Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Apa Yang Terjadi Semalam?


__ADS_3

Pagi Hari ....


Melissa bangun dan tiba-tiba kepalanya terasa berat sekali. Mungkin efek dari kebanyakan minum minuman beralkohol semalam. Pada saat dia hendak bangun, Luciano datang dengan membawa semangkuk sup untuk menghilangkan pengar akibat minuman beralkohol semalam.


"Sayang, jangan bangun dulu. Ini kau makan dulu supnya, ini untuk menghilangkan pengar." Luciano berjalan menuju ranjang. Kemudian dia duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Melissa.


"Mas, kamu buatin aku sup ini?" tanya Melissa seraya memijat pelipisnya.


Luciano menganggukkan kepalanya. "Iya, Sayang. Aku memasak sup ini untukmu. Sekarang kau makan sup ini, aku suapin ya?" tawar Luciano seraya memegang sendoknya.


"Tapi, aku belum cuci muka dan mandi, Mas. Aku makan ini setelah mandi saja ya," timpal Melissa.


"Tidak apa-apa, makan dulu supnya. Setelah itu kau boleh mandi. Nanti supnya dingin dan enggak enak saat dimakannya, Mel nurut ya sama aku." Luciano menatap teduh calon istrinya.


"Ya udah, iya, Mas. Aku makan deh supnya," ucap Melissa disertai senyumannya.


"Nah, gitu dong. Sekarang buka mulutmu, Aaa." Luciano menyuruh Melissa untuk membuka mulutnya.


Melissa pun membuka mulutnya, lalu Luciano mulai menyuapi Melissa dengan lembut. Senyuman pun mulai terlukis di bibir Melissa. Namun, dalam jarak beberapa detik, tiba-tiba dia meneteskan air mata.


Melihat hal itu, tentu saja Luciano kebingungan. Dia menaruh mangkuk yang berisi sup itu di meja nakas sebelah ranjang. Kemudian pria Italia ini menggenggam lembut tangan calon istrinya disertai tatapan yang begitu hangat.


"Sayang, ada apa? Kenapa menangis? Apa suapanku terlalu kasar? Apa mulutmu sakit? Jika benar, buka mulutmu, akan aku obati." Luciano bertanya sembari menatap Melissa dengan jarak yang dekat.


Mendengar pertanyaan dari calon suaminya ini, alih-alih berhenti menangis justru Melissa malah semakin menjadi tangisannya. Bukannya menjawab, calon istri Luciano ini langsung memeluk Luciano dengan erat. Lagi-lagi pria Italia ini bingung. Dia bingung, karena dia tidak tahu apa penyebab Melissa menangis.


"Jangan membuatku cemas, Sayang. Katakan, kau kenapa tiba-tiba menangis seperti ini?" tanya Luciano dengan tangan kanan yang mengelus lembut punggung Melissa.


"Aku hanya terharu, Mas. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa merasakan kasih sayang dan perhatian yang tulis dari seorang pria. Sudah lama aku menantikan hal kecil seperti ini. Terima kasih, Mas. Terima kasih selalu membuatku bahagia, aku mencintaimu, Luciano Shaun Immanuel! Aku menyayangimu," ucap Melissa dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Memang benar, jika selama ini Melissa selalu menantikan kasih sayang dan perhatian tulus dari pria yang dia sayangi. Bukan dia tidak mendapatkan dari ayahnya. Hanya saja dia juga menginginkan perhatian dan kasih sayang yang tulus dari pria kedua setelah ayahnya. Itulah kenapa saat Luciano menyuapi dan menunjukkan perhatiannya, wanita ini menangis.


"Aku juga mencintaimu, Melissa Jordan. Aku sangat menyayangimu lebih dari diriku sendiri. Tetaplah bersamaku dan tetap berada di sampingku. Aku akan selalu memperlakukanmu seperti ratu." Luciano melepaskan pelukannya. Kemudian dia menangkup kedua pipi Melissa diakhiri dengan senyuman yang tulus.

__ADS_1


Melissa mengangguk cepat. "Iya, Mas. Aku akan selalu disampingku. Aku akan selalu merepotkanmu, Dr. Tampan." Melissa tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Mulai genit ya." Luciano mencolek hidung Melissa.


"Biarin, 'kan Mas calon suamiku," timpal Melissa.


"Ya udah, sekarang habiskan sup ini. Setelah itu kau bersiap-siap, kita akan pergi ke butik langganan Mommy," ujar Luciano seraya menyuapi Melissa lagi. Dibalas anggukan oleh Melissa.


Tak lama kemudian setelah supnya habis, Melissa langsung pergi mandi dan bersiap-siap. Sementara itu, Luciano sudah keluar dari kamar Melissa setelah calon istrinya selesai makan sup buatannya. Sambil menunggu Melissa selesai bersiap-siap, dia pun pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap juga.


Tak lama kemudian, Melissa keluar dari kamarnya. Dia pergi ke kamar Luciano terlebih dahulu. Begitu sampai sampai di depan pintu kamar Luciano, Melissa langsung mengetuk pintu kamarnya.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. "Masuk dulu," ajak Luciano sembari mempersilakan Melissa masuk.


"Mas belum selesai siap-siapnya?" hanya Melissa.


"Belum, Sayang. Sebentar lagi ya, duduklah dulu." Luciano menyuruh Melissa untuk duduk terlebih dahulu.


Setelah beberapa menit, Luciano pun selesai. Dia mengajak Melissa untuk keluar dan berjalan menuju ruang tengah. Namun, sesampainya di sana, mereka tidak melihat keberadaan kedua orang tua dan juga kakaknya, Emma.


"Loh, Mas ... kok sepi? Di mana yang lainnya?" tanya Melissa seraya mencari keberadaan keluarganya.


"Mereka sudah pulang duluan," jawab Luciano.


"Kapan, Mas?" tanya Melissa lagi.


"Tadi pagi, waktu kau masih tidur,"


"Loh, kenapa tidak memberi tahuku jika mereka pergi? Kita 'kan bisa pulang bersama,"


"Orang tuamu tahu jika semalam kau mabuk. Jadi, mereka tidak ingin mengganggu istirahatmu. Maka dari itu mereka menitipkanmu padaku," jelas Luciano.


"Benarkah? Semalam aku mabuk?" Melissa mencoba mengingat kejadian semalam.

__ADS_1


"Ya, Sayang."


"Ceritakan padaku tentang kejadian semalam, aku tidak melakukan hal aneh 'kan?" Melissa menatap calon suaminya dengan tatapan yang serius.


"Aku akan menceritakannya di mobil, ayo kita ke butik sekarang," ajak Luciano.


Melissa mengangguk seraya menggandeng tangan Luciano. Begitu sampai di luar villa, mereka pun berjalan menuju mobil. Setelah itu Luciano membukakan pintu mobil untuk calon istrinya.


"Silakan masuk, Nyonya Immanuel." Luciano mengedipkan sebelah matanya sembari mencolek dagu Melissa.


"Mas, kau membuatku tersipu malu." Wajah Melissa merona karena tersipu malu.


Melissa masuk mobil. Kemudian disusul oleh Luciano yang mengitari mobilnya dan langsung masuk. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Luciano segera menancapkan gasnya dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


"Mas, ayo ceritakan apa yang terjadi semalam? Aku tidak berbuat macam-macam 'kan sama Mas?" tanya Melissa dengan wajahnya yang gelisah.


"Semalam, kau--" Luciano tidak meneruskan perkataannya. Dia hanya tersenyum penuh arti.


"Aku kenapa, Mas?" tanya Melissa yang semakin penasaran.


"Lupakan, semalam tidak terjadi sesuatu. Wajar saja kau bicara ngawur malam itu karena pengaruh alkohol."


"Ayolah, Mas. Katakan, apa yang terjadi padaku semalam? Apa aku mengatakan sesuatu yang melukaimu?" Melissa memegang tangan calon suaminya.


Luciano menepikan mobil dan menghentikannya. Dia menoleh ke arah Melissa serta menangkup kedua pipi calon istrinya. "Lihat dan dengarkan aku!" ujar Luciano.


"Ya, katakan." Melissa menatap Luciano dengan tatapan yang begitu dalam.


"Sungguh, kau ingin mengetahui kejadian semalam? Aku sarankan kau tidak perlu mengetahuinya,"


"Kenapa tidak? Aku sangat penasaran. Tolong jangan membuatku dihantui rasa penasaran seperti ini. Please." Melissa memelas pada Luciano agar menceritakan kejadian semalam.


"Okay, aku akan memberi tahumu tentang apa yang terjadi semalam. Kau tahu, semalam kau ...."

__ADS_1


__ADS_2