Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Bab > 88


__ADS_3

Melissa yang merasa namanya dipanggil pun menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya ketika dia melihat seorang pria yang tengah berdiri tepat di belakangnya. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Danny, mantan suaminya.


Mengetahui hal itu, Melissa pun tak menanggapi ataupun menjawab panggilan dari mantan suaminya. Dia berbalik badan dan hendak pergi ke ruang ganti. Namun, lagi-lagi Danny mencegahnya dengan memegang tangan mantan istrinya.


"Danny! Lepaskan tanganku!" Melissa sedikit memekik disertai tatapan yang begitu tajam. Terlihat sebuah kebencian yang begitu besar di mata Melissa terhadap Danny.


"Tenanglah, Mel. Aku tidak akan macam-macam padamu, aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu saja," jelas Danny tanpa melepaskan tangan Melissa.


"Mengobrol? Tidak ada yang perlu kita obrolkan lagi, jangan sok akrab lagi! Anggap kita tidak saling mengenal, paham!" Melissa menghempaskan tangannya dari genggaman Danny.


"Apa kau akan menikah dengan dokter itu?" tanya Danny.


"Bukan urusanmu! Jangan ganggu aku, pergilah!"


"Kau tampak sangat cantik, Melissa Jordan. Seandainya dulu kau secantik ini, mungkin sampai saat ini kita masih menjadi pasangan suami ist--"


Plakk!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Danny. Tamparan yang Melissa layangkan adalah sebuah tamparan kenyataan jika pria itu tidak berhak mengatakan mas lalu kelamnya. Melissa mendekatkan wajahnya pada mantan suaminya itu.


"Kuperingatkan kau untuk tidak membahas masa lalu yang paling aku benci! Move on lah, hiduplah bersama ****** itu! Jangan pernah muncul di kehidupanku lagi, MENGERTI!" bentak Melissa tepat di wajah Danny.


Setelah itu, Melissa berjalan menuju ruang ganti dengan cepat. Dengan wajahnya yang kesal, dia melepaskan gaun itu dan menggantinya dengan pakaian yang semula dia pakai. Wanita ini tentu saja dibantu oleh kedua pelayan butik yang tadi.


****

__ADS_1


3 bulan kemudian ....


Persiapan demi persiapan sudah selesai. Hari demi hari sudah dilewati. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kini sudah masuk bulan ke tiga yang di mana pesta pernikahan Melissa dan Luciano akan terlaksana.


Pesta pernikahan Melissa dan Luciano digelar di sebuah hotel bintang lima.  Luciano menyewa kamar-kamar hotel untuk para tamu yang datang dari jauh. Pesta pernikahan Melissa dah Luciano sangat mewah dan elegant.


Saat ini Melissa masih berada di ruang rias. Sementara itu, Luciano sudah menunggu Melissa di pelaminan. Para tamu sudah tidak sabar ingin segera melihat pengantin wanita.


Tak lama kemudian, Melissa datang dengan didampingi sang ayah yang bernama Dominic. Dia terlihat sangat cantik dan mempesona. Gaun yang glamor dan elegant membuat Melissa tampak terlihat bak ratu. Perlahan langkahnya menuju altar untuk menghampiri suaminya. Akan tetapi, sebelum Melissa berjalan lebih jauh lagi, Luciano pintu berjalan menghampiri Melissa.


Melihat itu, Melissa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ayahnya. Lututnya terasa lemas, keningnya sedikit berkeringat, matanya tampak seperti menunjukkan keraguan. Bagaimana tidak, dia masih cukup trauma untuk menikah. Dia takut jika pernikahan ini akan kandas lagi nantinya seperti pernikahan pertama yang gagal.


Melihat kegelisahan istrinya, Luciano mempercepat langkahnya. Begitu dia sudah berada di hadapan Melissa dan Ayah mertuanya, Luciano terdiam sejenak menunggu Dominic menyerahkan putrinya padanya. Dominic menatap menantunya dengan tatapan yang serius.


"Nak Luci, mulai hari dan seterusnya Ayah akan menyerahkan putriku padamu. Sayangi dia, bimbing dia, support selalu istrimu ini. Ayah yakin kau akan menjadi imam yang baik untuk putriku maka dari itu, Ayah menyerahkan kehidupan Melissa padamu. Ingat, jangan pernah lukakan perasaannya karena jika itu terjadi maka Ayah sendiri yang akan mengambil putriku," tutur Dominic.


"Ayah percaya itu, sekarang Ayah serahkan Mel padamu. Nak, sekarang tugas Ayah sampai di sini. Patuhlah pada suamimu, sayangi suamimu beserta keluarganya. Jangan pernah lupakan prinsipmu yang telah kau bentuk selama ini. Semoga pernikahan kalian langgeng dan segera diberikan momongan dalam waktu dekat, Aamiin. Berbahagialah, Nak." Dominic mengecup kening putrinya serta mengelus kepalanya.


Kemudian Luciano menggenggam tangan Melissa dan berjalan di altar. Saat ini semua para tamu bertepuk tangan sembari memotret pasangan pengantin ini. Jujur, dalam hati Melissa, dia masih merasakan ketakutan akan kegagalannya. Dia selalu menoleh ke arah Luciano.


Luciano yang menyadari hal itu pun menoleh ke arah istrinya dan mengelus wajahnya. Begitu sampai di pelaminan, Luciano memakaikan sebuah cincin diamond di jari manis istrinya. Kemudian dia mencium tangan Melissa dengan lembut.


*****


Setelah beberapa jam kemudian, pesta pernikahan pun selesai. Kini Luciano dan Melissa hendak pulang ke hotel yang telah mereka pesan untuk bermalam. Hotel yang mereka pesan untuk bermalam berbeda dengan hotel tempat pernikahannya terjadi.

__ADS_1


Di kamar ....


Setelah sampai di kamar, Melissa duduk di tepi ranjang. Sementara itu, Luciano menutup serta mengunci pintunya terlebih dahulu. Kemudian dia menghampiri Melissa dan duduk di sebelah istrinya.


Kedua pasang mata mereka saling bertemu. Mereka saling menatap satu sama lain. "Melissa," panggil Luciano dengan lembut.


"Iya, Mas." Melissa tersenyum manis pada suaminya. 


"Terima kasih sudah bersedia menikah denganku," ujar Luciano dengan memegang kedua tangan Melissa.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu, Mas. Terima kasih karena Mas mau menikah denganku meski Mas tahu jika aku ini seorang janda. Tapi, Mas tetap menikahiku, terima kasih banyak, Dr. Tampan." Melissa menatap suaminya dengan tatapan yang teduh.


"Sstt!" Luciano menempelkan jari telunjuknya di bibir Melissa.


"Jangan katakan itu lagi, bagiku kau bukan janda. Bagiku kau adalah wanita yang sangat sempurna. Itulah kenapa aku menikahimu. Malam ini adalah malam pertama kita, jangan membahas yang membuat hati kita menjadi melow. Ayo kita rayakan pernikahan kita dengan wine merah." Luciano menarik lembut tangan istrinya dan membawanya duduk di sofa.


Melissa pun penuruti perkataan suaminya. Dia duduk di sebelah suaminya. Sebelumnya Luciano sudah memesan dua botol wine untuk perayaan hari pernikahannya.


Luciano membuka botol wine itu dan menuangkannya ke gelas. Setelah itu mereka bersulang bersama istrinya. Keduanya meneguk wine sedikit demi sedikit sampai habis. Melissa menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Mas, apakah Yuxian membenciku sekarang?" Melissa mengangkat wajahnya untuk menatap suaminya. Dia memandang Luciano dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kurasa itu tidak mungkin, Sayang. Sebab persahabatan kalian itu sudah terjalin cukup lama. Apa kau mengatakan ini karena sahabatmu tidak menghadiri pernikahan kita?" tebak Luciano dengan membalas tatapan istrinya.


Melissa mengangguk tanda meng-iyakan. "Iya, Mas. Jika dia tidak membenciku, kenapa dia tidak hadir di pernikahan kita? Aku sedih karena dia tidak datang, Mas. Biar bagaimanapun juga Yuxian sudah aku anggap sebagai abangku sendiri. Rasanya tidak kumplit jika Yuxian tidak hadir," timpal Melissa.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2