
Happy reading.....
Selesai pesta pernikahan Danny dan Yobelia, mereka semua pulang ke rumahnya yaitu rumah yang tersisa rumah orang tua Danny. Sesampainya di rumah Alvarez, Danny berniat memasuki rumahnya yang bersebelahan dengan rumah orang tuanya. Namun, begitu dia hendak memasuki rumahnya sendiri tiba-tiba Melissa dan Dr. Luciano keluar dari rumah dengan beberapa koper di tangan mereka.
Tanpa membuang waktu, Melissa langsung melempar beberapa koper itu ke arah Danny. Setelah itu, Melissa mengunci pintu rumahnya dan menempelkan kertas uang bertuliskan. RUMAH INI DI JUAL!
Seketika Danny langsung membelalakkan matanya, dia tidak menyangka jika Melissa benar-benar melakukannya. "Jangan pernah kau injakkan kaki di rumah ini lagi!" tegas Melissa dengan mata yang menyorot tajam.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Melissa!" pekik Danny.
"Ck. Kenapa aku tidak bisa? Aku bisa melakukan lebih dari ini. Kalau aku mau, aku bisa mengambil kembali rumah orang tuamu dan membiarkan keluargamu menjadi gembel! Jadi, jangan berani macam-macam padaku. Dan ingat! Nanti malam kau harus bermalam di apartmenku. Ini alamat apartemenku, simpan baik-baik! Kalau sampai nanti malam kau tidak datang, aku akan menjebloskanmu ke penjara!" ancam Melissa seraya melemparkan selembar kertas kecil yang tertulis tentang alamat apartemennya kepada Danny.
"Ayo, Sayang." Melissa menggandeng tangan Dr. Luciano.
Melissa dan Dr. Luciano pun pergi meninggalkan Danny. Sementara itu, Danny hanya diam tak berkutik. Lututnya terasa lemas mendengar semua hinaan, ancaman dari mantan istrinya.
Dia tidak pernah membayangkan jika hidupnya akan berbanding terbalik dengan apa yang dia pikirkan selama ini. Dia berpikir setelah bercerai dengan Melissa, hidupnya akan penuh dengan kebahagiaan. Dia sempat berpikir jika uang 100 juta yang Melissa berikan kepadanya akan sangat menguntungkan baginya.
Namun, nyatanya uang itulah yang menjadi penyebab dari kehancurannya saat ini. Dia terus merutuki dirinya sendiri dengan mengatakan jika. "Aku terlalu bodoh karena telah mengira Melissa adalah orang yang bodoh. Bego sekali! Karena aku telah meremehkan dirinya. Sekarang, keadaan berbanding terbalik. Kini hidupku hancur-sehancurnya. Entah apa yang akan terjadi malam nanti, aku tidak sanggup melihat air mata istriku, Yobelia." Tubuh Danny merosot ke lantai disertai air matanya yang meleleh.
****
Shaquille Residence ....
Ting!
Pintu lift terbuka, Melissa bersama Dr. Luciano keluar dari lift dan berjalan menjual apartemen Melissa no 172. Begitu sampai di depan pintu apartemen, Melissa mengusap sensor pada pintu dan memasukkan 6 digit password. Tak lama kemudian, kuncinya terbuka.
__ADS_1
Mereka berdua masuk setelah pintunya terbuka, lalu Melissa menutup pintunya. Sebelum menuju ke ruang tengah, Melissa membuka heels dan menggantinya dengan sandal khusus dipakai di apartemen. Begitupun dengan Dr. Luciano. Dia membuka sepatu formalnya dan menggantinya dengan sandal yang sudah Melissa siapkan.
"Dr. Luci silakan duduk, aku akan ambilkan cemilan dulu," ucap Melissa seraya berjalan menuju dapur.
"Tidak perlu repot-repot, Nona manis." Dr. Luci tersenyum.
"Huwek, Nona manis? Rasanya aku mual mendengar panggilan itu," kekeh Melissa.
"Kau ini aneh sekali, Mel. Disaat wanita diluaran sana ingin dipuji tapi kau berbeda. Kau justru tidak ingin mendengar pujian apapun. Kau ini wanita yang unik," timpal Dr. Luciano sembari menoleh ke arah dapur, tempat Melissa berdiri.
"Aku ini Melissa, aku ingin hidup dengan versiku sendiri. Selama hidupku, aku tidak pernah mendapatkan pujian apapun dari orang terkecuali dari orang tuaku. Tapi bagiku, itu bukan pujian. Itu bentuk kasih sayang yang orang tuaku utarakan padaku,"
"Unique woman," ucap Dr. Luciano.
"Ya aku memang unik, Dr. Tampan." Melissa mengedipkan sebelah matanya pada Dr. Luciano dan diakhiri dengan tawanya.
Melissa menggelengkan kepalanya. "Rupanya kau tidak menyadari jika kau itu memiliki wajah yang tampan. Baiklah, ikut denganku! Akan kutunjukkan jika kau memang tampan." Melissa menarik tangan Dr. Luciano dan membawanya ke ruangan fashionnya.
"Lihat dirimu, Dr. Luci!" Melissa menunjuk ke arah cermin besar.
Dr. Luciano langsung menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin. Tidak, dia bukan menatap dirinya melainkan menatap Melissa dari pantulan cermin itu. Dia tersenyum yang menunjukkan betapa tampannya pria di sebelah Melissa ini.
"Sei così bello," ucap Dr. Luciano dengan bahasa Italia yang artinya Kamu cantik sekali.
Melissa melongo. "Hah? Kau bilang apa?" tanya Melissa dengan mengerutkan keningnya.
"Aku hanya mengatakan jika aku memang tampan," kekeh Dr. Luciano. Dia berbohong pada Melissa.
__ADS_1
"Nah 'kan, aku bilang juga apa kalau kau memang tampan. Karena kau sudah menyadarinya, sekarang bantu aku bersiap-siap," ucap Melissa.
Dia tidak merasa sungkan untuk meminta bantuan pada Dr. Luciano. Entah kenapa, setelah dia mengenal Dr. Luciano, dia merasa nyaman. Bahkan, dia merasa asyik jika bersamanya ketimbang bersama sahabatnya, Yuxian. Entah karena dia sudah mengetahui tentang perasaan Yuxian sehingga dia merasa sedikit canggung.
"Kau mau ke mana?" tanya Dr. Luciano.
"Dr. Tampan, boleh enggak malam ini saja aku menginap di rumahmu?" Melissa mengedip-ngedipkan matanya membujuk Dr. Luciano.
"Boleh saja, tapi ... bukankah malam ini mantan suamimu akan bermalam di sini, bersamamu?" Dr. Luciano memasang wajah yang bingung. Lagi-lagi dia selalu dibuat kebingungan dengan tingkah Melissa.
"Gila kali aku, jika aku bermalam dengannya. Dr. Luci ngawur ya, mana mau aku bermalam dengan mantan suamiku yang paling aku benci." Melissa bergidik mendengar ucapan Dr. Luci.
"Lah terus ... untuk apa kau bilang jika kau mau Danny bermalam bersamamu di depan semua orang?" tanya Dr. Luci yang semakin bingung.
Melissa menepuk jidatnya sendiri. "Astaga, kau ini polos sekali." Melissa tertawa seraya memegangi perutnya.
"Kenapa tertawa, apakah perkataanku terdengar konyol?" tanya Dr. Luci.
"Begini ya, Dr. Tampan yang polos ... tujuan aku mengatakan itu di hadapan semua orang itu untuk melukai hati Yobelia. Aku ingin dia merasakan apa yang pernah aku rasakan saat mengetahui suamiku tidur bersama wanita lain dan berstatus janda. Nah, aku ingin dia mengalami hal yang sama, anggap saja ini karma untuknya. Tapi, aku tidak akan melakukan hal menjijikan seperti yang dia lakukan. Aku hanya menyuruh Danny bermalam di sini untuk melakukan pekerjaan rumah saja. Itulah kenapa aku meminta bantuan Dr. Luci untuk mengizinkan aku menginap di rumahmu. Bagaimana?" jelas Melissa seraya menatap lekat Dr. Luci.
"Aku pasti membantumu, Mel. Kau boleh menginap kapanpun, anggap saja rumahmu sendiri. Tapi, apa yang membuatmu begitu percaya padaku sehingga mau menginap di rumahku? Bagaimana jika aku melakukan kesalahan padamu?" celetuk Dr. Luci.
"Aku sangat mempercayaimu, aku percaya jika kau adalah pria yang baik. Apalagi kau seorang Dokter. Kau tidak akan melakukan itu. Tapi, jika itu sampai terjadi maka aku akan meminta pertanggungjawabanmu untuk menikahiku dan meminta mahar yang sangat besar," canda Melissa dengan menaik-turunkan alisnya.
"Kalau begitu, aku akan melakukan itu agar aku bisa menikahi wanita secantik dan secerdas dirimu," kekeh Dr. Luci. Dia membalas candaan Melissa.
BERSAMBUNG......
__ADS_1