
Pagi hari.
Saat ini Yuxian tengah menyuapi Melissa bubur. Melissa begitu lahap makannya membuat Yuxian senang melihatnya. 'Aku suka melihatmu saat makan, kamu terlihat sangat cantik.'
"Ekhem," Melissa berdehem membuat Yuxian tersadar dari monolognya.
"Apa yang Gege pikirkan? Apa Gege sedang memikirkan seorang wanita?" tebak Melissa dengan menaik-turunkan alisnya diakhiri dengan senyuman menggodanya.
Yuxian tersenyum. "Ayo makan lagi, Mel. Habiskan makanannya, aaa." Yuxian menyuapi Melissa lagi.
"Tunggu, deh. Jadi, benar kalau Gege sedang memikirkan seorang wanita? Siapa wanita itu?" Melissa menangkup kedua pipi Yuxian.
"Kamu ingin tahu?" Yuxian menyimpan mangkuk berisi bubur itu di meja nakas.
Kemudian Yuxian balik menangkup kedua pipi Melissa. "Ayolah, jangan membuatku mati penasaran. Katakan siapa wanita yang beruntung itu, eum? Siapa wanita beruntung yang akan mendapatkan sahabat baikku ini?" Melissa tersenyum bahagia dengan tatapan yang dalam menatap mata sahabatnya.
"Akan kuberi tahu nanti setelah wanita itu menerima cintaku," jawab Yuxian dengan tangannya yang mengelus lembut wajah Melissa.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Aku mendo'akan yang terbaik untukmu, sahabatku. Semoga wanita yang Gege cintai juga memiliki perasaan yang sama. Semangat." Melissa menyemangati sahabatnya.
"Aamiin."
'Aku juga berharap seperti itu, Mel. Aku berharap wanita yang saat ini ada di hadapanku memiliki perasaan yang sama.'
.
.
Kediaman Danny.
"Mama sama Papa mau ke mana, jam segini udah rapi pakai bawa buah-buahan lagi?" tanya Nazira seraya berjalan menghampiri orang tuanya.
"Kami mau menjenguk Melissa. Oh iya, Naz ... kapan suamimu pulang? Ini sudah satu minggu, apakah suamimu tidak merindukan istri dan anaknya?" Tullia balik bertanya pada Nazira.
"Sepertinya minggu depan deh, Ma. Mas Al sedang sibuk sama pekerjaannya. Biarkan dia bekerja keras agar aku bisa menjadi orang kaya, hehe...'' Nazira cengengesan.
"Kau ini, dasar istri matre. Apa kamu tidak takut jika suamimu selingkuh?" goda Tullia.
__ADS_1
"Ah, Mama. Jangan berkata seperti itu. Mas Alvaro itu bukan pria yang suka mempermainkan wanita. Aku percaya padanya." Nazira cemberut dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, jangan cemberut seperti itu. Mama juga percaya sama suamimu. Kalau begitu kami berangkat dulu ya, jangan pergi ke manapun, Mama titip rumah." Tullia dan Fawwas pun pergi menuju rumah sakit. Sedangkan Nazira, dia tidak ikut menjenguk kakak iparnya.
.
.
Seorang suster masuk ke ruang ICU dengan membawa sebuah kotak. Suster itu menghampiri Melissa yang sedang bermain ponselnya. Saat ini Yuxian tidak ada di rumah sakit. Dia pulang ke rumahnya untuk bersiap-siap bekerja.
Pekerjaan Yuxian adalah HRD di perusahaan garment. Dia bekerja sudah empat tahun. Dia adalah pria yang paling dikagumi karyawan wanita karena sikap profesionalnya, tampan, ramah dan juga kocak. Banyak wanita yang berlomba-lomba untuk mendekati Yuxian. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil meluluhkan hati seorang Yuxian yang memiliki hati selembut sutra ini.
"Permisi, ada paket untuk Bu Melissa," ucap suster itu.
"Paket? Tapi, saya tidak memesan apapun." Melissa mengerutkan keningnya merasa bingung.
"Tapi, barusan ada kurir yang memberikan paket ini untuk Bu Melissa." Suster itu menyodirkan paketnya.
"Ya sudah, berikan paketnya. Aku akan menerimanya," pinta Melissa.
Suster itu pun memberikan paketnya, Melissa mengambil paket itu dan membukanya. Sementara itu, suster pergi dari ruang ICU setelah Melissa menerima paketnya. Alangkah terkejutnya Melissa melihat isi paket itu.
{Hallo, Author MJ Cute .... perkenalkan saya Sammy, penggemar rahasiamu. Aku sangat menyukai semua karya-karyamu. Aku berharap semoga suatu saat nanti bisa bertemu dengan idolaku. Semoga kamu menyukai hadiah kecilku yang tidak seberapa ini. Semangat Kak Mel emot senyum}.
Melissa tersenyum lebar setelah membaca surat itu. Dia mengambil bunga mawar itu dan menghirupnya. "Hemm ... benarkah aku memiliki seorang penggemar? Sammy? Siapa dia?"
Melissa mengambil syal cantik yang berada di kotak dan memakainya. Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah dua orang yang tidak lain adalah mertuanya. "Mama, Papa," panggil Melissa sembari menoleh ke arah mertuanya.
Mertuanya berjalan menghampiri Melissa. Tullia menyimpan buah-buahan di meja nakas. "Bagaimana keadaanmu, Mel?" tanya Fawwas.
"Alhamdulillah udah baikan, Pa." Melissa tersenyum ramah.
"Syukurlah. Papa mau minta maaf atas sikap buruknya Danny. Kamu jangan takut, Papa akan menghukum Danny atas apa yang dia lakukan padamu," ujar Fawwas.
"Jangan terlalu keras pada Mas Danny, Pa. Mel tidak apa-apa, malam itu Mas Danny khilaf. Mel sudah memaafkan Mas Danny. Aku juga tahu jika Mas Danny dalam pengaruh alkohol," timpal Melissa.
"Ck. Jika sudah memaafkan kenapa kau jebloskan Danny ke dalam penjara? Kenapa kau melaporkan anakku pada polisi? Apa kau senang melihat nama baik suamimu jatuh?" celetuk Tullia.
__ADS_1
"Mel hanya ingin Mas Danny menyesali perbuatannya, Ma. Apakah yang aku lakukan salah? Istri lain pun akan melakukan hal yang sama jika disiksa oleh suaminya. Asal Mama tahu saja, Malam itu Mel hampir mati!" skak Melissa.
"Aku tidak bertanya keadaanmu malam itu. Yang aku mau sekarang kau cabut laporannya!" perintah Tullia.
"Mama, apa yang kau katakan? Menantu kita sedang terluka, lagi pula Danny memang pantas mendapatkan hukuman ini. Biarkan dia dipenjara beberapa hari agar dia menyesali perbuatannya. Jangan terlalu memanjakan Danny, atau sampai kapanpun dia tidak akan pernah berubah!" timpal Fawwas.
"Kenapa kau lebih membela menantu tidak tahu diri ini? Kenapa kau begitu kejam pada anakmu sendiri? Anakmu itu Danny atau Melissa si tukang selingkuh ini?" Tullia menyorotkan matanya begitu tajam pada suaminya.
"Ma, Pa! Sudah jangan berdebat. Mel akan mencabut laporannya," lerai Melissa.
"Mel, apa yang kamu lakukan? Jangan pedulikan ucapan ibu mertuamu ini. Jangan mencabut laporannya, biarkan Danny mempertanggung jawabkan pembuatannya," ujar Fawwas.
"Papa! Kau!" Tullia memekik kepada suaminya. Kemudian dia pergi dengan wajah yang kesal.
"Pa, kejar Mama. Mel akan pikirkan kembali, Mel akan pastikan Mas Danny keluar dari penjara secepatnya." Melissa tersenyum pada ayah mertuanya.
"Ingat, Mel. Jangan melakukan sesuatu karena terpaksa. Papa pergi dulu ya, jaga dirimu." Fawwas pergi mengejar istrinya.
"Huft!" Melissa menghembuskan napasnya yang kasar.
Melissa meraih ponsel yang berada di meja nakas dan menghubungi Yuxian. Tak lama kemudian Yuxian mengangkat teleponnya. Dia menempelkan ponsel di telinga.
Telepon terhubung!
"Hallo, Xian-Ge," sapa Melissa begitu teleponnya tersambung.
"Iya, Mel. Ada apa?"
"Apa aku mengganggumu, Ge?"
"Tidak, jika kau mengangguku maka aku tidak akan mengangkat teleponnya. Benar, 'kan."
"Gege, aku ingin menarik kembali laporannya.''
"Apa!'' Yuxian terdengar terkejut.
"Kita bicara nanti! Aku akan menemuimu. Tutt!" Yuxian mengakhiri teleponnya.
__ADS_1
Telepon terputus!
BERSAMBUNG.....