Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

"Oh iya? Tapi, sayangnya itu tidak akan pernah terjadi karena aku ini pasienmu, bagaimana bisa seorang Dokter melakukan itu pada pasiennya sendiri, heum?" skak Melissa.


"Kalau begitu, aku akan menikahimu dulu. Setelah itu melakukan itu, bagaimana?" skak balik Dr. Luciano.


"Bagaimana jika aku menolakmu?" tantang Melissa.


"Jika kau menolakku maka aku akan menyuntikkan sesuatu yang akan membuatmu mengatakan segalanya termasuk tentang perasaanmu. Dengan begitu aku akan tahu apakah kau mau menikah denganku atau tidak. Bagaimana?" skak Dr. Luciano melipat kedua tangan di dada.


"Ahh, aku akui aku kalah. Sudah hentikan gurauan ini, ayo kita bersiap-siap. Sebelum Danny datang ke apartemenku," ucap Melissa.


"Haha, baiklah." Dr. Luciano tertawa.


Kemudian mereka pun mulai bersiap-siap. Setelah beberapa menit, mereka pun pergi meninggalkan apartemennya. Sebelum pegi, Melissa sudah meletakkan surat di atas meja untuk Danny.


Kini mereka sudah berada di basement, mereka masuk mobil yang sama, yaitu mobilnya Dr. Luciano. Setelah itu, Dr. Luciano menancap gas dan melajukan mobilnya menuju Immanuel Home. Berhubung jarak apartement Melissa tidak begitu jauh dengan Immanuel Home, mereka pun sampai dalam beberapa menit.


Sesampainya di basement, mereka keluar secara bersamaan. Mereka berjalan menuju pintu utama. Begitu berada di rumah, mereka berdua dibuat terkejut pada saat mereka sampai di ruang tengah. Kenapa?


Ada seorang wanita cantik yang usianya 3 tahun lebih tua dari Dr. Luciano. Wanita itu tidak lain adalah kakak kandungnya Dr. Luciano yang bernama Emma Harlow Immanuel. Tanpa banyak bicara Dr. Luciano dengan cepat menghampiri kakaknya dan langsung memeluknya.


Sementara itu, Melissa hanya berdiri dengan memegang tas branded-nya. Dia terdiam tanpa kata, dia tengah menebak-nebak siapakah wanita cantik yang Dr. Luciano peluk itu. 'Apakah itu istrinya Dr. Luciano?'


"Quando tornerai a casa? perché non avvisarmi? (Kapan kamu pulang? Kenapa tidak mengabariku?" tanya Dr. Luciano dengan bahasa Italia yang begitu fasih.


Lagi-lagi Melissa dibuat melongo mendengar bahasa yang Dr. Luciano gunakan. 'Bukankah itu bahasa Italia? Jangan-jangan Dr. Luciano orang Italia?' tebak Melissa di dalam hatinya.


"Siapa wanita itu, Adikku?" tanya wanita cantik itu, Emma. Dia melepaskan pelukan adiknya.

__ADS_1


'Oh ya ampun, bikin spot jantung aja. Aku kira dia istrinya ternyata dia kakaknya,' ucap Melissa dalam hatinya.


"Dia ...." Dr. Luciano menoleh ke arah Melissa.


"Apakah dia calon istrimu?" tebak Emma.


Seketika bola mata Melissa membola dengan sempurna. "Bukan, aku temannya Dr. Luci," sahut Melissa. Dia tidak ingin kakaknya Dr. Luci salah paham tentang kedekatan mereka.


"Iya, Kak. Dia temanku namanya Melissa. Mel, sini! Jangan berdiam diri di situ terus, kemarilah."


Melissa pun berjalan mendekati kakak beradik itu. "Silakan duduk, Mel." Dr. Luciano mempersilakan Melissa untuk duduk.


"Terima kasih, Dr. Luci." Melissa duduk di sebelah Dr. Luci dan berhadapan dengan Emma.


"Mel, perkenalkan ... ini kakakku yang paling menyebalkan, Emma Harlow Immanuel," jelas Dr. Luciano dengan sedikit tertawa. Dia memperkenalkan kakaknya pada Melissa.


Melissa terkekeh melihat itu. Kemudian dia mengulurkan tangannya pada Emma. "Halo, Kak Emma. Saya Melissa Jordan," ucap Melissa dengan senyuman di bibirnya.


"Halo, Mel. Saya Emma Harlow Immanuel panggil saja Emma." Emma berjabat tangan dengan Melissa.


****


Kediaman Yobelia ....


Saat ini Danny dan Yobelia tengah beradu mulut. Yobelia sangat marah pada saat Danny hendak pergi menemui Melissa. Tidak, bukan menemuinya saja, tapi Danny akan bermalam di apartemen Melissa.


Istri mana yang rela membiarkan suaminya bermalam dengan mantan istrinya, apalagi di malam pertamanya? Namun, meski Yobelia sangat marah, Danny tetap bertekad untuk pergi. Dia terus mencoba untuk membujuk istrinya itu. Dia meyakinkan dia kalau dia tidak akan melakukan macam-macam dengan mantan istrinya.

__ADS_1


"Percayalah, Sayang. Aku tidak akan melakukan hal itu padanya. Aku hanya bermalam dengannya saja. Aku tidak bisa menolaknya, semua aku lakukan untuk keluargaku. Aku tidak ingin melihat mereka kehilangan tempat tinggal." Danny menggenggam tangan Yobelia dengan lembut.


"Lalu apa yang kau lakukan padaku? Demi keluargamu kau tega menyakiti hatiku di hari pernikahanku? Bahkan ibumu mengataiku janda gatal di depan semua orang! Aku tidak terima, hatiku sakit mendengar itu. Kau dan keluargamu tega membuatku menangis di hari pernikahanku sendiri. Tega kau, Mas!" Yobelia menangis.


"Sayang, aku mengerti jika kau sakit hati dengan ucapan Mama. Mamaku tidak bermaksud untuk melukaimu, dia hanya menyelamatkan rumahnya saja. Kau tahu sendiri 'kan jika Papaku sudah tidak bekerja lagi? Jadi hanya rumah itu harta yang tersisa sekarang. Aku harap kau mengerti keadaan ini ya. Anggap saja ini ujian pernikahan kita." Danny menangkup kedua pipi Yobelia dan menatapnya dengan lekat.


"Demi harta, kalian tega menyakitiku! Kalian sudah berubah, aku pikir dengan menikahimu aku bisa hidup bahagia tapi apa nyatanya? Kalian hanya tergiur dengan harta. Kalian bahkan memperlakukanku sama seperti Melissa. Aku tidak ingin melihatmu, Mas. Pergilah dan bersenang-senanglah dengan janda gatal itu!" tegas Yobelia dengan kesal.


Danny yang mendengar itu seketika emosinya langsung naik. Dia mencengkram kedua tangan istrinya dan menatapnya dengan mata yang semerah darah. "Aku sudah katakan padamu jika aku tidak akan melakukan hal itu dengan Melissa. Kenapa kau menghina Melissa seperti itu? Jangan menghinanya seperti itu, dia bukan wanita seperti itu. Kau ini sedang marah, tenangkan dirimu! Aku akan pergi, kau beristirahatlah dan jangan menungguku pulang." Danny pergi meninggalkan Yobelia di kediaman istrinya itu.


Yobelia hanya menatap kepergian Danny dengan mata yang terus mengeluarkan air matanya. Setelah tubuh suaminya ditelan pintu, tubuh dia pun merosot ke lantai. Tangisan kembali pecah dengan kedua tangan yang memeluk kedua lututnya.


****


Shaquille Residence ....


Seorang pria tengah berdiri di depan pintu no 172. Itu apartemen yang Melissa tinggali. Pria itu tidak lain adalah Danny Alvarez.


Karena tidak tahu password untuk membuka pintunya, dia pun menelepon Melissa. Tak lama kemudian teleponnya pun diangkat oleh Melissa.


Telepon terhubung!


"Hallo, Mel. Aku sudah di depan apartemenmu. Beri tahu aku password-nya,"


"Masukkan tanggal kelahiranku. Tutt!" Melissa langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban Danny terlebih dulu.


Telepon terputus!

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2