
Malam hari ....
Ketika semua orang sedang asyik menonton TV, hanya Luciano dan Melissa yang masih berada di kamarnya. Bukannya Melissa tidak ingin berkumpul bersama yang lainnya akan tetapi untuk berjalan menuju ruang tengah membutuhkan tenaga untuk berjalan. Dan saat ini kondisi istri Luciano ini benar-benar lemas. Dia hanya bisa berjalan sejauh beberapa meter dari ranjangnya. Dia hanya berjalan sampai ke kamar mandi.
"Mas, kamu udah makan belum?" tanya Melissa dengan kepala bersandar di dada bidang suaminya.
"Aku tidak membiasakan diri untuk makan diatas jam 8, Sayang. Tapi, tadi aku sudah makan jam 6 sore. Mel mau makan?" tawar Luciano pada istrinya.
"Engga, Mas. Aku cuma pengen buah cengkir aja. Aku pengen ngemil buah mangga muda, tapi aku takut jika Mas keluar rumah, aku takut orang itu nyakitin Mas," jawab Melissa.
"Jadi, Mel mau mangga muda? Kalau Mel mau aku akan beli sekarang. Orang itu tidak akan berani nyakitin aku." Luciano mendekatkan bibirnya ke telinga Melissa. "Sebab aku ini seorang mafia, aku juga memiliki senjata. Lagi pula, aku akan keluar dengan satu bodyguard-nya Daddy," bisik Luciano.
"Mas yakin? Tapi, Mel takut. Besok siang aja deh, Mas. Jangan sekarang," ucap Melissa dengan menurunkan egonya.
Melissa memang sangat menginginkan mangga muda akan tetapi keselematan suaminya lebih penting dari ngidamnya itu. Namun, sepertinya Luciano tidak merasa keberatan dengan permintaan istrinya. "Udah, Mel jangan takut. aku akan baik-baik saja, aku tidak mungkin menolak istri yang lagi ngidam ini. Tapi, setelah aku pergi, Mel turun ke bawah ya. Mel kumpul sama yang lainnya. Aku khawatir jika kamu sendirian di kamar." Luciano mengelus wajah istrinya.
"Iya, Mas. Sebentar lagi aku akan turun. Mas hati-hati ya, jangan lupa mampir ke rumah Ayah Ibu dan beri tahu kabar gembira ini." Melissa menatap lekat suaminya yang hendak pergi.
"Pasti itu, Sayang. Aku pamit ya, jaga dirimu dan calon bayi kita. Muach!" Luciano mencium kening dan bibir istrinya sebelum pergi.
"Iya, Mas." Melissa tersenyum melihat kepergian suaminya.
Luciano keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Sebelum pergi, dia pergi berpamitan terlebih dahulu kepada keluarganya. Sesampainya di ruang tengah, Luciano berjalan menuju ayahnya.
"Mom-Dad, Luci pergi keluar bentar ya."
"Mau ke mana?" tanya Alano tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Luci mau beli mangga muda buat Mel, Dad. Sepertinya Mel ngidam," jawab Luciano.
"Bukan sepertinya lagi, memang ngidam itu, Nak. Gimana sih kamu ini," kekeh Eloisa.
"Mau Daddy temani?" tawar Alano.
"Tidak perlu, Dad. Luci akan pergi dengan bodyguard Daddy saja," jawab Luciano.
"Oh begitu, ya sudah kamu hati-hati. Kabarin Daddy jika ada apa-apa," ujar Alano.
"Baik, Dad. Luci pergi dulu ya." Luciano beranjak menuju pintu utama.
Sementara itu, Melissa hanya melihat suaminya dari jendela. Setelah melihat mobil suaminya pergi meninggalkan rumahnya, dia pun pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Melissa perlahan melucuti pakaian satu persatu.
Kemudian dia masuk ke bathup untuk berendam. Sejenak Melissa memejamkan matanya sembari menikmati poam yang menutupi tubuh polosnya. Ketika dia sedang asyik berendam tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara pecahan kaca di dalam kamarnya.
"Aawwhh!" Melissa meringis kesakitan.
Darah segar mulai mengalir dari telapak kakinya yang terluka. Dia pun berjalan dengan mengangkat kaki yang terluka menuju ranjangnya. Setelah sampai di ranjangnya, dia pun duduk dan menunggu suaminya.
*****
Di perjalanan ....
Saat ini Luciano dan bodyguardnya masih mencari mangga muda yang tak kunjung dapat. Setelah beberapa mil kemudian, Luciano melihat ada seorang kakek tua yang membawa gerobak yang isinya tidak lain dan tidak bukan adalah mangga muda cengkir. Mangga yang istrinya inginkan.
Tanpa membuang waktu lagi, Luciano menyuruh bodyguardnya untuk menepikan mobilnya. Setelah itu mereka keluar dari mobil dan berjalan ke arah kakek tua itu. Tanpa mereka sadari ada sebuah mobil yang berhenti tepat di belakang mobilnya Luciano.
__ADS_1
Kemudian pemilik mobil tersebut keluar dan membawa alat berwarna hitam film tangannya. Dengan gerakan yang cepat, dia menempelkan alat itu di mobilnya Luciano tanpa Luciano dan bodyguardnya ketahuilah. Setelah itu barulah, dia pergi meninggalkan mobil Luciano.
Sementara itu, Luciano dan bodyguardnya kembali memasuki mobilnya dengan menenteng kantong plastik yang berisi mangga buah. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan pulangnya. Bodyguardnya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
****
Tak lama kemudian, setelah beberapa menit kemudian, Luciano dan bodyguardnya pun sampai di perumahan elit, yaitu tempat tinggal Luciano. Pria Italia ini pun keluar dari mobil dan berlari memasuki rumahnya. "Mom-Dad, Luci pulang," ucap Luciano sembari berlati menaiki anak tangganya sembari menenteng kantong plastik.
Kini Luciano sudah sampai di depan pintu kamarnya, dia langsung membuka pintunya. Begitu dia sampai di kamarnya, alangkah terkejutnya dia begitu melihat istrinya sedang meringis kesakitan seraya memegang kakinya. Dengan cepat, Luciano berjalan cepat menghampiri istrinya.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Luciano seraya duduk di sebelahnya.
"Mas, tadi waktu aku sedang mandi, aku mendengar ada suara kaca pecah. Begitu aku keluar, aku melihat kaca gordyn ini pecah. Entah ayang yang melempar kaca ini dengan batu atau bukan, Mel enggak tahu. Mel juga tidak sengaja menginjak pecahan kaca ini," jelas Melissa dengan sedikit meringis.
"Sayang, bukankah tadi aku bilang untuk turun dan berkumpul bersama yang lain? Kenapa diam di kamar?" Luciano meletakkan mangga muda di meja nakas.
"Tadinya Mel mau turun, Mas. Tetapi Mel mau bersih-bersih dulu, Mel tidak tahu jika aku akan terluka seperti ini. Ini bukan luka serius kok, Sayang. Ini hanya luka kecil saja." Melissa memegang tangan suaminya dan tersenyum.
"Lukamu harus segera diobatin jika tidak nanti bisa terinfeksi. Kamu tunggu sebentar, akan aku obati lukamu." Luciano beranjak dari duduknya dan pergi untuk mengambil air hangat beserta P3K.
Sementara itu, Melissa menunggu dengan duduk di ranjang sembari memeganh kakinya yang terluka. Tak lama kemudian Luciano datang dengan membawa peralatan medisnya dan air hangat untuk membersihkan lukanya terlebih dahulu.
Sebelum mengobati luka istrinya, Luciano menarik sebuah kursi dan juga mengangkat kaki Melissa. Secara perlahan, dia mulai mencabut pecahan kaca yang tertancap di telapak kaki istrinya. Begitu pecahan kacanya dicabut, darah keluar cukup banyak karena kaki Melissa sobek oleh kaca itu.
Kemudian Luciano membersihkan luka kaki istrinya dengan air hangat. Setelah itu barulah dia mengobati lukanya. "Sayang, kamu tahan sedikit ya. Ini akan sedikit perih," ucap Luciano.
Melissa hanya menjawabnya dengan anggukan kepala sembari tersenyum kecil. Bohong, jika Melissa tidak merasakan sakit. Sebab yang namanya menginjak benda tajam ataupun pecahan kaca akan merasakan sakit jika bagian tubuh kita mengeluarkan darah. Hanya saja, Melissa mencoba menutupi rasa sakitnya itu.
__ADS_1
****