
Keesokan harinya Aldo dan Ashlee ingin melanjutkan perjalanannya menuju ibukota seperti yang mereka lakukan kemarin, namun terkendala karena kesalahan Aldo membuat taksi yang mereka tumpangi mogok.
Sekarang mereka sudah dalam kondisi terbaik mereka masing-masing setelah beristirahat cukup lama semalam tadi dan siap untuk berangkat.
Semua barang bawaan sudah disiapkan, mereka bersiap untuk pergi dan memesan taksi lain setelah melakukan cek out di hotel. Namun seorang pria berpenampilan jas rapi memasuki hotel dan tiba-tiba mencegah kepergian Aldo.
"Ada yang bisa saya bantu?" Aldo bertanya sambil mengernyitkan dahinya kebingungan dengan tindakan pria di hadapannya itu.
Pria itu tampak tegas namun berparas tampan di usianya yang kira-kira sudah menyentuh usia 30an.
"Bisa kita bicara di tempat yang lebih bagus?" tanya pria itu melirik para tamu yang sedang memperhatikan mereka bertiga.
Aldo tentu mengerti dan mengisyaratkan pria itu untuk mengikutinya ke tempat yang lebih sepi, tepatnya mereka berada di ruangan khusus yang biasa orang-orang sewa untuk melakukan pertemuan bisnis.
Layaknya tempat bisnis disana terdapat meja dan kursi persegi panjang, pria yang mengikuti Aldo itu tanpa basa-basi langsung duduk di kursinya dan mempersilahkan Aldo dan Ashlee untuk duduk juga.
"Sekarang bisa kau katakan apa tujuanmu menemuiku, lagipula kita tidak saling mengenal dan seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk bertemu."
"Tentu saja ada alasan kenapa kita harus bertemu."
Pria itu menumpukan kedua telapak tangannya dan menatap Aldo dan Ashlee secara bergantian yang entah kenapa membuat Ashlee sedikit risih.
Aldo menggenggam tangan Ashlee erat-erat untuk menenangkannya, itu sukses membuat Ashlee merasakan rasa aman ketika berada di dekat Aldo.
Pria itu tersenyum, "Sebelum itu perkenalkan namaku adalah Steven, seorang kepala kepolisian di kota ini. Tujuanku menemui kalian berdua tidak lain adalah karena adanya pembunuhan kemarin petang pukul 06 : 15."
Mendengar perkataan pria bernama Steven di hadapannya, Aldo sedikit terkesiap dibuatnya namun masih berusaha untuk bersikap tenang.
"Lalu apa hubungannya dengan kita?" tanyanya.
"Tidak usah berpura-pura lagi karena semuanya sudah terungkap berkat CCTV yang terpasang tidak jauh dari lokasi kejadian. Walaupun itu tidak merekam pembunuhannya secara langsung namun sudah terbukti jika pelakunya antara kalian berdua."
Mendengar itu Aldo rasa sudah tidak ada gunanya berpura-pura tidak terlibat dalam pembunuhan kemarin.
"Jadi kau ingin menangkapku?" tanya Aldo menggepalkan tangannya erat-erat, ia siap untuk mengambil resiko asalkan berita itu tidak bocor ke publik dan menghancurkan karirnya.
__ADS_1
Steven tersenyum santai, "Tidak perlu terlalu waspada. Mungkin jika itu pembunuhan terhadap warga sipil maka kau akan mendapatkan hukuman yang sangat berat, tapi mengingat yang terbunuh adalah anggota kriminal terbesar maka justru kami harus menyambutmu dengan baik. Oleh karena itu aku datang sendirian ke tempat ini tanpa senjata sama sekali."
Steven mengangkat kedua tangannya, menunjukkan jika dirinya datang tidak membawa ancaman.
Rupanya apa yang dikatakan Ashlee benar, Aldo tidak akan mendapatkan masalah apapun karena membunuh satu orang kriminal.
"Jadi kau ingin aku bergabung dengan kepolisian untuk mengurus kelompok kriminal itu?" ungkap Aldo menebak tujuan Steven.
"Tepat sekali. Tapi tentunya kau tidak akan bergabung secara percuma, sebaliknya kau akan mendapatkan banyak keistimewaan dan kebebasan di negara ini khususnya dalam urusan kemiliteran." ujar Steven.
Aldo sedikit merenungkan keputusan yang akan diambilnya.
Lagipula ini sejalan dengan misiku memberantas kelompok mafia El Causse - pikir Aldo lalu menyetujui ajakan Steven untuk bergabung dengan kemiliteran.
"Aku setuju dengan syarat aku akan memiliki status sama sepertimu di kemiliteran, yaitu sebagai kepala kemiliteran yang mengatur segalanya."
"Tidak masalah. Kalau begitu kita sudah sepakat sampai disini!"
Steven mengulurkan tangannya dan berjabatan tangan bersama dengan Aldo, pertanda perjanjian diantara kedua belah pihak telah disetujui.
Steven senang Aldo mau bergabung dengannya mengingat kelompok El Causse yang sudah sangat meresahkan masyarakat selama bertahun-tahun ini.
Penyebab orang itu mati adalah karena tulang punggungnya yang patah bersamaan dengan organ dalamnya yang hancur seperti hati dan ginjal.
Mustahil seseorang bisa terbunuh hanya dengan pukulan semata, namun itu tidak menjamin jika Aldo tidak bisa melakukannya karena pria di hadapan Steven itu sangat misterius...
Aldo dan Ashlee kembali melanjutkan perjalanan dengan yang diantar oleh Steven karena tujuan mereka sama yaitu ibukota Prancis, disana adalah letak markas utama kepolisian Prancis.
Di tengah perjalanan Aldo bertanya, "Ngomong-ngomong apa kelompok mafia di negara ini hanya El Causse?"
"Sebenarnya dulu ada banyak kelompok mafia yang berkeliaran di negara ini, mereka hanyalah kriminal kecil-kecilan yang tidak berguna sama sekali. Namun semenjak terbentuknya El Causse mereka semua di babas habis..." jawab Steven dengan berat hati menceritakan masalah negaranya dengan orang luar.
"Dan untuk sekarang hanya ada dua kelompok mafia yang tersisa, yaitu El Causse dan Insigne, kedua kelompok itu memiliki kekuatan yang sangat besar dan selalu bermusuhan." imbuh Steven.
"Tapi sepertinya kau hanya memprioritaskan kelompok El Causse sebagai buronan, tidak dengan kelompok Insigne."
__ADS_1
Steven tersenyum sambil menatap Aldo sementara tangannya masih mengemudi santai, "Biar kuberitahu sesuatu yang menarik. Pendiri kelompok Insigne, Devon adalah adikku..."
Aldo mengernyitkan keningnya, tentu saja pernyataan yang dilontarkan Steven sangat tidak masuk akal.
Sepasang saudara yang menjalin hubungan darah memiliki jalan hidup yang sangat terbalik, Steven sebagai sang penegak hukum sementara adiknya, Devon kejahatan itu sendiri.
"Mungkin itu terdengar aneh, tapi itulah kenyataannya ... kami memiliki jalan kami sendiri untuk balas dendam..." imbuh Steven tanpa menatap Aldo.
Pandangannya lurus ke dengan dengan sedikit senyuman tipis, tapi Aldo bisa merasakan jika pria itu sebenarnya sangat sedih bercampur marah dalam hatinya. Dia hanya berpura-pura tegar di hadapan Aldo.
Tidak ada yang bisa menipu mata seorang aktor profesional seperti Aldo, apalagi itu soal kepura-puraan....
...
...
...
Tidak sampai setengah hari perjalanan, Aldo dan Ashlee akhirnya sampai di tempat tujuan mereka yaitu hotel tempat timnya menginap selama melakukan syuting film.
Di luar hotel, Aldo menjumpai Joey dan Leon yang kebetulan sedang keluar dari hotel untuk berlibur. Itu terlihat jelas dari pakaian pantai yang mereka kenakan lengkap dengan kacamata renang.
"Oh, Aldo. Kau tidak ingin liburan bersama kami?!" sapa Leon antusias seperti biasanya.
"Tidak." tolak Aldo singkat dan tanpa basa-basi.
Leon mengernyitkan dahinya ketika melirik Ashlee yang terlihat sangat dekat dengan Aldo, sebuah pikiran kotor mulai bermunculan di otak mesum pria itu.
Leon mendekati Aldo dan berbisik di telinganya, "Aku tahu alasanmu tidak pulang semalaman, tenang saja karena rahasiamu akan aman bersamaku."
Setelah mengatakan itu Leon kemudian pergi menaiki bus bersama Joey tanpa sadar mengabaikan Steven yang berdiri dengan tampang tegasnya.
Aldo menggelengkan kepalanya ringan. Leon orangnya memang seperti itu, mentang-mentang dia berteman dengan Aldo yang memiliki hak khusus di perusahaan, dia bisa melakukan apapun dengan santainya.
Dia ikut dengan tim 3 ini bukan karena pekerjaan melainkan untuk bersenang-senang semata, dari awal kedatangan dia sama sekali belum berkontribusi apapun terhadap tim. Namun Aldo tidak membencinya.
__ADS_1
[Ilustrasi Steven]