
Telepon terhubung!
"Benarkah itu Jian? Kalau begitu, berikan ponselnya pada Gegemu, aku mau bicara dengannya," ujar Melissa di seberang telepon.
"Okay, Kak. Akan Jian berikan pada Gege. Ini, Ge." Jian Ying memberikan ponsel itu pada Yuxian diakhiri dengan menaik-turunkan alisnya.
Yuxian mau tidak mau harus mengambil ponsel dan berbicara dengan Melissa. Dia sedikit gerogi pada saat memegang ponsel. Bagaimana tidak, dia sudah lama sekali tidak berbicara dengan sahabatnya itu. Pria sipit itu pun menempelkan ponsel di telinga kanannya.
"Hallo, Mel," sapa Yuxian.
"Hallo, Ge. Gimana kabarmu, Sahabatku?" tanya Melissa dengan nada bicara yang ramah.
"Aku baik, Mel. Bagaimana denganmu dan juga Luci?" Yuxian balik bertanya pada Melissa.
"Kami baik, Ge. Sangat baik. Oh iya, Gege sekarang sombong ya. Sekarang mau bukan Xian-Ge yang aku kenal lagi," ujar Melissa.
"Tidak, Mel. Aku bukannya sombong, aku memang beberapa bulan ini sedang sibuk sekali soal bisnisku. Akhir-akhir ini aku juga mengalami insomnia. Aku masih tetap Yuxian yang dulu, Mel. Tidak ada yang berubah sama sekali," jelas Yuxian.
"Begitu ya. BTW kenapa Gege tidak datang ke pernikahanku? Apa Gege membenciku?" skak Melissa.
Yuxian terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Melissa. Dia bingung, apa yang harus dia katakan. Alasan apa yang akan dia kasih tau pada sahabatnya itu.
"Baiklah, jika kau tidak ingin menjawabnya, aku tutup teleponnya. Maaf jika aku mengganggumu, Ge."
"Tunggu dulu, Mel."
Melissa yang hendak mematikan teleponnya pun dia urungkan. Dia kembali menempelkan ponsel di telinganya. "Iya, Ge."
"Aku minta maaf karena aku tidak datang ke pernikahanmu. Sebenarnya aku tidak sanggup melihatmu bersanding dengan pria lain. Namun, aku tetap bahagia untuk pernikahanmu. Meski aku tidak datang, aku akan memberikan gift untuk pernikahanmu, kemungkinan besok akan sampai ke rumah orang tuamu. Sekali lagi aku minta maaf ya, Mel. Aku janji setelah perasaanku padamu sudah lenyap, aku akan menemuimu dan juga Luci."
__ADS_1
"Jadi, Gege masih mencintaiku?" tanya Melissa.
"Iya, Mel. Aku masih mencintaimu, sangat sulit untuk melenyapkan perasaan itu. Tapi, kau jangan khawatir, aku akan melupakan perasaan ini. Aku hanya butuh waktu saja," jawab Yuxian.
"Aku mengerti, Ge. Aku merasa lega karena kau tidak membenciku,"
"Aku tidak mungkin membencimu, Mel. Kau itu sahabatku."
"Terima kasih, Ge. Aku tutup dulu teleponnya. Sampai ketemu nanti, Ge. Tutt!" Melissa mengakhiri pembicaraannya.
Telepon terputus!
Selesai berbicara di telepon dengan sahabatnya, Yuxian mengembalikan ponsel itu pada Jian Ying. "Bagaimana perasaanmu setelah berbicara dengan Kak Mel?" tanya Jian Ying.
"Aku merasa lega sekarang, Jian. Sudah, kau pergilah. Aku lagi ingin sendiri," ujar Yuxian seraya duduk kembali di kursi.
"Apa Gege mengusirku?" Jian Ying menunjuk dirinya sendiri.
Dengan wajahnya yang masam, Jian Ying pergi meninggalkan kakanya dengan kaki yang sedikit dihentak-hentakkan, menandakan jika dia tengah kesal.
****
Kamar Hotel ....
"Sayang, bagaiamana? Apakah Yuxian membencimu?" tanya Luciano dengan menatap istrinya yang tengah berdiri.
Melissa berjalan menghampiri suaminya yang setia duduk di sofa panjangnya. Kemudian dia duduk di sebelah Luciano. Wanita ini menggelengkan kepalanya.
"Mas benar, Yuxian tidak membenciku. Dia masih mencintaiku sampai saat ini. Itulah kenapa dia tidak datang ke pernikahan kita. Tapi, dia akan menemui kita setelah perasaannya telah lenyap. Itu kata Yuxian," jelas Melissa.
__ADS_1
"Ya, sudah jangan dipikirkan. Sekarang kau sudah tahu jika Yuxian tidak membencimu. Sekarang fokuslah pada suamimu ini," ucap Luciano.
Kemudian Luciano mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya. "Ingatlah, ini malam pertama kita. Ayo kita lakukan tugas yang seharusnya kita lakukan sekarang," bisik Luciano dengan nada yang menggoda.
"Mas, genit deh." Melissa tersipu malu mendengar.
"Ayolah, jangan malu-malu kucing seperti itu." Luciano menatap istrinya dengan lekat.
"Aku tidak malu, Mas. Aku hanya ingin mengetahui rahasia besar yang Mas katakan tadi. Aku penasaran dengan rahasia besar Mas dan juga keluarga. Boleh Mel tahu, rahasia besar apa itu, Mas?" Melissa menatap serius suaminya.
"Baiklah, aku akan memberi tahumu mengenai rahasia besar itu. Sebelumnya aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan rahasia ini darimu."
"Iya, Mas. Tidak apa-apa, ceritakan saja. Yang terpenting sekarang Mas mau menceritakan rahasia itu padaku." Melissa memegang tangan suaminya disertai dengan senyumannya yang manis.
"Sebenarnya aku memang seorang mafia, Mel. Kami sekeluarga adalah mafia, seperti yang kau katakan tadi. Itulah kenapa tadi aku terdiam, bagaimana bisa kau mengatakan itu. Sedangkan aku belum menceritakan tentang rahasia besar ini," jelas Luciano.
Alih-alih percaya dengan ucapan suaminya, Melissa justru malah tertawa ketika mendengar perkataan Luciano. "Mas ini bicara apa sih? Enggak mungkin jika Mas adalah seorang mafia. Mas jangan bercanda kek gini ah, enggak lucu tau," timpal Melissa.
Melihat reaksi istrinya yang tidak percaya, Luciano pun menggenggam kedua tangan Melissa disertai tatapan yang tajam. Mata pria Italia ini menunjukkan tatapan yang serius. "Mel, aku serius. Aku dan keluargaku memang mafia," jelas Luciano.
Glek!
Melissa yang mendengar itu langsung tertegun disertai tatapan yang tidak percaya. Dia menggelengkan kepalanya. "Enggak, Mas. Mas bukan mafia, Mas itu seorang dokter. Jangan menakut-nakutiku seperti itu," ucap Melissa dengan mata yang menatap dalam suaminya.
"Aku serius, Mel. Nanti akan kutunjukkan padamu pada saat kita ke negara asalku nanti. Untuk sekarang mungkin kau tidak akan percaya tentang kehidupanku. Tapi, percayalah kenapa aku tinggal di Indo dan menjadi seorang dokter. Aku ingin keluar dari masa lalu kelamku itu," jelas Luciano dengan nada yang serius.
"Jadi dulu Mas itu mafia? Jangan bilang kalau Mas pernah hidup di dunia kegelapan? Apa Mas pernah membunuh juga?" tanya Melissa.
"Huft!" Luciano menghembuskan napasnya. "Ya, aku pernah melakukan itu, dulu. Tapi, percayalah setelah kejadian kelam itu aku sudah memutuskan untuk tidak hidup sebagai mafia lagi. Aku memutuskan untuk menjadi seorang dokter agar aku bisa membantu orang lain untuk menebus setiap kesalahanku di masa lalu. Aku minta maaf, seharusnya aku memberi tahumu jauh sebelum kita menikah. Mel mau 'kan maafin aku?" Luciano memegang bahu istrinya dengan berlinangnya air mata.
__ADS_1
"Jujur, aku tidak menyangka jika Mas itu seorang mafia. Yang aku tahu Mas itu hanya seorang dokter tampan yang selalu menemaniku, mengobatiku dan selalu membantuku setiap saat. Aku tidak peduli dengan masa lalumu itu, Mas. Setiap orang pasti memiliki masa lalu yang kelam. Mas tidak perlu meminta maaf seperti itu. Aku justru berterima kasih padamu karena Mas sudah mau jujur sama aku. Tidak mudah untuk menceritakan masa lalu kelam itu, aku menghargai kejujuranmu itu, Mas. Maka dari itu, mulai dari sekarang, Mas lupakan masa lalu dan fokuslah pada masa depan. Aku akan selalu mendukungmu, Mas. Tidak peduli Mas seperti apa dulunya yang terpenting aku menyayangimu dengan tulus. Aku menerimamu apa adanya." Melissa menangkup kedua pipi suaminya dan menatapnya dengan tatapan yang dalam.
****