
"Iya, Mel. Kabari aku jika kau sudah sampai di bandara. Aku akan menjemputmu," ucap Yuxian.
"Tidak perlu, Ge. Kita bertemu di rumah orang tuaku saja. Bye. Tutt!" Melissa mematikan teleponnya.
Telepon terputus!
****
Indonesia ....
Waktu berlalu begitu cepat, malam berubah pagi. Kini Melissa sudah sampai di negaranya. Dia sedang menunggu kekasihnya datang menjemputnya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan Melissa. Pemilik mobil itu keluar dan menghampiri Melissa. "Sayang, maaf telah membuatku menunggu lama," ucap pria tampan yang memakai pakaian medis. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Dr. Luciano.
"Tidak kok, Kak Luci. Oh iya, aku minta maaf karena telah merepotkanmu untuk datang menjemputku padahal kau sedang banyak kerjaan," tutur Melissa.
"Jangan katakan itu lagi, kau ini kan wanitaku. Sudah sepantasnya aku mengantar jemputmu. Berikan kopernya, kau masuklah." Dr. Luciano mengambil koper Melissa dan memasukkannya ke bagasi.
Sementara itu, Melissa masuk mobil. Dia duduk di depan sebelah kursi kemudi. Setelah melihat kekasihnya masuk mobil, Dr. Luciano mengitari mobilnya dan masuk mobil. Kemudian mobil pun melaju menuju kediaman orang tua Melissa.
Tak lama kemudian, setelah beberapa menit mereka pun sampai di kediaman orang tua Melissa. Mereka keluar dari mobil secara bersama-sama. Begitu mereka hendak memasuki rumah, tidak sengaja Melissa melihat ada mobil Yuxian. Mobil yang pernah diberikan kepadanya.
"Kak, ayo kita masuk." Melissa mengajar Dr. Luciano untuk masuk.
"Aku sangat ingin mampir tapi, pekerjaanku sangat banyak. Pasien sedang menungguku, aku harus menanganinya. Tidak apa-apa 'kan jika aku mengantarmu sampai depan rumah?" Dr. Luciano mengelus wajah Melissa.
__ADS_1
Melissa mengangguk. "Iya, Sayang. Tidak apa-apa, aku mengerti. Pacarku ini 'kan seorang dokter. Utamakan pasienmu dari pada aku." Melissa tersenyum.
"Aku akan mengutamakanmu dan juga pasienku. Oh iya, sampaikan salamku pada orang tuamu ya."
"Iya, Dr. Tampan. Kak Luci hati-hati ya di jalannya. Ingat, jangan mengebut."
"Iya, aku pergi ya." Dr. Luciano mengelus kepala Melissa. Dibalas anggukan oleh Melissa.
"Assalamu'alaikum," ucap Melissa seraya memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab orang tua Melissa dari ruang tengah.
Melissa berjalan ke ruang tengah untuk menghampiri orang tuanya. Begitu sampai di ruang tengah, dia cukup terkejut melihat sosok pria tampan yang tengah duduk bersama keluarganya. Pria yang memiliki mata sipit dan hidung mancung itu pun menoleh ke arah Melissa.
Seketika Melissa langsung berhenti. Matanya menatap dalam pria itu yang tidak lain adalah sahabatnya, Yuxian. Yuxian beranjak dari duduknya dan berlari ke arah Melissa. Tanpa banyak basa basi, Yuxian langsung memeluk Melissa di hadapan kedua orang tua Melissa.
Melissa membalas pelukan sahabatnya seraya mengelus punggung Yuxian. "Aku juga, Xian-Ge."
"Kau pulang dengan siapa, Mel?" tanya Yuxian seraya melepaskan pelukannya.
"Aku diantar oleh Dr. Luci, Ge," jawab Melissa.
"Lalu, di mana Dr. Luci sekarang? Kenapa tidak diajak masuk?" tanya Yuxian.
"Iya, Nak. Kenapa tidak di bawa masuk pacarmu? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Cassie.
__ADS_1
Deg!
Jantung Melissa serasa berhenti berdetak. Matanya langsung tertuju pada sahabatnya. Dia merasa tidak enak karena dia belum sempat membicarakan tentang hubungannya dengan Dr. Luciano.
"Pacar? Kalian pacaran?" tanya Yuxian seraya menatap Melissa tajam.
Glek!
Melissa menekan salivanya. Perlahan dia menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Yuxian. "Iya, Xian-Ge. Kami pacaran. Maafkan aku, aku belum memberi tahumu tentang hubunganku dengan Dr. Luci," jelas Melissa.
"Tidak apa-apa, santai aja. BTW selamat ya atas hubungan kalian." Yuxian mengulurkan tangannya sebagai tanda ucapan selamat pada Melissa.
Walaupun Yuxian tersenyum pada sahabatnya, akan tetapi hatinya sakit mendengar kabar ini. Entah dia harus senang atau sedih mendengar kabar ini. Di satu sisi dia ingin melihat Melissa bahagia, tapi di sisi lain dia masih menyayangi dia sebagai wanita. Yuxian sudah berniat untuk membuang perasaan itu jauh-jauh akan tetapi, rasanya sulit
Melissa tersenyum dan berjabat tangan dengan sahabatnya. "Terima kasih, Ge."
"Tante, Om Yuxian minta izin mau bicara sebentar sama Melissa, apa boleh?" tanya Yuxian pada orang tua Yuxian.
"Ya, silakan, Nak Yuxian."
"Mel, ayo. Aku mau bicara denganmu," ajak Yuxian sembari menarik tangan Melissa.
Melissa hanya bisa mengikuti sahabatnya. Yuxian membawa Melissa ke dalam mobilnya. "Masuklah!"
"Kita mau ke mana, Ge?" tanya Melissa.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....