istri dan calon buah hatiku dengan sangat baik."
"Bagus. Oh iya, nanti kau beli vitamin ini untuk istrimu. Kalau begitu, aku pergi." Dr. Nita menyodorkan resep vitamin untuk Luciano beli.
Luciano mengambil resep itu. "Terima kasih, Dr. Nita."
****
Setelah kurang lebih satu jam, Melissa kini akhirnya tersadar. Perlahan dia membuka matanya. Begitu dia membuat matanya, dia menyipitkan matanya lagi untuk melihat sekelilingnya. Dan benar, saja saat ini suaminya tidak ada di kamarnya.
Yang Melissa lihat hanyalah Emma, yaitu kakak iparnya. Dia memijat pelipisnya yang masih terasa pusing. "Kak Emma, di mana suamiku?" tanya Melissa sembari mencari keberadaan Luciano.
"Lucu sedang ke apotek untuk membeli obat. Sebentar lagi dia akan sampai. Apa Mel butuh sesuatu?" tawar Emma.
"Enggak, Kak. Kakak kapan datang? Berapa lama Mel tidur?" tanya Melissa seraya bangun dari rebahannya.
"Hei, tetap istirahat. Jangan banyak gerak, kamu butuh banyak istirahat. Kamu tidak boleh terlalu cape."
"Mel baik-baik aja kok, Kak. Entah kenapa Mel tiba-tiba pusing. Mel tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi pada Mel."
"Luci bilang tadi kamu pingsan di kamar mandi. Makanya Kakak ke mari karena takut kamu kenapa-kenapa."
"Jangan cemas, hal ini biasa dialami oleh ibu hamil." Emma tersenyum penuh arti pada Melissa.
Seketika bola mata Melissa langsung membulat dengan sempurna. "Hh-hamil? Mel hamil?" tanya Melissa seakan dia tidak percaya dengan ucapan kakak iparnya ini.
Emma mengangguk. "Benar, Adikku. Saat ini kamu sedang mengandung anak dari suamimu. Sebentar lagi, Luciano junior akan hadir. Kalian akan menjadi orang tua, selamat ya." Emma memeluk adik iparnya.
Tak bisa dipungkiri, air mata kebahagiaan Melissa pun menetes. "Mel masih tidak percaya ini, Kak. Mel sangat bersyukur karena apa yang Mas Luci inginkan sekarang terwujud. Sebentar lagi Mas Luci akan menjadi seorang ayah," ucap Melissa sembari membalas pelukan kakak iparnya.
"Selamat ya, Mel. Jaga baik-baik kandungannya." Emma mengelus lembut kepala adik iparnya.
Emma memang sudah menganggap Melissa sebagai adiknya sendiri. Dia dia sangat menyayangi Melissa melebihi rasa sayangnya pada Luciano, adiknya sendiri. Begitupun dengan Melissa, dia juga sudah menganggap Emma sebagai kakak kandungnya sendiri.
Setelah beberapa menit kemudian, Luciano datang dengan menenteng kantong plastik yang berisi vitamin serta susu ibu hamil sesuai resep dokter. "Sayang, kamu sudah sadar." Luciano berjalan ke arah istrinya.
Luciano menaruh kantong plastiknya di atas meja nakas. Kemudian dia duduk di tepi ranjang sebelah istrinya. "Kalian bicaralah, aku akan membuatkan susu untuk Mel." Emma mengambil susu ibu hamil dan membawanya ke dapur.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak!" ucap Luciano dengan sedikit berteriak karena kakaknya sudah pergi.
"Mas," panggil Melissa.
"Iya, Sayang. Kamu mau apa?" Luciano mengelus lembut wajah istrinya.
"Saat ini aku tidak mau apa-apa, Mas. Tubuhku rasanya lemas," Melissa memeluk lengan suaminya.
"Sabar ya, Sayang. Ini memang gejala hamil muda, kamu harus istirahat total jangan terlalu kecapean. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bilang aja ya."
"Iya, Mas." Melissa mengangguk.
Tak lama kemudian, Emma datang dengan membawa segelas susu hangat. Kemudian dia memberikan susu itu kepada Luciano. "Luci, suruh Mel meminum susunya dulu," ucap Emma.
"Sayang, kamu minum dulu ya susunya. Setelah itu minum vitamin dan istirahat lagi." Luciano membantu istrinya duduk.
Setelah itu barulah dia memberikan susu pada istrinya. Melissa hanya menuruti perkataan suaminya. Dia meminum susunya.
"Habisin susunya ya, Sayang. Biar anak kita sehat," tutur lembut Luciano.
Melissa mengangguk dan menghabiskan susunya. "Kalau begitu, Kakak pulang dulu ya. Luci, jaga istrimu dengan baik! Mel, jika Luci tidak merawatmu dengan baik, hubungi Kakak, ya." Emma memicingkan matanya pada Luciano.
"Iya, Kak Emma hati-hati film jalannya ya. Jangan cemaskan Mel, Mas Luci akan merawat Mel dengan sangat baik. Mas, anterin Kak Emma sampai depan, gih!" perintah Melissa.
"Kamu sendirian di kamar enggak apa-apa?" tanya Luciano.
"Enggak apa-apa, lagian Mas hanya nganterin Kak Emma sampai depan rumah 'kan."
"Ya udah, kalau begitu aku anterin Kak Emma dulu ya. Ingat, kamu jangan pergi kemanapun! Kalau butuh apa-apa, kamu bisa panggil aku. Mengerti!"
"Iya, Sayang." Melissa mengangguk sembari tersenyum.
Setelah itu, Luciano dan Emma pun keluar dari kamar. Mereka berjalan bersama menuju pintu utama. Sementara itu, Melissa merasa bosan. Sehingga dia pun memutuskan pergi ke balkon untuk menghirup udara segar.
Sesampainya di balkon, dia memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang begitu sejuk. Namun, begitu dia membuka matanya, alangkah terkejutnya dia begitu melihat ke arah depan terlihat seorang pria misterius sedang menodongkan senjata berupa pistol ke arah Melissa. Hal itu membuat Melissa panik dan berteriak sekeras mungkin.
"Aaargghh!"
__ADS_1
****