Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Sadarlah


__ADS_3

"Kau benar, kita harus segera menyelamatkan mereka. Tapi, sebelum itu kita harus meminta bantuan ada kepolisian untuk melumpuhkan ketiga pembunuh itu. Tenanglah, tetap yakin kalau tidak akan terjadi hal buruk pada mereka. Saya akan menghubungi polisi sekarang." Luciano langsung menghubungi polisi.


Setelah beberapa menit menghubungi polisi, Luciano memutuskan untuk pergi ke tempat penyekapan Melissa dan Yuxian. Mereka tidak hanya berdua, ada nenek tua itu yang menunjukkan lokasinya. Sebelum memasuki rumah itu, Luciano menyusul strategi agar mereka bisa membebaskan Yuxian dan Melissa.


Luciano menyuruh Ming Hao untuk memancing ketiga pembunuh itu. Sementara itu, Luciano pergi memasuki rumah itu. Setelah sampai di depan pintu, Luciano kesulitan untuk membuka pintunya karena pintunya agak macet. Sehingga tidak ada cara lain selain mendobrak pintunya.


Brakk!


Dalam hitungan ketiga, Luciano berhasil membuka pintunya. Begitu dia masuk, dan benar saja jika Melissa dan Yuxian disekap di tempat yang sama. Keadaan mereka cukup menyedihkan. Tubuh mereka diikat dan ada beberapa luka lebam serta darah yang sudah kering.


"Kak Luci," panggil Melissa dengan suara yang sedikit terisak.


Luciano menangis melihat hal itu. Dia berlari dan langsung memeluk pacarnya. Dia mengelus lembut kepala Melissa dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Aku di sini, Sayang. Jangan takut, aku akan membebaskanmu dan juga sahabatmu." Luciano menangis dengan mengatakan hal itu. Dia pun terus membanjiri pipi, kening, dan bibir Melissa karena merasa lega jika dirinya masih hidup.


Melihat adegan itu, Yuxian meneteskan air mata. Hatinya kembali sakit. Namun, dia terharu melihat ketulusan cintanya Luciano pada sahabatnya.


'Seandainya malam itu aku mati, aku tidak akan menyaksikan hal seperti ini. Sakit rasanya melihat dia bersamanya.' batin Yuxian menangis.


"Kak tolong lepasin tali ini, badanku sakit," pinta Melissa.


"Sebentar akan kubukakan." Luciano merogoh jas medisnya yang tersimpan sebuah gunting yang tajam dan mengkilat.


"Apa kau sudah tidak waras, Xian-Ge! Bagaimana mungkin kami meninggalkanmu di tempat yang mengerikan ini. Kami akan tetap di sini! Kami akan pergi bersamamu! Aku sudah berjanji pada Mamamu untuk membawamu pulang!"


"Jika kau terhalang karena janjimu itu, maka lupakan janjimu itu dan beri tahu meluargaku berita kematianku!" pekik Yuxian.

__ADS_1


Plakk!


Melissa yang mendengar ucapan sahabatnya pun langsung menamparnya. Dia menatap tajam Yuxian. "Sadarlah! Apa yang kau bicarakan? Kau akan selamat, kau tidak akan mati! Ingat tamparan ini baik-baik agar kau bisa lebih berhati-hati dalam bicara!" Melissa memukul pelan lengan Yuxian.


"Sudah, jangan berdebat. Bantu aku membuka kunci ini," ucap Luciano serasa memegang sebuah kawat yang sedang dibentuk seperti kunci untuk membukanya.


Setelah beberapa menit kemudian, kunci rantainya berhasil dibuka. Yuxian sudah berhasil bebas. Kedua tangan dan kakinya merasa sangat kesakitan.


"Ayo kita pergi dari sini, sebelum mereka kembali. Aku tidak bisa membiarkan Ming Hao berhadapan lebih lama lagi dengan para pembunuh bayaran itu!" ajak Luciano ada Yuxian dan Melissa.


"Yu Ming Hao ada di tempat ini?" Yuxian menoleh ke arah Luciano.


"Yup, semalaman kami mencari kalian, saat ini dia sedang di luar," jawab Luciano.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2