
Saat ini, Melissa sudah mulai sadar. Emma yang mengetahui itu pun langsung memegang tangan adik iparnya. Dia menatap Melissa yang secara perlahan mulai membuka kedua matanya.
Begitu Melissa sudah membuka matanya, Emma tersenyum pada adik iparnya. "Mel, kamu sudah sadar," ucap Emma.
"Kak, aku ada di mana ini?" Melissa menyipitkan kedua matanya melihat seisi ruangan itu.
"Kamu ada di rumah sakit, Mel. Tadi kamu pingsan," jawab Emma.
"Kandungan Mel baik-baik aja 'kan, Kak?" tanya Melissa seraya menatap ke arah perutnya.
"Kandunganmu baik-baik saja," jawab Emma dengan senyumannya.
"Kak, Mas Luci mana? Bagaimana keadaannya?" tanya Melissa seraya beranjak dari ranjangnya.
"Luci masih di ruang IGD, Mel. Kamu mau ke mana? Tubuhmu masih lemas, kamu baru saja sadar. Tenanglah dulu. Luci akan baik-baik saja." Emma melarang Melissa untuk turun dari ranjang.
"Enggak, Kak. Mel harus melihat kondisi suami Mel, Mel enggak mau Mas Luci kenapa-kenapa. Tolong jangan cegah Mel," ucap Melissa dengan sedikit memohon.
"Baiklah, kalau kamu tetap bersikeras ingin melihat suamimu, ayo Kakak antar." Emma membantu Melissa berjalan dengan memegangi lengan adik iparnya.
Mereka berjalan menelusuri setiap ruangan yang ada di rumah sakit itu. Sehingga tak terasa, mereka sudah sampai di ruang IGD. Ketika mereka sampai di ruang IGD, mereka melihat dengan jelas orang tua Luciano sedang menangis sembari memeluk tubuh putranya.
__ADS_1
Saat ini, tubuh Luciano sudah tidak dipakaikan alat lagi. Wajah Luciano sudah benar-benar pucat pasi dan alat pemacu jantungnya pun tidak memperlihatkan jika jantungnya masih berdetak. Sudah bisa ditebak jika Luciano sudah meninggal dunia.
Melissa terasa lututnya lemas, air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Dengan langkahnya yang berat, dia berusaha menguatkan diri sembari memegang perutnya berjalan menghampiri suaminya. Mengetahui jika menantunya sudah berada di ruangan IGD, Alano dan Eloisa pun terkejut.
"Sayang, kok kamu ada di ruang IGD?" tanya Eloisa.
"Mas Luci kenapa, Mom? Kenapa tubuhnya sangat dingin?" alih-alih menjawab pertanyaan ibu mertuanya, Melissa justru malah balik bertanya.
Eloisa tidak sanggup untuk memberi tahu kebenaran pahit ini pada menantunya. Bagaimana bisa dia memberi tahu kabar duka jika putranya sudah meninggal beberapa jam yang lalu. Melihat ekspresi ibu mertuanya yang menangis dan bungkam itu sudah menjadi jawaban jika Luciano sudah meninggal dunia.
Melissa langsung memeluk suaminya. "Enggak! Mas! Bangun, Mas!" Melissa menangis histeris.
Alano dan Emma turut menangis melihat Melissa yang merasa terpukul dengan kabar duka ini. Alano mengelus lembut kepala menantunya seakan menguatkannya untuk tetap tabah dan ikhlas. Walaupun dia sendiri masih belum menerima jika putranya pergi secepat ini dan dengan cara yang mengenaskan seperti ini.
"Emma, telepon orang tua Mel sekarang dan beri tahu kabar duka ini, cepat!" perintah Alano.
"Enggak, Dad! Mas Luci belum meninggal! Dia sudah janji sama Mel kalau Mas Luci akan kembali sama Mel. Dia harus kembali hidup dan merawat bayi ini sama-sama. Dia tidak boleh pergi begitu saja. Aku tidak akan membiarkannya pergi." Jiwa Melissa benar-benar terguncang dia tidak bisa menerima kenyataan ini.
"Mel, sabarlah, Nak. Luci sudah meninggal beberapa jam yang lalu! Sadarlah! Bukan hanya Mel saja yang merasa kehilangan, kami juga!" bentak Alano dengan membuat Melissa untuk sadar.
Setelah mendengar bentakan dari ayah mertuanya, Melissa kembali shock dan jatuh tak sadarkan diri. Melihat hal itu, Alano dan Eloisa panik. Kemudian memanggilnya dokter untuk memeriksa kembali keadaan Melissa.
__ADS_1
Satu-satunya cara agar kondisi Mel membaik adalah dijauhkan dari jasad suaminya. Maka dari itu, Alano memutuskan untuk melakukan pemakaman di negaranya, Italia tanpa sepengetahuan Melissa. Dia akan memberi tahu menantunya jika keadaannya sudah membaik.
Alano bukannya tega, dengan memisahkan istri dari suaminya dan tidak memberinya waktu melihat jasad suaminya sebelum diterbangkan ke Italia untuk yang terakhir kalinya. Semua itu demi kebaikan menantu dan juga cucunya. Hanya itu satu-satunya cara agar Melissa tidak shock berat yang akan mengganggu kesehatan janinnya.
Setelah Melissa di bawa ke ruangan rawatnya, dia meminta istrinya dan juga Emma untuk tetap bersama Melissa. Mereka harus selalu menemani menantu dan cucunya. Sementara itu, Alano memutuskan untuk terbang ke Italia bersama jasad putranya dan juga para bodyguardnya dengan jet pribadinya.
****
Setelah jasad Luciano dipulangkan ke negaranya, Melissa kembali menangis histeris menanyakan keberadaan suaminya. "Di mana suamiku? Di mana suamiku? Jangan pisahkan kami, aku mohon!" teriak Melissa.
Saat ini tangan dan kaki Melissa diikat ke sudut ranjangnya. Hal itu, untuk menjaga keselamatannya bila mana Melissa kembali mengamuk, dia tidak akan melukai janinnya. Saat ini kedua orang tua Melissa pun sudah berada di ruangan, tempat Melissa dirawat.
Orang tua Melissa menangis, dia tidak tega melihat kondisi putrinya yang begitu terpukul dengan kematian suaminya. Mereka tidak menduga jika putrinya akan kembali hidup sebagai seorang janda. Bedanya, kali ini Melissa menjadi janda beranak 1.
"Kenapa takdir begitu kejam padamu, Nak? Disaat kalian sedang menanti kelahiran sang buah hati, kalian harus berpisah karena maut. Ibu tidak tahan melihatmu seperti ini, Mel. Ibu tidak tahan." Cassie berlari keluar ruangan.
Eloisa pun langsung mengejar ibunya Melissa untuk menenangkannya. Dia melihat Cassie sedang duduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Ibu Melissa ini menangis merasakan kepedihan yang teramat dalam dirasakan putrinya.
Perlahan Eloisa duduk dan mengelus pundak Cassie. "Saya paham dengan rasa sakit yang Ibu alami ini. Tapi, Ibu harus sabar dan ikhlas. Kita semua tidak ingin semua ini terjadi akan tetapi takdir berkata lain. Saya tidak menyangka jika putraku satu-satunya akan tewas mengenaskan dengan cara seperti ini. Aku paham sekali dengan perasaan Ibu pada Mel, sebab aku pun bisa merasakan rasa sakit yang Mel rasakan sebab Mel sudah aku anggap sebagai putriku sendiri. Bu Cassie yang tabah ya." Eloisa memeluk besannya.
"Terima kasih, Bu Eloisa. Aku turut berduka cita atas meninggalnya Luciano. Selama ini Luciano adalah menantu yang baik, bukan hanya menantu Luciano adalah putraku sendiri. Aku sudah menganggap Luci sebagai putraku sendiri. Aku tidak menyangka jika usianya akan pendek seperti ini. Ibu Eloisa yang sabar ya, semoga Luciano berada di tempat terindah di sisiNya. Aamiin." Cassie membalas pelukan hangat besannya.
__ADS_1
****