
Setelah puas mengecek setiap ruangan di rumah barunya Luciano, mereka pun pulang ke rumah orang tua Melissa. Karena jarak antara perumahan elitnya dengan kediaman Jordan tidak begitu jauh, kini mereka sampai dalam beberapa menit. Sesampainya di kediaman Jordan, mereka keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki rumah.
Tidak lupa, mereka menekan belum rumahnya sebelum masuk. Tak lama kemudian pintu pun dibuka oleh Cassie, yang merupakan ibunya Melissa. Cassie yang saat ini melihat putri dan menantunya ada di hadapannya, dia langsung mengajak keduanya untuk masuk.
Dengan wajahnya yang terlihat sangat senang berjalan bersama menuju ruang tengah. "Duduklah, Nak. Akan Ibu buatkan minuman dulu untuk kalian," ujar Cassie pada putri dan menantunya.
Melissa dan Luciano hanya menanggapinya dengan anggukan disertai senyuman. Sambil menungguku Cassie datang, mereka pun menyalakan TV untuk menonton. Pada saat mereka tengah asyik menonton TV, tiba-tiba Dominic datang dan bergabung dengan putri beserta menantunya.
"Kapan kalian datang?" tanya Dominic to the point.
"Eh, Ayah." Melissa menoleh ke arah ayahnya. Rupanya dia baru menyadari jika ayahnya sudah berada di hadapannya.
"Kami baru saja datang, Yah. Ayah tidak bekerja?" Luciano balik bertanya pada Ayah mertuanya.
"Ayah sedang tidak enak badan, Nak. Ayah ambil cuti 3 hari," jawab Dominic.
"Ayah sakit?" Melissa langsung berpindah posisi dengan duduk di sebelah ayahnya.
Kemudian Melissa menempelkan telapak tangannya di kening sang Ayah. "Ayah sudah makan dan minum obat?" tanya Melissa dengan raut yang cemas.
"Sudah, Sayang. Jangan khawatir, Ibumu selalu merawat Ayah dengan baik," jawab Dominic dengan bibirnya yang tersenyum seakan dia sehat.
"Syukurlah, semoga Ayah cepat sembuh ya. Mel enggak mau dengar atau lihat Ayah sakit, Mel mau Ayah itu sehat terus." Melissa memeluk sang Ayah dengan pelukan hangat dari seorang anak.
Melihat itu Luciano tersenyum gemas menyaksikan adegan seorang anak yang memeluk ayahnya. "Ayahmu itu bandel sekali, Mel! Sudah dibilangin jangan terlalu banyak minum kopi masih saja minum kopi, ngeyel!" timpal Cassie dengan wajah yang cemberut.
Cassie berjalan menghampiri sofa dan meletakkan dua gelas jus beserta cemilan di atas meja. Melissa melepaskan pelukannya. "Apa benar yang dikatakan Ibu?" tanya Melissa dengan tatapan tajam yang menyorot pada ayahnya.
"Ayah hanya minum kopi sedikit, Nak," elak Dominic.
"Tuhkan, Mel liat sendiri! Udah salah masih aja ngeyel!" Cassie duduk di sebelah putrinya.
"Sudah, sudah. Jangan bertengkar seperti ini, Bu. Malu lah sama Mas Luci," Melissa melerai kedua orang tuanya.
"Habisnya Ayahmu selalu bikin Ibu kesal saja."
"Ya udah, Bu. Jangan diambil pusing, maafin aja Ayah ya, Bu." Melissa menaik-turunkan alisnya sembari membujuk ibunya.
__ADS_1
"Iya, deh iya. Kamu selamat karena ada Mel!" ucap Cassie dengan menyorotkan tatapannya yang sangat tajam.
"Love you, muach." Dominic membalas istrinya dengan menggoda serta diakhiri dengan tingkah genitnya.
"Idih, apaan sih." Cassie mengerlingkan matanya.
Tiba-tiba terdengar suara bel rumah, mereka yang tengah asyik bercanda gurau pun seketika langsung diam dan saling menatap satu sama lain. "Biar Mel saja yang buka." Melissa beranjak dari duduknya dan pergi menuju pintu.
Begitu pintunya di buka, Melissa melihat ada seorang kurir yang membawa sebuah kotak di tangannya. Pria itu tengah membelakangi rumah Jordan. "Maaf, cari siapa ya?" tanya Melissa.
Kurir itu membalikkan badannya, dia pun tersenyum ke arah Melissa. "Apa benar ini rumah Melissa Jordan?" tanya Kurir itu sebelum memberikan paketnya.
"Iya, benar. Dengan saya sendiri," jawab Melissa.
"Begini, ini ada paket untuk Mbak Melissa dari Pak Yuxian," jelas Kurir itu seraya memberikan paketnya.
"Baiklah, terima kasih." Melissa menerima paket itu.
Tentu saja sebelum menerima itu, Melissa menandatanganinya dulu sebagai bukti paket telah diterima. Setelah itu, barulah sang kurir pergi meninggalkan rumah Melissa. Begitupun dengan Melissa, dia membawa masuk paket itu.
Melissa tersenyum senang kala mendapat kiriman dari sahabatnya itu. Dia sedikit penasaran dengan isi paketnya itu. Setelah sampai di ruang tengah, dia pun duduk di sebelah suaminya.
"Ini paket kiriman dari Xian-Ge untukku, Sayang. Ini gift untuk pernikahan kita," jawab Melissa dengan wajah yang senang.
"Benarkah? Kira-kira apa isinya ya." Luciano turut bahagia melihat istrinya yang terlihat sangat senang.
"Entahlah, kita buka saja sekarang," ucap Melissa.
"Ide bagus, kau buka saja paketnya."
"Okay, Mel buka ya." Melissa mulai unboxing paket kiriman sahabatnya.
Melissa membukanya dengan sangat hati-hati. Begitu dia berhasil membukanya, seketika semua orang yang berada di ruang tengah terdiam melihat isi dari paket itu. Apa isinya? Isinya adalah sebuah lukisan yang sangat indah. Lukisan itu terlihat seperti sepasang pengantin yang berdiri di atas altar. Dan pengantin itu tidak lain adalah Melissa dan Luciano.
Selain itu, di belakang lukisan itu terdapat sebuah kalimat yang bertuliskan "SETIAP ORANG SELALU MEMPUNYAI LEMBARAN BARU, JANGAN BIARKAN MASA LALU MENGURUNG KAMU
DI ISTANA KESEDIHAN"- Yuxian Dimas Wuxing.
__ADS_1
Melissa yang telah membaca itu pun tanpa dia sadari kedua matanya meneteskan air mata. Kalimat itu sangat berarti untuknya. Kalimat itu sangat sesuai dengan saat ini dia alami, yang di mana dia sedang membuka lembaran baru bersama Luciano.
Melissa dan suaminya memiliki masa lalu yang sama-sama kelamin, maka dari itu kalimat ini sangat berarti bagi Melissa. Dia menganggap kalimat dari sahabatnya ini adalah sebuah motivasi. Melihat istrinya yang tengah menangis karena terharu, Luciano langsung merangkulnya ke dalam pelukannya.
****
Beberapa hari sebelum Yuxian mengirimkan gift pada Melissa ....
Saat ini Yuxian tengah berbicara di telepon dengan kakaknya yang bernama Mei Yin.
Telepon terhubung!
"Hallo, Jie Mei," sapa Yuxian pada kakak kandungnya.
"Iya, Yuxian. Ada apa?" tanya Mei Yin dari seberang telepon.
"Begini, aku hanya ingin meminta foto pernikahan Melissa dengan suaminya."
"Foto pernikahan sahabatmu? Untuk apa?" tanya Mei Yin lagi.
"Aku ingin melukis dan memberikan lukisan itu sebagai gift atas pernikahannya," jawab Yuxian.
"Baiklah, nanti aku akan hadir ke pernikahannya Mel dan memotretnya. Setelah itu akan kukirimkan padamu," timpal Mei Yin.
"Xie xie, Jie Mei."
"Tidak perlu berterima kasih."
"Baiklah, kalau begitu aku tutup teleponnya, bye. Tutt!" Yuxian mengakhiri obrolannya.
Telepon terputus!
Setalah menghubungi kakaknya, dia pun merasa lega. Setidaknya dia sudah memikirkan gift yang akan dia berikan pada sahabatnya. Sehingga tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari pernikahan Melissa.
Yuxian yang tengah menunggu kiriman foto pernikahan Melissa pun hingga akhirnya Mei Yin mengirimkan fotonya pada siang hari. Disaat itulah, Yuxian mulai melukis foto itu dengan hatinya yang merasa teriris dan terasa perih di hatinya. Tak henti-hentinya dia meneteskan air mata pada saat melukis wajah sahabatnya yang sekaligus menjadi wanita yang dia sayangi.
Tak membutuhkan waktu lama sampai lukisannya selesai. Lukisan itu terlihat sangat indah dengan perpaduan warna yang sangat cantik sehingga lukisan itu terlihat seperti nyata. Sebelum mengirimkan lukisan itu, Yuxian sempat menulis sebuah kalimat yang mewakili perasaannya dan juga perasaan Melissa. Setelah itu, barulah paketnya dikirim pada Melissa.
__ADS_1
****