Menjadi Janda Karena Janda

Menjadi Janda Karena Janda
Rumah Siapa ini, Mas?


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Melissa yang begitu tulus, Luciano langsung memeluk istrinya dengan erat. Dia tidak menyangka jika istrinya akan menerima dirinya apa adanya. Pria Italia ini pun mengelus lembut rambut Melissa dengan lembut.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena Mel sudah mau terima aku apa adanya." Luciano semakin erat memeluk istrinya.


"Iya, Mas. Sudah, jangan mengingat masa lalu kelam Mas. Ayo kita fokus ke masa depan. Aku tidak akan mempermasalahkan masa lalumu, Mas. Aku menyayangimu, Mas Luci." Melissa membalas pelukan suaminya.


Tak lama kemudian, Luciano melepaskan pelukannya. Perlahan dia menatap istrinya dengan lekat. Begitupun dengan Melissa, dia membalas tatapan lekat suaminya. Kemudian tangan Luciano memegang tengkuk Melissa sembari mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya.


Tak membutuhkan waktu lebih lama lagi, kini bibir Luciano sudah menyentuh bibir Melissa. Kemudian ciuman pun terjadi, keduanya saling membalas permainan lidah dan bibir mereka sampai sesekali mereka saling menghisap bibir bawah dan atas mereka.


Setelah puas bermain bibir, mereka pun perlahan mulai melucuti pakaian mereka satu persatu. Sebelum memulai kewajibannya sebagai suami dan istri mereka mematikan lampu utama dengan lampu tidur. Barulah mereka memulai olahraga malam pertamanya itu.


****


Pagi hari ....


Sinar mentari yang terpancar dari pantulan kaca jendela menyinari wajah tampan Luciano yang masih tertidur pulas sembari memeluk erat istrinya. Kemudian dia mulai membuka matanya. Pria Italia ini tersenyum begitu menatap wanita yang dia cintai yaitu istrinya sendiri sekarang tidur bersamanya di ranjang yang sama.


Luciano memandang teduh istrinya sembari mengelus lembut wajahnya. Kemudian dia mengecup kening Melissa dengan durasi yang lama. Setelah itu, pria Italia ini pun bangun dan menyelimuti tubuh polos istrinya. Yup mereka berdua benar-benar polos karena setelah olahraga semalaman sehingga mereka hanya ditutup selimut tebal saja.


Luciano memakai celananya dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Dia berendam sejenak di bathup. Selesai bersih-bersih, pria Italia ini pun memakai handuk dan keluar dari kamar mandi. Dia memakai pakaiannya lengkap dan berjalan ke arah gordyn.


Luciano membuka gordyn itu. Kemudian dia berjalan ke arah ranjang di mana istrinya masih terlelap dalam mimpinya. Pria Italia ini meletakkan telapak tangannya tepat di depan wajah Melissa agar sinar mentari tidak menyinari wajah istrinya itu. Luciano kembali memandang wajah Melissa yang terlihat tampak kelelahan itu.


Tak lama kemudian, setelah beberapa menit Melissa pun perlahan mulai membuka matanya. Dia bangun dari tidurnya dan menatap ke arah suaminya. Wanita yang berstatus istrinya Luciano pun memberikan senyuman pada suaminya.


"Mas sudah bangun, kenapa enggak bangunin aku?" tanya Melissa.

__ADS_1


"Aku tidak tega jika harus bangunin kami, Sayang. Aku lebih suka memandangmu dalam keadaan tidur. Kau benar-benar sangat cantik," jawab Luciano sembari mengelus lembut wajah istrinya.


"Mas bisa aja. Masih pagi udah ngegombal aja," kekeh Melissa. Dia duduk dengan selimut yang dia tarik untuk menutupi badannya yang polos.


"Aku tidak gombal, Sayang. Aku hanya mengatakan sesuai fakta saja. Sekarang Mel siap-siap ya, kita sarapan di Buffet." Luciano tersenyum.


"Iya, Mas. Aku mandi dulu ya," ucap Melissa seraya beranjak dari ranjangnya.


"Iya, buruan ya. Setelah sarapan aku ingin mengajakmu suatu tempat yang akan membuat kita berdua merasa nyaman," jelas Luciano.


"Okay, Mas. Aku mandi dulu bentar." Melissa berlari kecil menuju kamar mandi.


Sambil menunggu istrinya selesai mandi, dia pun mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Setelah sarapan dia akan pulang ke kediamannya bersama istrinya itu. Selang beberapa menit kemudian, Melissa keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar menutupi tubuhnya yang polos. Dengan handuk yang panjangnya di atas lutut, dia berjalan ke arah koper untuk mengambil serta memakai pakaiannya.


Begitu Melissa selesai memakai pakaian, tatapannya pun tertuju pada koper suaminya yang sudah rapi dan siap untuk pulang. "Loh, Mas ... kok barang-barang Mas sudah dimasukin ke koper? Apa kita akan pulang sekarang?" tanya Melissa sembari berjalan ke meja rias.


"Oh iya, Mas mau mengajakku ke tempat apa sampai Mas mau bilang itu tempat ternyaman untuk kita?" tanya Melissa dengan merias wajahnya.


"Nanti Mel tahu sendiri, sekarang kita sarapan dulu ya. Setelah itu barulah kita ke tempat yang aku maksud."


"Mas bikin aku penasaran aja," timpal Melissa seraya menyisir rambutnya.


"Ya 'kan namanya juga surprise. Masa iya aku kasih tahu tempatnya. Bukan surprise lagi dong namanya jika aku beri tahu di awal," ucap Luciano.


"Aduh, jadi semakin penasaran nih. Tempat apa ya kira-kira." Melissa menatap Luciano dari pantulan cermin.


"Kalau penasaran, makanya ayo kita pergi sekarang,"

__ADS_1


"Iya, Mas. Ayo, aku udah selesai ini. Oh iya, kopernya mau di bawa sekarang apa tinggal di sini dulu?" tanya Melissa.


"Tinggal saja, nanti setelah kita mau pulang baru kita bawa kopernya. Lagi pula kita 'kan mau pergi jalan-jalan, masa iya harus bawa-bawa koper," ujar Luciano.


"Ya udah, ayo kita sarapan dulu." Melissa menggandeng tangan suaminya menuju keluar kamarnya.


****


Basement ....


Beberapa saat kemudian, setelah sarapan pagi, mereka pun pergi ke basement untuk mengambil mobil Luciano. Begitu sampai di depan mobilnya, Luciano segera menekankan tombol remot mobilnya sehingga secara otomatis kedua pintu mobil pun terbuka. Melihat kedua pintunya telah terbuka, mereka pun masuk secara bersamaan dari pintu yang berbeda.


Setelah pintu mobil tertutup, mereka memakai seat belt. Luciano segera melajukan mobilnya meninggalkan basement. Kini kecepatan mobilnya masih normal. Sesekali Melissa menatap ke arah suaminya yang tengah fokus menyetir.


Sejujurnya dia ingin sekali bertanya mengenai tempat yang akan mereka datangi. Namun, dia sudah menduga jika suaminya tidak akan memberi tahunya mengenai tempat itu. Sehingga dia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya mengenai tempat itu.


Melissa hanya bermain ponsel sampai mereka sampai di tempat yang suaminya maksud. Setelah kurang lebih 27 menit mereka lalui, mereka pun sampai di salah satu perumahan elite. Mobil Luciano berhenti tepat di depan rumah mewah dengan gerbang yang sangat tinggi. Tak lama kemudian, seorang security membukakan gerbang itu.


Melissa sedikit heran kenapa Luciano membawanya ke rumah itu. Rumah siapakah itu? Mungkinkah itu rumah orang tua Luciano? Sehingga Luciano menyuruhnya untuk keluar dari mobil dan memasuki rumah itu.


"Mas, ini rumah siapa? Dan kenapa Mas mengajakku kemari?" tanya Melissa dengan wajah yang bertanya-tanya.


"Udah, masuk aja dulu. Setelah masuk, kau akan mengetahui tentang rumah siapakah ini. Ayo, kita masuk dulu," ajak Luciano sembari memegang tangan istrinya dan membawanya masuk.


Melissa pun hanya mengangguk sembari tersenyum. Dia tidak banyak bertanya lagi, dia mengikuti perkataan suaminya dengan masuk ke rumah itu.


****

__ADS_1


__ADS_2