
Happy reading.....
Beberapa hari kemudian.
Hari ini Melissa sudah diperbolehkan untuk pulang. Seperti biasa, Melissa diantar pulang oleh Yuxian. Yuxian sudah seperti suami Melissa yang selalu menemaninya setiap saat.
Entah apa yang membuat Danny tidak menjemput Melissa. Tapi, itu tidak membuat Melissa bersedih. Justru Melissa sudah tidak sabar ingin menunjukkan siapa dia sebenarnya pada suaminya dan juga Yobelia.
Luka di wajah Melissa masih terlihat jelas karena itu cukup berbekas di wajahnya. Dia bisa saja melakukan perawatan untuk luka di wajahnya kepada Dr. Luciano. Namun, dia tidak ingin menghilangkan luka itu sebelum dia selesai membalaskan dendamnya pada Yobelia, Danny dan keluarga Danny.
Kini Melissa dan Yuxian sudah berada di mobil. Yuxian melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Sesekali dia menoleh ke arah sahabatnya yang sedari tadi terus tersenyum.
"Apa yang membuat sahabatku ini terus tersenyum?" sindir Yuxian dengan tatapannya yang fokus menatap jalanan.
"Gege, kau tahu? Hari ini aku sangat bahagia. Aku belum pernah sebahagia ini. Selama ini aku selalu takut untuk membalas perbuatan suamiku tapi kali ini aku serasa mendapatkan sebuah kekuatan sehingga aku sudah tidak sabar lagi ingin membuat suamiku menyesali perbuatannya selama ini. Akan kubuat hidup Danny dan Belia hancur sehancur-hancurnya. Setelah itu aku akan menceraikan Danny. Aku juga tidak peduli jika aku harus kehilangan semua asetku, asalkan aku bisa hidup bahagia dan membuka lembaran baru. Xian-Ge, apakah tindakanku kali ini salah?" Melissa menatap serius ke arah sahabatnya yang tengah menyetir.
"Menurutku ini wajar. Kamu berhak bahagia dan membalas semua perlakuan jahat dari suami, Belia dan juga keluarga suamimu. Aku akan selalu support kamu. Oh iya, Mel ... siapa dua orang yang kau maksud itu? Siapa yang akan bergabung dengan misi ini?" tanya Yuxian. Rupanya dia masih saja penasaran dengan dua orang yang Melissa ceritakan itu saat di rumah sakit.
"Dr. Luci dan Detektif swasta yang merupakan temannya," jawab Melissa.
Yuxian menepikan mobilnya serta berhenti mendadak. "Apa katamu?" Yuxian terkejut begitu mendengar nama Dr. Luci disebut oleh Melissa.
"Dr. Luci dan Detektif Alzam," jawab Melissa dengan mengulangi perkataannya.
"Kenapa kau memberi tahu mereka tentang masalahmu?"
"Awalnya aku tidak berniat seperti itu tapi ... pada saat kecelakaan itu terjadi, Dr. Luci mengetahui masalahku dan dia ingin membantuku bahkan aku diberikan alat untuk mempermudahku untuk memata-matai suamiku." Melissa tersenyum pada Yuxian.
"Benarkah? Apakah kau percaya pada kedua orang itu?"
Melissa mengangguk dengan cepat. "Ya, aku percaya kepada mereka berdua. Aku harap, Gege akan terus mendukung keputusanku ini."
__ADS_1
"Aku akan mendukungmu, Mel."
.
.
Tak lama kemudian, Melissa dan Yuxian telah sampai di rumah Melissa. Keduanya keluar dari mobil dan memasuki rumahnya. Begitu mereka membuka pintunya, betapa terkejutnya Melissa melihat penyambutan yang dilakukan suaminya, Danny.
{Welcome My Wife}
Melissa melihat ada taburan kelopan bunga yang dibentuk sebuah kalimat penyambutan untuk Melissa. Sementara itu, Melissa tidak merasa tersentuh sedikitpun atas apa yang sudah Danny persiapkan. Meski begitu, dia tetap berpura-pura terharu melihat penyambutan ini.
"Ya ampun, Mas. Indah sekali." Melissa pura-pura meneteskan air mata kebahagiaan.
"Mel, aku pamit pulang ya," ucap Yuxian pada Melissa.
"Loh, kok buru-buru seperti itu. Ayo kita makan bersama terlebih dahulu sebelum kau pergi," ajak Danny pada Yuxian.
Yuxian tersenyum kecut. "Tidak perlu! Aku tidak makan sembarangan. Mel, jika terjadi sesuatu kabari aku." Yuxian mengelus kepala Melissa dengan lembut.
"Sama-sama, Mel. Aku pulang ya." Yuxian pergi dari rumah Melissa.
Setelah kepergiaan Yuxian, Melissa pun pergi menuju kamarnya tanpa mempedulikan suaminya. Dia ingin tahu bagaimana reaksi suaminya jika Melissa mencuekkan dirinya. Kemudian Danny mengejar Melissa ke kamar.
"Mel, apa kamu masih marah padaku?" tanya Danny setelah sampai di kamar.
Melissa tidak menjawab pertanyaan suaminya, dia berjalan menuju ranjangnya. Danny terus mengikuti Melissa. "Mel, aku tau aku salah. Aku khilaf, aku janji aku tidak akan mengulangi kesalahanku itu lagi. Kamu mau 'kan maafin aku." Danny menggenggam tangan Melissa.
Sekali lagi, Melissa menepis kasar tangan Danny. "Jangan menyentuh tanganku! Atau kau akan tertular penyakitku ini!" tegas Melissa tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Kenapa kau bicara seperti itu, Sayang? Aku tidak pernah merasa jijik ataupun takut tertular padamu," timpal Danny.
__ADS_1
"Oh iya? Tapi, aku mendengar sendiri jika kau merasa jijik pada luka yang aku miliki ini," skak Melissa dengan tatapan yang sinis.
"Kapan aku mengatakan itu? Aku tidak pernah mengatakan itu padamu?" tanya Danny.
"Kau tidak mengatakan itu padaku melainkan pada Yobelia. Aku bahkan melihat kalian melakukan hubungan gelap bersamanya. Itu sangat menjijikan! Jauh menjijikan dari luka yang aku miliki ini."
Danny terdiam tak berkutik. "Kapan dan di mana kau melihatku melakukan itu?"
"Itu tidak penting! Sekarang tinggalkan aku, aku ingin sendiri!" usir Melissa.
"Baiklah, aku akan keluar. Jika kau butuh sesuatu, panggil aku. Aku ada di ruang tengah." Danny hendak keluar dari kamar Melissa.
"Tunggu!"
Danny menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Melissa. Begitu Danny menoleh ke belakang, Melissa melemparkan sebuah guling tepat mengenai wajah Danny. "Ambil itu! Untuk sementara waktu kita pisah ranjang! Aku tidak akan tidur sekamar sampai kau menyesali perbuatanmu dan berubah. Aku juga ingin mau mengakhiri hubunganmu dengan si janda murahan itu!" tegas Melissa.
"Aku janji, aku akan memutuskan Belia. Aku tidak akan berhubungan lagi dengannya."
"Jangan cuma janji-janji doang, aku tidak butuh janji! Yang aku butuhkan itu bukti!"
.
.
Pagi Hari.
Pada saat Danny sedang mandi, Melissa mulai menjalankan misi pertamanya. Dia memasang sebuah kamera tersembunyi di salah satu kucing memejanya. Bukan hanya itu saja, Melissa juga memasang alat pelacak di ponselnya dan juga alat pelacak lainnya berupa alat perekam suara yang dia sembunyikan di tas suaminya.
Danny tidak mersa curiga sedikitpun pada istrinya. Dia percaya jika saat ini Melissa sudah luluh dan mau memaafkannya. Lambat laun dia akan berhasil mengendalikan istrinya lagi. Sayangnya, dugaan Danny salah besar.
Justru Melissa yang tinggal bersamanya saat ini adalah wanita yang berbeda. Kali ini dia adalah wanita yang ingin menegakkan keadilan atas apa yang dia rasakan selama ini. Wanita yang dari awal lemah lembut, kini sudah berhasil menjadi seorang wanita yang tangguh.
__ADS_1
Melissa berpura-pura tidur di ranjangnya agar Danny tidak mengganggunya lagi. Setelah beberapa saat kemudian, dia sudah siap untuk berangkat bekerja. Dengan bodohnya Danny pergi dengan membawa alat yang tidak dia ketahui. Kini Melissa sudah tidak perlu lagi untuk memata-matai suaminya. Dengan alat itu, dia akan tahu apa yang dilakukan suaminya di luar sana.
BERSAMBUNG......