
Dulu orang tua Aldo bekerja sebagai seorang petani yang memiliki sawah cukup luas, sekitar 1 hektar tanah. Mereka mendapatkan penghasilan cukup banyak dari sawah tersebut.
Tapi seiring berjalannya jaman, hasil panen mereka tidak lagi berharga karena pemerintah lebih memilih untuk mengimpor beras dari luar daerah.
Untungnya Aldo mengirimkan mereka uang yang cukup banyak setelah sukses menjadi aktor, jadi mereka bisa mengubah lahan pertanian mereka menjadi pabrik yang membuat tahu dan tempe.
Pabrik yang mereka bangun cukup besar dan sudah memiliki banyak pekerja, mereka juga mendapatkan penghasilan yang cukup banyak dari sana.
Namun baru berjalan beberapa sebentar, suatu masalah yang cukup besar tiba-tiba menimpa bisnis mereka. Yaitu, seorang pengusaha besar ingin menggusur bisnis pabrik mereka untuk mendirikan gedung tinggi di tempat itu.
Pengusaha itu sudah membeli tanah di sekitaran pabrik milik orang tua Aldo, dan sisanya hanya tinggal mendapatkan tanah milik orang tua Aldo agar ia bisa langsung mulai membangun gedung.
Tentu saja pasangan tua tersebut tidak menyetujui hal itu dan tetap ingin mempertahankan bisnis mereka yang baru berdiri tidak lama itu.
"Mereka terus mendorong ayah dan ibu agar mau menjual tanahnya dengan banyak tawaran seperti menaikan harga, tapi ayah dan ibu selalu menolaknya." jelas Anita tampak sedih.
"Bukankah bagus kalau ayah dan ibu mempertahankan hak milik mereka, tapi kenapa kau terlihat sedih?" tanya Aldo.
Anita mengusap matanya pelan lalu berkata, "Itu karena mereka mulai menggunakan cara kasar untuk memaksa ayah dan ibu, mereka pernah menggunakan pereman untuk mengacaukan pabrik mereka dan melukai para pekerjanya sehingga tidak ada lagi yang mau bekerja disana..."
Mendengar itu Aldo menjadi sangat marah, ia menggertakkan giginya erat-erat lalu bertanya dengan lirih, "Siapa nam penguasa itu?"
"Dia adalah Leyton."
Jawaban Anita membuat Aldo dan Novita sedikit tertegun karena tentu saja mereka mengetahui orang yang bernama Leyton itu, setidaknya mereka ingat dengan pria itu.
"Aldo, kau masih ingat?"
"Tentu, aku tidak akan pernah melupakan anak itu..." jawab Aldo, ia mulai mengingat hubungannya yang sangat buruk dengan Leyton.
Mereka telah bermusuhan semenjak duduk di bangku SMA karena sikap mereka berdua yang memang saling berlawanan. Leyton adalah anak dari kepala sekolah yang memiliki kekuasaan di sekolahnya, oleh karena itu dia berlagak seperti seorang bos.
Dia gemar memerintah orang-orang untuk melayaninya dengan membelikan beberapa makanan untuk dirinya dan gengnya, tidak ada yang berani melawan mereka kecuali Aldo yang nekat memberi mereka makanan basi.
Dari sanalah keduanya mulai saling bermusuhan, Leyton selalu mencari cara untuk memberi Aldo pelajaran namun Aldo selalu berhasil lolos dari kejaran Leyton beserta gengnya yang berjumlah lebih dari 10 orang itu.
Bagaimanapun, dulu Aldo hanyalah anak biasa yang tidak memiliki keahlian dalam bertarung, jadi dia memilih untuk melarikan diri ketiga geng Leyton ingin mengeroyoknya.
Tapi Aldo tidak takut jika harus melawan Leyton jika dia sendirian karena anak itu memang sangat cengeng dan akan menangis bahkan sebelum Aldo memukulnya, dia hanya bisa memanfaatkan bawahannya untuk melawan Aldo.
__ADS_1
10 tahun telah berlalu dan siapa sangka anak nakal itu bisa menjadi seorang pengusaha besar, pengusaha besar yang jahat.
Tidak peduli siapapun dia, jika dia berani mengancam keselamatan keluargaku maka ia harus mendapatkan akibat yang setimpal - batin Aldo tersenyum keji.
"Kau bisa tenang, Anita. Kakakmu ini pasti akan memberikan keadilan bagi keluarga kita dan memberikan pengusaha jahat itu pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan dalam hidupnya." kata Aldo sambil mengusap rambut adiknya.
"Eh? T- tapi dia itu pengusaha yang punya banyak kekuasaan dan bodyguard, hampir 50% ekonomi di kampung ini adalah miliknya. Kakak tidak akan bisa melawannya." ucap Anita khawatir.
Aldo berdiri dari sofa dan menunjukkan wajah yang penuh keyakinan dan percaya diri tinggi.
"Dia sudah mengganggu bisnis keluarga kita, itu artinya dia sudah siap untuk berperang. Akan aku rebut 50% kekuasaannya, tidak, aku akan merebut seluruh kekuasaannya dan membuatnya pergi meninggalkan Surabaya untuk selama-lamanya!"
Anita terkesima dengan matanya yang berbinar-binar cerah penuh kekaguman melihat keteguhan hati Aldo, entah kenapa ia merasa yakin jika bisa menggulingkan kekuasaan Leyton dengan mudah.
Bertepatan dengan itu, pintu rumah kembali diketuk dan suara ibu Aldo yang telah kembali dari pabriknya terdengar di luar sana.
"Sebentar bu!" balas Anita terburu-buru membukakan pintu untuk ibunya.
"Aku tebak ibu akan sangat senang melihat siapa yang datang."
"Oh benarkah? Memangnya siapa yang datang?"
Anita berbincang riang dengan ibunya sambil berjalan memasuki ruang tamu, seketika ibunya tertegun melihat Aldo dan Novita ketika sudah sampai di ruang tamu.
"Sudah lama kau tidak pulang, nak ... kami sangat merindukanmu..." ucap ibunya lirih, ia kemudian menoleh ke arah Novita lalu tersenyum lembut, "Novita, ibu juga merindukanmu..."
Novita sedikit tertegun karena dia sudah siap untuk menjawab pertanyaan 'kau siapa?' seperti yang diutarakan oleh Casey dan Anita, namun wanita tua itu langsung mengenalinya hanya dengan sekali pandang.
"Ya, aku juga merindukanmu bu..." balas Novita sambil tersenyum lembut.
Nama ibu Aldo adalah Sitti, sementara ayah Aldo bernama Sartono. Yang membuat Aldo kebingungan adalah ibunya pulang sendirian tanpa bersama ayahnya.
"Bu, ayah kemana?" tanya Aldo.
Seperti halnya Anita yang menunjukkan ekspresi sedih ketika Aldo menanyai tentang pekerjaan orang tuanya, Bu Sitti juga menunjukkan hal yang sama.
"Bu, ada terjadi masalah di tempat kerja?" tanya Aldo sekali lagi kini jauh lebih khawatir.
Bu Sitti menguatkan dirinya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Aldo dan yang lainnya.
__ADS_1
"Pengusaha kejam itu kembali mengirim pereman untuk mengacaukan pabrik kita, membuat beberapa mesin pabrik dan bahan pangan rusak parah. Selain itu beberapa pekerja yang masih tetap bekerja juga terluka termasuk ayahmu." ungkap Bu Sitti.
Aldo, Anita, dan Novita dibuat terkejut dengan apa yang Bu Sitti ungkapan.
"Lalu, dimana ayah sekarang bu?"
"Tenanglah nak, ayah sudah dilarikan ke rumah sakit bersama pekerja lainnya."
"Ini sangat aneh ... kenapa tidak ada polisi yang menghentikan mereka padahal ini adalah penyerangan kedua mereka." tanya Anita tampak sedikit jengkel.
"Tentu saja mereka telah disuap, memangnya apa yang kau harapkan dari sekumpulan badut berseragam itu? Kita tidak bisa mengandalkan polisi atau pemerintah untuk melawan mereka, kita harus melawan mereka sendiri!" jawab Aldo benar-benar marah.
"Apa maksudmu, Aldo? Kau ingin melawan mereka?" tanya Ibu Aldo sangat terkejut.
"Bu, mereka telah melukai ayah, mana mungkin aku tinggal diam."
Aldo menyesal telah meninggalkan keluarganya sehingga mereka menjadi mudah tertindas oleh orang-orang yang lebih berkuasa seperti Leyton.
"Kau punya rencana, Aldo?" tanya Novita, ia sudah pernah melihat keterampilan Aldo dalam melawan Laura, jadi dia percaya dengan Aldo yang bisa melawan musuhnya.
"Akan aku persiapkan rencana perlawanan, untuk sekarang lebih baik kita menjenguk ayah dulu. Siapa tahu aku bisa membantu."
Tak berselang lama, suara yang sangat Aldo rindukan akhirnya kembali terdengar di benaknya.
----------𝔐𝔦𝔰𝔰𝔦𝔬𝔫----------
[Misi Pembalasan]
> Balas dendam terhadap pereman yang membuat kekacauan di pabrik
> Mengalahkan dan merebut kekuasaan Leyton
Waktu: 1 Minggu.
[Hadiah]
1 juta Poin System
1 juta Poin Kemampuan
__ADS_1
+20 Kharisma
----------𝔐𝔦𝔰𝔰𝔦𝔬𝔫----------