Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Firasat Seorang Istri


__ADS_3

"Ampun, ampun. Aku mohon hentikan, ini terlalu sakit." Kedua matanya meneteskan air mata, meminta pengampunan pada mereka.


"Tidak secepat ini, Nona. Biarkan kami merasa puas dulu. Haha," seluruh anak buah Alano tertawa puas.


Karena sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang luar biasa, goa Yobelia pun mengalami pendarahan. Sehingga wanita malang ini pun tak sadarkan diri. Meskipun Yobelia sudah pingsan, seluruh anak buahnya masih menghajar tubuh wanita malang ini secara bergantian.


****


Selang beberapa bulan setelah Yobelia berhasil ditangkap. Kini kehidupan Melissa dan Luciano pun semakin harmonis. Luciano semakin bucin terhadap istri dan calon anaknya ini.


Perut Melissa semakin hati semakin membesar. Tidak terasa kini usia kandungan Melissa sudah menginjak 7 bulan. Tinggal dua bukan lagi anak mereka akan lahir ke dunia. Kelahiran anak Luciano pun sangat dinanti oleh ayahnya, yaitu Alano.


Mereka semua sudah menyiapkan masing-masing nama. Dari nama untuk yang berjenis kelamin laki-laki hingga berjenis kelamin perempuan. Semua persiapan untuk menyambut sang buah hati sudah dipersiapkan.


Pagi hari ....


Seperti biasanya, sebelum berangkat kerja Luciano selalu menghabiskan waktu beberapa menit sebelum bekerja bersama istri dan calon buah hatinya. Luciano selalu tiduran di pangkuan istrinya sembari mengajak calon anaknya bicara. Sedangkan Melissa, dia mengelus lembut rambut suaminya.


"Good morning, Baby. Sebentar lagi Daddy akan pergi berangkat kerja. Do'akan Daddy semoga Daddy selamat sampai tujuan dan pekerjaan Daddy lancar. Daddy berpesan sama Baby untuk selalu jaga Mommy. Jangan repotin Mommy ya. I love you, Baby. Muach." Luciano mencium perut Melissa serta mengelus perut istrinya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Iya, Daddy. Aku akan do'ain Daddy. Daddy juga jangan khawatir karena Baby akan jagain Mommy dengan baik. Baby akan menjadi pahlawannya Mommy," timpal Melissa dengan nada seperti anak kecil.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Kamu baik-baik di rumah, dan ingat ... kamu jangan terlalu kecapean. Aku titip Baby ya, Sayang." Luciano bangun dan menyentuh wajah istrinya.


"Iya, Sayang. Aku akan selalu mengingat pesanmu ini." Melissa tersenyum manis pada suaminya.


"Senyuman ini yang selalu membuatku malas untuk meninggalkan rumah. Aku selalu merindukanmu di manapun aku berada." Luciano memeluk istrinya sebelum pergi.


Deg!


Tiba-tiba Melissa merasa ada yang aneh dengan jantungnya. "Aaargghh!" Melissa sedikit meringis sembari memegangi dadanya.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Luciano.


"Mas, kok aku merasa tidak enak hati ya. Aku ngerasa akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan. Tapi, entah apa itu. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada keluarga kita," jelas Melissa dengan wajahnya yang menunjukkan kekhawatiran.


"Sayang, tenanglah. Jangan berpikiran yang macam-macam. Positif thinking aja ya, berdo'a semoga semua baik-baik saja. Semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi pada keluarga kita. Aku sudah telat, aku pamit ya Sayang. Jaga dirimu, semoga kita bisa bertemu lagi secepatnya. Muach!" Luciano mengecup kening istrinya.


Deg!


Jantung Melissa kembali merasakan debaran yang tidak biasanya. Bukan hanya jantung, melainkan hatinya pun merasa tidak enak. Dia seperti mendarat sebuah firasat jika sesuatu yang buruk akan terjadi.


Entah ada angin dari mana tiba-tiba saja bingkai foto pernikahan Melissa dan Luciano mendadak jatuh dan pecah. Mendengar suara benda jatuh, membuat semua orang yang ada di rumah Luciano berhamburan datang ke kamar Melissa. Sementara itu, Melissa hanya menangis. Dia benar-benar takut jika sesuatu yang buruk itu terjadi.


"Melissa Sayang, kamu kenapa? Kok foto pernikahan kalian bisa jatuh seperti ini sih?" tanya Eloisa dengan lembut.


"Mel juga enggak tahu, Mom. Mel takut Mom, Mel takut." Melissa langsung memeluk ibu mertuanya disertai tangisan.


"Sayang, kamu kenapa? Apa yang kamu takutkan?" tanya Eloisa.


"Hei, Sayang. Lihat Mommy!" Eloisa menangkup kedua pipi menantunya.


Melissa pun menatap ibu mertuanya. "Semua akan baik-baik saja. Tidak ada akan terjadi hal buruk pada putraku. Mel jangan berpikir hal yang buruk, ingat kata Luci ... kamu enggak boleh banyak pikiran apalagi sampai setres. Sebentar lagi Mel mau lahiran, Mel harus sehat," Eloisa menasehati menantunya.


"Enggak, Mom. Kali ini Mel benar-benar takut, Mel boleh pinjam mobil Daddy tidak? Mel mohon," pinjam Melissa.


"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Alano.


"Mel mau mastiin Mas Luci baik-baik aja, Dad. Mel tidak akan tenang sebelum memastikannya," jelas Melissa.


"Tapi, Sayang ... kamu sedang hamil besar, kamu tidak boleh menyetir dalam keadaan seperti ini. Daddy tidak akan mengizinkanmu keluar seperti ini,"


"Dad, Mel mohon. Mel tidak akan tenang sampai Mel melihat dengan kepala Mel sendiri jika Mas Luci baik-baik saja. Jika Mel tidak boleh pergi, bagaimana jika Mel pergi dengan Kak Emma? Kak Emma mau 'kan nganterin Mel?" tanya Melissa sembari menoleh ke arah kakak iparnya.

__ADS_1


"Iya, Dad. Mel biar pergi sama Emma saja. Emma akan menjamin keselamatan Adikku ini." Emma tersenyum pada Melissa.


"Bener ya, kamu akan menjamin keselamatan menantuku? Karena jika sampai menantu dan cucuku lecet sedikit saja, Daddy akan menghukummu!" tegas Alano dengan sedikit tegas.


"Siap, Dad. Aman itu,"


"Ini kunci mobilnya. Ingat, jika ada apa-apa hubungi kami!"


"Baik, Dad. Ayo, Mel." Emma mengajak adik iparnya pergi.


****


Di dalam mobil ....


Saat ini Melissa masih merasa tidak tenang. Dia ingin memastikan apakah firasat itu benar atau tidak. Dia sengaja tidak menghubungi suaminya karena dia takutnya Luciano sedang mengemudi.


Namun, diperjalanan dari rumah menuju rumah sakit jalanan cukup macet. Tidak biasanya jalanan yang mereka lalui macet, karena biasanya juga tidak pernah macet. Mereka saling menatap satu sama lain seakan ingin mengajukan pertanyaan yang sama.


Setelah beberapa menit kemudian, terdengar sangat jelas suara ambulan dari arah belakang. Seketika mobil segera menepi. Melissa yang Melihat mobil ambulan itu seketika langsung kembali merasakan takut. Dia kembali teringat akan firasatnya itu.


Tanpa pikir panjang, Melissa keluar dari mobil dan mengikuti arah ambulan itu. "Hei, Mel! Kamu mau ke mana?" teriak Emma.


Melissa terus berjalan. Dia menghiraukan teriakan kakak iparnya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah suaminya. Dia berjalan sangat cepat, sehingga mobil ambulan berhenti di salah satu stopan yang di mana terlihat sangat jelas ada sebuah kecelakaan dua kendaraan.


Melissa semakin panik dan ikut menerobos orang-orang yang sedang melihat kejadian itu. "Permisi, permisi," ucap Melissa.


Begitu dia sudah menerobos orang-orang itu, alangkah terkejutnya dia melihat mobil suaminya berada di bawah truk fuso. Terlihat sangat jelas kondisi Luciano yang sangat tidak memungkinkan untuk bisa diselamatkan. Melissa ambruk saat itu juga di atas aspal.


"Tidak!"


*****

__ADS_1


__ADS_2